SEJARAH MUNCULNYA FILM TELEVISI (FTV)

SEJARAH MUNCULNYA FILM TELEVISI (FTV)

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Televisi merupakan salah satu produk dari media massa yang paling populer diantara media lainnya di mata masyarakat. Kepopuleran dari televisi ini, disebabkan dengan adanya peran penggunaan teknologi canggih dalam proses operasionalisasinya. Keberadaan televisi menjadi sangat berarti dan populer di tengah masyarakat, ketika masyarakat haus akan informasi dan hiburan. Hal ini terjadi, karena media ini dianggap mampu menyatukan dan menyedot perhatian sebagian besar indra manusia, yaitu penyatuan antara indra pendengaran dan indra penglihatan. ”Televisi  dengan bantuan peralatan teknologi sangat canggih, televisi menghadirkan nilai-nilai, makna-makna dalam kehidupan sosial, kebudayaan atau politik” (Yasraf A. Piliang, 2001). Sepertinya keberadaan media televisi menjadikan kita hidup dalam dunia yang sangat kecil, betapa tidak dengan berperannya teknologi canggih seperti satelit komunikasi, kita dapat menghadirkan secara virtual kejadian apapun yang ada di belahan dunia dalam waktu sekejab saja lewat pandangan mata di layar kaca. ”Melalui penyuguhan acara televisi dengan keragaman acaranya itu, segala informasi yang mengalir tersebut akan menimbulkan dampak psikologis perkembangan manusia, sikap dan perilaku bagi siapa saja” (Eva Arifin, 2002). Kenyataan ini menegaskan bahwa apapun produk dari televisi, akan membawa pengaruh pada target sasaran dalam hal ini adalah pemirsa terhadap tayangannya, baik bersifat positif maupun negatif dan efeknya bisa menimpa pada anak-anak, remaja, kaum eksekutif muda maupun orang tua. Kalangan yang dituju pun tak dihiraukan, baik laki-laki maupun perempuan termasuk status ekonomi dari kalangan masyarakat kelas bawah, kelas menengah maupun kelas atas, semua diterjang bagai air yang mengalir ke tempat lebih rendah.

Program acara kategori fiksi dalam bentuk drama semacam sinema elektronik atau disingkat sinetron, sudah tak asing lagi keberadaan program acara ini di hati masyarakat, bahkan sudah menjadi bagian dari wacana publik dalam ruang sosial masyarakat. ”Kenyataan tersebut sebenarnya nenunjukkan bahwa ada realitas soasial media yang memiliki daya tarik luar biasa, sehingga orang rela bertahan selama beberapa jam di depan layar kaca hanya untuk menonton sinetron favoritnya” (Muh. Labib, 2002). Program acara televisi dalam bentuk drama melalui cerita-cerita sinetron yang dihadirkan dengan sentuhan kreatifitas tinggi, baik dari rekonstruksi cerita maupun teknik visualisasinya bukan hanya sekedar sajian menarik di layar kaca, tetapi juga sebagai bahan diskusi oleh para ibu rumah tangga, ibu-ibu kelompok arisan, anggota keluarga, para komunitas tertentu bahkan di kalangan para remaja itu sendiri. Para penggemar tayangan tersebut merasa cemas, jika ketinggalan atau malah tidak menonton lanjutan dari sinetron seri favoritnya. Keberadaan para artis pendukung cerita sinetron dengan model dan gaya penampilannya, tidak jarang sebagai pemicu atas peniruan gaya oleh para remaja, bahkan para ibu-ibu pun ikut meniru gaya artis idolanya mulai dari potongan rambut, baju hingga bentuk lekuk tubuhnya. Betapa dahsyat kekuatan media bisa mengonstruksi realitas sosial masyarakat seolah-olah seperti keadaan realitas sebenarnya, hingga mampu mempengaruhi psikolgi masyarakat untuk bertekuk lutut dan mengikuti apa yang telah ditayangkan melalui siaran televisi tersebut.

Sebuah ”media memiliki kekuatan untuk memindahkan realitas sosial ke dalam pesan media dengan atau setelah diubah citranya, kemudian memindahkannya replika citra ke dalam realitas sosial yang baru di masyarakat” (Burhan Bungin, 2001). Pemahaman ini dapat diterjemahkan dalam sebuah cerita sinetron berseri misalnya sinetron seri ”Misteri Gunung Merapi”, pada awalnya merupakan cerita bales dendam semata dari tokoh yang berseteru. Dikisahkan seorang perempuan bernama Mak lampir yang berperan jahat, ingin rasanya menguasai dunia persilatan dengan ilmu hitam dari kekuatan memuja batara durga dan memerintahkan anak buahnya membuat kekacauan di masyarakat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Karena membuat keresahan di masyarakat itulah, kemudian Kanjeng Sunan kudus diminta oleh Sultan Agung untuk memeranginya, hingga Sunan Kudus memerintahkan muridnya bernama KH. Prayogo yang berperadaban baik dan sakti untuk menumpas sepak terjang dari Mak Lampir bersama anak buahnya itu, hingga pada akhirnya dapat dikalahkan juga oleh KH. Prayogo mengubur di dalam suatu peti dengan dikunci paku emas di dalam sebuah gua.  Beberapa ratus tahun kemudian, Mak Lampir dibangunkan kembali secara tidak sengaja oleh beberapa orang yang kesasar memasuki gua istana Mak Lampir dikuburkan, hingga bisa hidup dan berulah lagi. Cerita tersebut melalui kreatifitas dan imajinasi dari penulis cerita, kemudian dikonstruksi lagi dengan muatan balas dendam Mak Lampir untuk membunuh semua keturunan KH. Prayogo. Melalui tautan cinta segitiga dari seorang putri bernama Farida keturunan dari KH. Prayogo yang diperebutkan oleh Sembara berperan baik dan Mardian berperan jahat murid dari Mak Lampir itu, hingga cerita terus bergulir ke seri berikutnya dengan menceritakan petualangan yang seru. Bagaimana realitas sosial antara tokoh jahat dan tokoh baik berperan dalam suatu cerita tersebut, merupakan realitas media yang bersifat virtual dan secara khayal serta sengaja dikonstruksi oleh para crew produksi film cerita, dan melalui kekuatan media televisi, kemudian dihadirkan kembali ke dalam realitas sosial masyarakat. Ini berarti bahwa cerita itu bukan cerita yang sebenarnya, melainkan cerita citraan yang telah direkonstruksi ulang sehingga dapat menceritakan seolah-olah menyerupai realitas sebenarnya.

Teknologi media televisi dewasa ini telah berkembang sedemikian maju, sehingga mampu menciptakan realitas sosial menyerupai realitas sebenarnya di tengah masyarakat. Hasil ciptaan virtual tersebut menggambarkan hampir tidak ada lagi perbedaan antara kehidupan nyata dan kehidupan yang digambarkan dalam citraan di televisi. Dengan menggunakan berbagai macam efek suara dan gambar sebagai perwujudan dari visualisasi cerita, sehingga hasilnya mendekati suatu kesempurnaan, bahkan hampir menyerupai keadaan realitas sebenarnya. Penyajian program acara sinetron dalam televisi bersifat hanya sekilas, berkisah atau bertutur dalam bingkai berkait antar episode, merupakan bersifat kongkrit dan disajikan  dengan cara dramatis melalui penggunaan makna secara kontras dan menyamaratakan tanda yang saling bertentangan, hingga yang terjadi adalah logika televisi disetarakan dengan hasil perekayasaan sebuah peristiwa tertentu melalui pengemasan antara ucapan dan visual. Dari penyajian inilah dapat dikatakan bahwa televisi sebagai media komunikasi massa melalui penayangan program khususnya sinetron, bahwa televisi melalui program acaranya dianggap telah mampu menunjukkan keberadaanya di tengah masyarakat, hingga sangat diminati dan mampu memuaskan para pemirsanya.

Sejak diizinkan televisi swasta mengudara dan membuat program acara sendiri sebagai muatan dalam penyelenggaraan siaran, maka beberapa stasiun televisi saling berlomba membuat program acara sebaik mungkin termasuk dalam kategori program acara fiksi. Pada dasarnya dalam proses produksi program acara fiksi khususnya dalam bentuk sinetron, kebanyakan pihak stasiun televisi memesan pada perusahaan rumah produksi melalui kontrak kerja sama.  Namun ada juga stasiun televisi yang memproduksi sendiri program acara fiksinya dengan membentuk departemen khusus yang bertugas memproduksi program acara sinetron termasuk sinetron seri. Dari pembuatan dasar cerita, umumnya berfariatif ada drama, misteri, laga, dan komedi bahkan ada yang saling memadukan satu sama lain hingga terbagi dalam 2 kategori paduan diantaranya ”kategori pertama drama keluarga yang mengangkat masalah anggota keluarga, drama komedi situasi mengangkat situasi yang ada disekitar kehidupan dengan menciptakan unsur kelucuan, drama misteri mengangkat masalah misteri atau klenik dengan menciptakan unsur ketegangan dan situasi mencekanm dan kategori kedua adalah drama laga misteri kolosal mengangkat masalah kehidupan dengan pertarungan-pertarungan dalam situasi misteri dengan pemeranan jumlah besar, laga drama mengungkap persoalan kehidupan dengan pertarungan-pertarungan yang settingnya masa kini” ( Muh. Labib, 2002).  Program ini dapat dilihat contohnya seperti sinetron laga misteri kolosal berjudul ”Misteri Gunung Merapi” dan ”Dendam Nyi Pelet” milik stasiun Indosiar. Stasiun RCTI gak mau kalah dalam memproduksi sinetron, dan membuat program tayangan berjudul ”Wiro Sableng”, sedangkan stasiun SCTV mengimbanginya dengan menciptakan program sinetron berjudul ”Jaka Gledek” dan ”Jaka Tingkir”. Memang pada awal tahun 2001, beberapa stasiun televisi mengemas program acara fiksi lebih panjang penayangannya ke sinetron laga misteri kolosal, hal ini disebabkan ketikal awal diproduksinya program acara tersebut mengalami rating tinggi. Karena pengaruh dari efek dan teknik pengambilan gambar dengan pertarungan yang bagus, hasil kreasi para crew produksi dari beberapa rumah produksi yang secara khusus memfokuskan diri mengerjakan film laga seperti Genta Buana Pitaloka, Diwangkara, Herry Topan Intercene Film maka hasil produksinya itu dapat menarik masyarakat.

Pada perjalanan waktu produksi program acara fiksi menggarap juga pada jalur drama keluarga dan tak terduga audien ratingnya naik cukup segnifikan, sehingga masing-masing stasiun televisi saling incar dan mengamati perencanaan program acaranya. Pada kenyataannya mereka saling tiru dalam merebut trend center yang berkembang di tengah masyarakat. ”Karakter penciptaan cerita drama cukup mendasar, yaitu mengangkat persoalan sosial kemasyarakatan melalui pemolesan pencitraan media semata dan juga mengangkat persoalan realitas sebenarnya di masyarakat” (Muh. Labib, 2002). Dari sini dapat digambarkan melalui cerita seperti pada sinetron berjudul ”Tersanjung” dan ”Kehormatan” dari stasiun Indosiar, ”Dewi Fortuna” dan ”Aku Ingin Pulang” milik stasiun SCTV merupakan gambaran cerita drama dengan karakter menjual mimpi-mimpi dan pembesaran konflik secara berlebihan, di mana pada kenyataannya realitas yang dibangun sangat jauh dengan suasana kehidupan di Indonesia. Sementara cerita drama berkarakter kehidupan remaja kekinian, dengan sentuhan warna kehidupan bernuansakan konsumtif dan seks bebas, dapat dilihat pada sinetron berjudul ”Pernikahan Dini” dan ”Sang Pecinta” milik stasiun RCTI. Stasiun Indosiar pun tak mau kalah dan turut menandinginya, dengan menciptakan sinetron berjudul ”Romantika”. Sementara itu cerita drama komedi situasi turut juga meramaikan bursa program acara fiksi, melalui pengemasan pengangkatan kehidupan sosial masyarakat dengan tampilan adegan-adegan lucu, bahkan menimbulkan kekonyolan, hal ini disebabkan dari  kekuatan akting yang khas, melalui sentuhan fisik dan terkadang berbau mistis dapat dilihat pada sinetron Wa… ”Cantiknya” dan ”Boneka Poppy” persebahan dari stasiun SCTV. Sementara sinetron berjudul ”Jin dan Jun”, ”Jimmy oh Jimmy” serta ”Tuyul dan Mbak Yul” merupakan sajian menarik program acara dari stasiun RCTI dalam bersaing merebut hati pemirsa yang haus akan hiburan gratis dan meriah itu. Sebuah cerita drama yang benar-benar ekstrim dan melawan arus, dari situasi pada waktu itu adalah sinetron berjudul ”Si Doel Anak Sekolahan” persebahan dari stasiun RCTI. Sinetron ini cukup memikat para pemirsa hingga meningkatkan posisi ratingnya, hal ini disebabkan cara pengemasan cerita dalam mengangkat tentang kehidupan berorientasi pada realitas sebenarnya, melalui setingan budaya berlogat Betawi ditambah dengan budaya Jawa yang amat kental. Kenyataan ini menggambarkan bahwa, ada para pemirsa yang tidak termakan oleh cerita dengan mengumbar kehidupan mewah semata hasil rekayasa pencitraan dari media, tetapi senang juga dengan penyajian kehidupan nyata dalam realitas sebenarnya, walaupun terlihat langka sekali diproduksi dalam tayangan program acara televisi, namun berhasil juga menciptakan peringkat rating tinggi.

Di saat meningkatnya antusias masyarakat dalam menikmati tayangan program acara sinetron itu, maka stasiun televisi dan rumah produksi merasa kebanjiran terhadap perpanjangan produksi dengan memperbanyak episode penayangan untuk berlangsungnya penyelenggaraan penyiaran dari beberapa stasiun televisi yang ada. Berangkat dari sini, akhirnya rumah produksi merasa tertekan dengan keadaan, baik dari kalangan artis maupun crew produksi. Hal ini  disebabkan padatnya jam syuting pada waktu produksi sinetron tersebut dan akibatnya hasil karya tidak maksimal. Dalam penulisan cerita dan skenario pun, ide-ide yang terlontar tidak terarah, sehingga cerita hanya berputar-putar tanpa arah dan ujung yang pasti. Sementara itu keterbatasan kreatifitas dari sutradara yang mampet dan capeknya kerja para crew  produksi, membuat hasil totonan terlihat monoton, tidak dinamis, penciptaan gambar kurang hidup dan akting para artisnya asal saja, sehingga kualitas tayangan menjadi monoton dan tidak berkarakter dari satu episode ke episode lainnya, hal ini disebabkan padatnya jam kerja yang dilaluinya. ”Dampak dari itu semua menyebabkan opini pada pemirsa sinetron serial panjang terutama pada drama keluarga menjadi dua kelompok”. (Muh. Labib, 2002) Pengertian ini dapat dijelaskan, pada kelompok pemirsa pertama adalah kelompok pemirsa yang memang murni mencari hiburan semata dan mereka tidak memperdulikan lagi apakah ceritanya sudah masuk akal atau tidak. Umumnya mereka adalah pemirsa dari kalangan berpendidikan rendah yang tidak begitu kritis menanggapi kualitas dari totonan tersebut. Sedangkan kelompok pemirsa kedua adalah kelompok pemirsa kritis terhadap sesuatu, mereka tidak hanya sekedar menyaksikan saja tayangan tersebut, akan tetapi juga mengkritisi setiap sinetron yang disaksikannya, bahkan jika dirasa jelek mutunya, maka bukan tidak mungkin akan berpindah saluran ke program acara stasiun televisi lain. Kaum golongan ini umumnya mereka adalah pemirsa dari kalangan berpendidikan tinggi, sehingga logika berpikir berjalan seiring dengan proses penglihatan di layar kaca.

Fenomena terbelahnya opini para pemirsa tayangan program acara sinetron seri, disebabkan adanya kejenuhan dalam mengikuti alur cerita yang bertele-tele tanpa ada arah dan ujung yang pasti. Pada saat yang sama ada keinginan para pemirsa dengan mengusung tema baru yang menyegarkan pikiran, sehingga ingin memunculkan suatu gagasan adanya sinetron lepas atau sinetron yang main sekali tayang selesi tanpa ada seri berikutnya. Gejala-gejala ini ditangkap oleh Leo Sutanto, Direktur Prima Entertainment, ia menangkap peluang itu dan sekaligus merumuskan suatu gagasan untuk menciptakan sinetron sekali tayang selesai yang disebut dengan istilah film televisi atau disingkat FTV. Apa yang digagas oleh Leo Sutanto itu, disambut baik oleh stasiun televisi dan salah satunya adalah stasiun SCTV dengan memberikan slot baru untuk penayangannya dan memberikan izin produksi pembuatan ceritanya. Pihak stasiun SCTV menganggap bahwa gagasan dari Leo Sutanto melahirkan film televisi merupakan terobosan baru dalam produksi program acara televisi khususnya pada program fiksi. Walaupun durasi cerita mengalami perpanjangan, namun cerita yang disajikan tidak menuntut pemotongan dengan kelanjutan cerita berikutnya, sehingga penonton dibuat untuk bertahan menyaksikannya sampai cerita tersebut tamat. Sejak penayangan awal dan proses perjalanan penayangannya, Film Televisi menjadi populer di hati para pemirsa hingga berdampak atas tingginya rating yang diperoleh akan menjadi kunci untuk keberlanjutan penayangan program acara tersebut. Dengan kepopuleran nama program FTV di benak pikiran masyarakat itu, akhirnya brand atau merek FTV menjadi ikon program drama dari SCTV. Ada yang menarik tentang karakter dari FTV dengan sinetron seri. Walaupun sama-sama tergolong program drama, namun ada perbedaan dari keduanya yaitu masalah durasi yang lebih panjang daripada sinetron seri. Pada umumnya sinetron seri mempunyai durasi 30 menit dan 60 menit untuk sekali tayang, sedangkan FTV mempunyai durasi 90 menit sekali tayang, termasuk pengurangan waktu untuk iklannya. Pada sinetron seri, cerita selalu dibuat bersambung sehingga pemirsa kecewa ketika memasuki babak akhir dari tayangan dan gak sabar untuk melihat kelanjutannya. Sedangkan cerita untuk FTV dirancang sekali tayang habis atau tamat, sehingga pemirsa merasa tidak dibebani dengan tayangan selanjutnya.

Program acara FTV memang lebih menjajikan dalam hal menjamin mutu dari tayangan, hal tersebut dikarenakan bahwa proses produksi yang diperlukan agak longgar, sehingga para crew produksi tidak terbebani dengan proses kejar tayang, sebagaimana seperti produksi program acara sinetron seri. Dari sinilah akhirnya stasiun SCTV berani memutuskan untuk memesan beberapa judul cerita pada Prima Entertaiment sebagai stok penayangan sebelum FTV itu diluncurkan ke publik. Secara kualitas dalam penayangan program acara, stasiun SCTV telah  diuntungkan dengan berjalannya suatu sistem quality control yang menjadi standarisasi perusahaan media penyiaran. Pada awalnya pembuatan cerita program acara FTV yang dipelopori oleh SCTV itu, tetap mengacu pada cerita program acara sinetron seri, yaitu mengangkat cerita drama keluarga, terutama dimonopuli dengan kemasan percintaan remaja yang kental. Tema cerita masalah percintaan ini diusung dan hingga kini, tetap bertahan pada masalah tersebut walaupun sudah memesan dan bekerjasama dengan beberapa rumah produksi berbeda misalnya Prima Entertainment, Dharmawangsa Studio X (DSX), Screen Play, Multi Vison Plus, Frame Rate serta yang lainnya. Tema percintaan yang diusung dan dijadikan cerita dengan mempertimbangkan, bahwa target audien adalah kebanyakan remaja, esekutif muda dan orang tua, dan secara fleksibel target pemirsa bisa mencakup seluruhnya dari kalangan menengah ke atas maupun ke bawah, karena semua kelas tidak lepas dari permasalahan masalah percintaan, dan dari sinilah akhirnya ingin mengoptimalkan untuk menggarap romantikannya melalui program tayangan film televisi.

Suatu contoh cerita FTV yang terkenal mengakat drama percintaan adalah produksi dari Production House Dharmawangsa Studio X untuk SCTV seperti cerita ”Kutemukan Cintaku di Wonosobo” seperti ringkasan cerita berikut ini, April (Prisia Nasution), seorang wanita berpendidikan sarjana yang ingin membagi pengetahuannya dengan para petani di Desa Wonosobo, setelah diterima lamaran di lembaga penelitian pertanian di kota tersebut. Pada awalnya keberadaan April seorang wanita remaja dari Jakarta dan datang di kota Wonosobo ini, ditentang dengan Bono seorang pemuda asli daerah tersebut dan kebetulan pendidikannya sarjana. Namun dalam perjalanan cerita, lama kelamaan rupanya mereka berdua saling jatuh cinta. Pada mulanya didahului dengan pertemuan yang terus didramatisir dengan bertengkaran antar keduanya dan diperkeruh dengan pihak ketiga, hingga berakhir pada suatu keputusan untuk menyatukan dua hati mereka yang saling mencintai untuk hidup bersama di kota tersebut. Dikaji dari https://www.video.com/watch/739-kutemukan-cintaku-di-wonosobo diakses pada tanggal 10 Oktober 20016 dengan menganalisis FTV tersebut berjudul “Kutemukan Cintaku di Wonosobo”.

Pada cerita drama berikutnya adalah berjudul “Pulang Malu Gak Pulang Rindu” menceritakan seorang Pandu (Rio Dewanto) dan Pulung (Eko Mulyadi) adalah supir dan kenek truck pada perusahaan di bidang jasa pengiriman barang di wilayah kota Yogyakarta itu adalah milik ayah Rima (Prisia Nasution). Pada awal pertemuan antara Rima sang pemilik perusahaan dan Pandu karyawan supir truck, merasa kesal atas perlakuannya hingga menyebabkan hati Rima merasa jengkel dan belakangan diketahui bahwa dia adalah salah satu karyawannya. Cerita makin menarik ketika Bono mengetahui bahwa Rima itu adalah pemilik perusahaan di mana Pandu bekerja alias bosnya, hingga berdampak pada pemberhentian sementara sebagai karyawan alias dirumahkan. Petualangan dramatis dibangun, menyatukan antara kekesalan dan kerinduan hingga puncaknya yang pada awalnya mereka bertengkar, kini mereka mulai menanam benih-benih percintaan, hingga bisa menyatukan hati untuk saling mencintai. Dikaji dari https://www.video.com/watch/749-pulang-malu-nggak-pulang-rindu diakses pada tanggal 10 Oktober 20016 dengan menganalisis cerita film televisi berjudul “Pulang Malu Gak Pulang Rindu”.

Karya film televisi yang dimotori oleh stasiun SCTV telah banyak mengikat hati para pemirsa, hingga dapat menciptakan audien rating tinggi, dengan demikian berdampak pada para pemasang iklan menjadi mengantri. Dalam perjalanan perancangan konsep pembuatan cerita dari tahun ke tahun bahkan hingga kini, telah bekerja sama dengan beberapa rumah produksi, pembuatan cerita hanya mengungkap permasalahan percintaan di lingkungan keluarga. Cerita yang dibangun mengupas hubungan orang tua, anak dan kerabat terdekat serta koleganya dengan dihiasi kehidupan bernuansa konsumtif hingga secara tidak langsung menebarkan sikap hidup hedonisme pada masyarakat luas. Karya-karya yang dihasilkan dan ditayangkan selama ini, hanyalah suatu produk komoditas dari penerapan kapitalisme global dalam industri media yang mementingkan bagaimana caranya produk itu cepat laku dipasaran dan tanpa peduli lagi dengan misi sosialnya. Realitas media televisi khususnya program acara drama semacam FTV, kini telah memberikan hiburan murah meriah dengan pengeksploitasian percintaan pada masyarakat melalui penggambaran pembuatan alur cerita dan pengembangan  dialog skenarionya, kebanyakan didominasi dengan gaya bahasa populer masa kini. Pengadegan yang tercermin dalam cerita hanyalah mengumbar permasalahan gaya hidup konsumtif dan hedonis dalam mencari, merebut, membuang, memprovokasi, menghasut untuk mendapatkan sesuatu yang namanya cinta sejoli di mata anak muda masa kini. Tayangan televisi melalui programnya telah ”berdampak akibat tayangan tema percintaan remaja pada televisi, bahwa sudah cukup banyak pemuda-pemudi kita yang menganut Gaya Hidup Hedonis yang hanya mementingkan kebahagiaan dan kenikmatan duniawi sehingga tidak peduli lagi pada orang-orang sekitar” (Mega Yuni Aryanti, 2012). Seperti telah diketahui, bahwa banyak peniruan gaya bahasa pada tayangan program drama oleh para penonton dan mereka menginginkan untuk menjadi yang paling keren dari teman-temannya dengan menggunakan Bahasa popular dari tayangan sinetron. Semacam dengan ucapan “alay” yang mewabah dalam pergaulan di kalangan anak muda dan telah menjadi suatu hal biasa dalam pergaulan kehidupan. Mereka menganggap bahwa bahasa “alay” merupakan bentuk kreatifitas yang harus mereka kembangkan untuk mencapai sebuah kepuasan tersendiri di tengah masyarakat, dan hal ini dilakukan untuk mendapatkan pujian dari teman-temannya. “Namun dalam pandangan orang lain yang tidak terbiasa mendengar atau menggunakan bahasa “alay”, hal tersebut malah justru sebaliknya sangat norak dan kampungan. Mereka tidak mau menerima adanya bahasa “alay” itu, karena mereka terganggu dan menganggap bahasa tersebut  adalah bahasa yang sangat sulit untuk dipahamai serta dicerna maknanya” (Maria Tandi Baro, 2015). Dari sini dapat dicerna, bahwa konsep pembuatan cerita dan dialog skenario yang dihadirkan melalui tayangan itu, tidak semua penonton menerima dan menirunya nanti dalam kehidupan sehari-hari, terutama para penonton yang berpikir rasional dalam menyikapi tayangan tersebut. Hasil tayangan populer pada intinya mengandung muatan pesan cenderung minim dengan misi pencerahan hidup pada masyarakat, di mana seharusnya pada setiap program acara melaui tayangan tersebut, diharapkan dapat memberikan rangsangan pemikiran hingga pada akhirnya nanti bisa menimbulkan tumbuhnya moralitas dan intelektualitas masayarakat ke arah yang lebih baik. Pada dasarnya setiap tayangan televisi diharapkan mengandung informasi, pendidikan dan hiburan yang positif hingga dapat mempengaruhi psikologi pemirsa ke arah lebih baik dalam perilaku kehidupan.

Keberadaan film televisi yang amat populer hingga kini tetap diminati oleh sebagian besar masyarakat dan tidak hanya milik stasiun SCTV saja, tetapi sudah ditiru dan diterapkan konsepnya oleh stasiun televisi lain. Peniruan dalam perencanaan program acara televisi merupakan hal yang biasa, karena pada kenyataannya mereka saling incar dan saling tiru terhadap isu terkini yang menjadi trend center di tengah masyarakat, guna merebut hati para pemirsanya. Seharusnya pada perencanaan program acara apapun bentuknya diharapkan tersirat ”Kandungan isi dalam tayangan harus mencerminkan muatan untuk pemanfaatan pembentukan intelektualitas serta mengamalkan nilai-nilai agama, adat dan budaya Indonesia (Dwi Erna, 2015). Pada realitasnya pengeksekusian cerita melalui teknik visualisasi ke dalam bahasa gambar pun terkadang menimbulkan suatu kejanggalan, hingga menimbulkan suatu pertanyaan besar bagi penonton. Sebagai contoh dalam sebuah cerita, seorang direktur pemimpin suatu perusahaan, sering kali divisualisasikan secara minim perannya dalam mengendalikan perusahaan di kantor, tetapi justru hal berhubungan dengan kepentingan cinta dilebih-lebihkan. Illustrasi lain menceritakan keganjilan dalam mengemas gambar, bagaimana mungkin seorang pengusaha makanan kecil semacam kue donat kampung memilki rumah mewah dan bermobil BMW. Kebanyakan peristiwa divisualisasikan pada kegiatan-kegiatan hura-hura, ngerumpi, dugem, jalan-jalan dan acara belanja di plaza atau mall. Sangat jarang ditemui peristiwa yang menceritakan pembelajaran di kampus, misalnya suasana belajar di kelas dengan diselingi perdebatan antar mahasiswa, diskusi antar mahasiswa dalam suatu forum seminar atau kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa lainnya. Para kreator bidang audio visual khususnya sarjana-sarjana film dan televisi yang ada di tengah masyarakat, tidak mampu lagi seperti sebelumnya ketika menjadi mahasiswa mengendalikan idealismenya yang telah dibangun di lingkungan akademis. Sebagian besar para kreator film dan televisi anak negeri ini hanyalah budak-budak frame rate kapitalis di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang dikendlikan oleh para pemegang kekuasaan media beorientasi pada ideologi kapitalisme semata tanpa memperdulikan lagi misi sosialnya. Apakah tema percintaan ini terus bertahan pada perancangan cerita film televisi di masa yang akan datang ?, tunggu artikel berikutnya…!

FTV 4

Program Acara Film Televisi dari stasiun SCTV

 

FTV 3

Program Acara Film Televisi dari stasiun SCTV

 

FTV 2

Program Acara Film Televisi dari stasiun SCTV

 

FTV Trans 4

Program Acara Film Televisi dari stasiun TRANS TV

 

ftv rcti 1

Program Acara Film Televisi dari stasiun RCTI

 

  • Program Acara Film Televisi merupakan terobosan baru dalam merancang program acara televisi khususnya pada program drama atau fiksi. Kehadirannya di tengah masyarakat mendapat sambutan yang positif hingga dapat menaikkan ratingnya, Dampak dari hal tersebut, membuat stasiun televisi lain menirunya***

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

Bungin, Burhan. 2001. Imaji Media Massa : Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta : Jendela.

Dwi Erna Kartika Candra. 2013. Kolonialisasi Media Televisi. Yogyakarta : Buku Litera.

Eva Arifin. 2010. Broadcasting to be Broadcaster. Yogyakarta :  Graha Ilmu.

Muh. Labib. 2002. Potret Sinetron Indonesia : Antara Realitas Virtual dan Realitas Sosial. Jakarta : MU3 Books.

Mega Yuni Aryanti, Hubungan Antara Intensitas Menonton Sinetron Percintaan Remaja Dengan Gaya Hidup Hedonis Siswa SMA Yos Sudarso Cilacap, Jurnal Ilmiah, Fakultas Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 2012

Maria Tandi Baro, Efek Tayangan Ganteng-Ganteng Srigala Dalam Mempengaruhi Gaya Berbicara Remaja Di Kota Samarinda, Jurnal Ilmiah, Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi, Universitas Mulawarman, 2015

Yasraf A. Piliang. 2001. Imaji Media Massa : Konstruksi dan Makna Realitas Sosial Iklan Televisi dalam Masyarakat Kapitalis. Yogyakarta :  Jendela.

https://www.video.com/watch/739-kutemukan-cintaku-di-wonosobo diakses pada tanggal 10 Oktober 20016

https://www.video.com/watch/749-pulang-malu-nggak-pulang-rindu diakses pada tanggal 10 Oktober 20016

 

Posted in TV BROADCASTING | Tagged , | Leave a comment

Leave a Reply