TEKNIK FOTOGRAFI 10 (APLIKASI SPEED "B")

TEKNIK FOTOGRAFI 10 (APLIKASI SPEED “B”)

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Teguh trPada sebagian orang jika kita melakukan pemotretan di luar gedung atau outdoor pada waktu malam hari dengan obyek suasana jalan raya tanpa menggunakan bantuan lampu flash, maka hasilnya tidak akan jadi alias gambarnya gelap. Mengapa pernyataan itu bisa muncul dipermukaan, hal itu disebabkan bahwa keaadaan yang dipotret adalah suasana malam hari yang sedikit dengan pencahayaan, jika dilakukan pemotretan tanpa bantuan cahaya, maka hasilnya tidak akan jadi foto berkualitas baik tetapi hasilnya adalah foto yang gelap. Pernyataan itu ada benarnya dan ada juga salahnya. Kalau dilihat dari sudut pandang benarnya, pemotretan itu dilakukan dengan menggunakan kamera poket yang lupa menyalakan lampu flashnya ataukah menggunakan kamera SLR yang lupa atau memang tidak bisa menggunakan pengaturan cahaya di kamera tersebut tanpa harus menggunakan bantuan lampu flash sebagai sumber pencahayaan yang kurang pada waktu melakukan pemotretan. Kalau dilihat dari sudut pandang salahnya, maka pernyataan tersebut dapat dipatahkan, bahwa suasana keramaian jalan raya atau gedung-gedung yang ada di pinggir jalan pada waktu malam hari itu, sebenarnya bisa dilakukan pemotretan dengan hasil berkualitas baik tanpa harus mempergunakan bantuan lampu flash. Apakah mungkin hal itu bisa dilakukan…?, la…inilah yang akan saya bahas pada topik kali ini.

Suasan jalan raya yang dihiasi keramaian cahaya lampu mobil dan gedung-gedung tinggi dengan lampu penerangan di sebagian deretan tingkatan lantai itu, sebenarnya bisa dilakukan pemotretan, meskipun tidak menggunakan bantuan lampu flash dan hasilnya tanpa mengurangi kualitas gambar yang diharapkan, bahkan lebih realistis dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya dibandingkan dengan hasil pemotretan menggunakan bantuan cahaya lampu flash. Kenyataan ini membuktikan bahwa setiap melakukan pemotretan dengan menggunakan lampu flash, khususnya di malam hari, maka hasilnya akan menciptakan kesan warna yang rata dan pada bagian tepi makin lama memudar dalam kegelapan terutama pada obyek yang jauh tidak terjangkaukan dengan lampu flash. Keadaan akan berbeda, jika melakukan pemotretan obyek pada malam hari tanpa bantuan cahaya lampu flash, tetapi dengan cara mengatur masuknya pencahayaan dengan intensitas tinggi pada kamera. Untuk melakukan hal ini, maka jenis kamera yang digunakan adalah kamera Digital SLR, dengan mempergunakan pengaturan pencahayaan lebih lama pada keceparan “BULB” atau disingkat “B”. Dengan menggunakan kamera Digital SLR, kita bisa berkreasi lebih banyak menciptakan foto gedung-gedung di pinggir jalan dengan nyala lampu seperti keadaan yang sebenarnya. Keramaian jalan dengan cahaya lampu-lampu kendaraan atau penerangan jalan bisa disulap menjadi suatu kumpulan garis berwarna melintasi jalan raya. Kesemuanya itu bisa kita ciptakan dengan berpegangan pada kecepatan “B” sebagai biang kerok dalam menciptakan karya tersebut. Tidak itu saja kelebihannya, permainan sinar lampu berwarna dari sebuah merek perusahaan bisa disulap menjadi goresan garis berwarna warni membentuk suatu pola yang sebelumnya tidak terbayangkan hasilnya. Untuk mengetahui bagaimana kecepatan “B” pada kamera Digital SLR bekerja, berikut ini adalah penjabarannya.

 

A. Pengertiannya

Kecepatan dalam fotografi atau lebih dikenal dengan sebutan Shutter Speed itu, pada prinsipnya menggambarkan kecepatan tirai penutup film untuk membuka dan menutup kembali terhadap masuknya cahaya guna pembakaran sebuah film. Kecepatan disini dapat diartikan lama dan tidaknya cahaya yang masuk dalam lensa guna pembakaran film didasarkan pada hitungan detik sampai seper sekian detik. Kecepatan dilambangkan dengan angka-angka yang menandakan seper sekian detik atas pemakaian angka tersebut, kecuali untuk kecepatan yang menggunakan huruf “B” dihitung dari detik samapi yang diinginkan tergantung lama tekanan dari tombol Sutter Speed. Dalam kasus pemotretan malam hari seperti suasana jalan raya yang telah dijabarkan di atas itu, terlihat bahwa cahaya yang menyelimuti obyek bidikan menunkukkan pada tingkat kekurangan cahaya. Untuk menambahkan cahaya yang masuk lebih banyak lagi dalam proses pembakaran, maka kita memerlukan kecepatan yang berorientasi pada hitungan detik yaitu memakai kecepatan “B” dalam waktu sekitar 15 detik smpai 20 detik tergantung dari kebutuhan yang dikehendaki. Dengan melakukan langkah ini, maka cahaya yang masuk dapat memenuhi standard kenormalan hasil pembakaran film hingga pada akhirnya nanti di dapat hasil yang memuaskan dengan karakter kerealistikan obyek seperti keadaan aslinya.

 

B. Fungsinya

Pengaplikasian Kecepatan “B” dalam fotografi merupakan teknik untuk mendapatkan masuknya pencahayaan melalui lensa kamera dengan jumlah banyak guna pembakaran sebuah film, meskipun tanpa bantuan sinar lampu flash. Penggunaan teknik ini bertujuan untuk menciptakan kesan khusus seperti suasana keramaian kota di malam hari dengan mencerminkan kondisi seperti aslinya. Selai itu teknik ini uga bisa menciptkan karakter yang menarik diantaranya permainan cahaya lampu hingga menciptakan goresan cahaya warna-warni yang menyelimuti obyek atau menciptakan suatu bentuk abstrak. Hasil pemotretan dengan menggunakan teknik seperti ini bisa masuk pada jenis Fotografi Jurnalistik. Fotografi Seni, maupun Fotografi Desain tergantung dari kehendak fotografernya dalam menangkap obyek yang ada disekelilingnya. Banyak karya karya yang menggunakan teknik ini di pamerkan pada suatu galeri khusus atau di majalah-majalah serta di situs-situs internet.

 

C. Kamera yang Digunakan

Kamera yang digunakan dalam melakukan pemotretan lebih mudah menggunakan kamera berteknologi digital, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam proses pengeditan dan pencetakannya. Format kamera yang digunakan tentu lebih mudah menggunakan berformat kecil atau disebut juga dengan kamera 135 mm dan dikenal dengan istilah kamera Single Lens Relex, yang disingkat menjadi Kamera Digital SLR. Penggunaan kamera jenis ini, dikarenakan adanya flesibelitas dalam pergantian lensa serta adanya beberapa pengaturan yang tidak dimiliki oleh kamera jenis lain misalnya kamera poket.

 

D. Proses Penciptaannya

Teknik ini saya berikan pada mahasiswa Universitas Esa Unggul yang mengambil matakuliah Fotografi untuk menciptakan dua kategori yaitu Pemotretan gedung dalam suasana malam hari atau suasana keramaian jalan raya pada waktu malam hari dengan visualisasi garis-garis di jalan raya serta permainan cahaya untuk menciptakan karya abstrak. Dalam implementasinya mereka saya berikan contoh langsung dilapangan, yaitu untuk melakukan pemotretan dengan menggunakan kecepatan “B”. Berikut ini cara-cara yang saya lakukan bersama dengan para mahasiswa melakukan pemotretan dilapangan :

 

a. Pemotretan Gedung di Malam Hari

Untuk mendapatkan hasil pemotretan gedung di malam hari dengan hasil menampilkan keadaan atau suasana yang sebenarnya, berikut ini adalah cara-cra pembuatannya.

  1. Pilih sebuah obyek gedung yang menurut anda menarik dalam penampilannya, bisa tunggal atau beberapa gedung yang saling menyatu. Karena pemotretan dengan suasana malam hari, maka pilih gedung yang beberapa lantai atau kamarnya terlihat menyala. Jangan plih gedung yang sama sekali tidak menyala kamarnya atau lantai-lantainya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan gedung tersebut lebih manarik hasilnya nanti, karena yang akan kita bidik adalah efek cahayanya dari gedung tersebut.
  2. Siapkan Triopd untuk menaruh kamera supaya kamera tidak bergerak pada waktu tombol shutter speed ditekan. Pilih tripod yang kuat berdasarkan ukuran kamera yang menyertainya, agar kamera tetap kokoh terhindar dari guncangan pada waktu melakukan pemotretan. Keadaan ini kita lakukan, karena waktu pemotretan dilakukan dalam hitungan detik bukan mengacu pada ukuran seper sekian detik. Jika kamera tidak ditempatkan pada tripod, maka nantinya obyek akan terlihat goyang dan mencerminkan hasil yang kabur. Tidak ada kemampuan tangan manusia yang mampu menahan kamera tetap kokoh kedudukannya dalam ukuran waktu lebih dari 5 detik.
  3. Siapkan kamera Digital Single Lens Reflex atau Digital SLR dengan merek apa saja yang anda punya. Atur setelan Diafragma (F) dengan bukaan kecil misalnya yang saya gunakan adalah 18, Kecepatan (S) pilih dengan huruf “B” dan ISO pada kepekaan 200. Pilih pengaturan Focus keposisi manual, supaya lebih mudah untuk mengatur focusnya nanti. Setelah selesai mengatur kamera, maka tempatkan pada tripod dengan mengikatnya kuat-kuat pada baut yang telah tersedia.
  4. Pilih tempat pemotretan yang enak dan lega serta posisi tanah dalam keadaan rata. Atur jarak obyek dengan kamera sesuai dengan kebutuhan, sambil memperhitungkan jangkauan lensa kamera terhadap obyek bidikan.
  5. Ambil Angle terbaik dalam frame yang bervariasi mulai dari Medium hingga Full Shot sambil mengatur jarak zoom, dan atur koposisinya antara bidang atas, bawah, kiri dan kanan dalam frame tersebut hingga posisi obyek terlihat menarik.
  6. Ketika anda telah menciptakan bentuk frame yang sesuai, maka atur focus dengan memutar gelang focus ke kiri dan ke kanan hingga ditemukan titik focusnya.
  7. Setelah ditemukan ketepatan titik focus pada obyek tersebut, maka tahapan terakhir tekan dan tahan tombol Shutter Speed… je… je… Jepret…, selama dalam hitungan 15 detik, kemudian lepas tombol shutter speednya, maka dalam hitungan detik karya akan tercipta dengan sendirinya di depan anda sambil melihat ke arah body belakang kamera… dan berteriak… wow…!

 

Berikut ini adalah contoh karya fotografi dengan menggunakan pengaplikasian kecepatan atau speed “B” dari eksperimen yang saya lakukan untuk teknik di atas, dengan menggunakan Kamera Nikon D90.

 

Jakarta Malam 1

 

 

Jakarta Malam 2

 

 

Jakarta Malam 3

 

 

Jakarta Malam 4

 

 

Jakarta Malam 5

 

 

Jakarta Malam 6

* Pemotretan Gedung dengan suasana jalan raya yang ada disekitarnya tampak lebih terlihat realistis keadaannya seperti kedaan sebenarnya berkat pemakaian speed “B” dengan waktu beberapa detik walaupun tidak menggunakan cahaya bantuan lampu flash di dalamnya, hasilnya juga terlihat indah *

 

b. Pemotretan Gedung dan Jalan Raya Pakai Efek Garis

Pada karya berikutnya adalah melakukan pemotretan gedung dengan mengaitkan jalan raya berefekan garis merah dan putih pada karya. Untuk melakukannya berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan.

  1. Pilih sebuah obyek gedung yang menurut anda menarik dalam penampilannya, selain itu posisinya juga berada pada jalan raya yang ramai dengan kendaraan. Karena pemotretan dengan suasana malam hari, maka pilih gedung yang beberapa lantai atau kamarnya terlihat menyala. Jangan pilih gedung yang sama sekali tidak menyala kamarnya atau lantai-lantainya. Untuk keramaian jalan dengan kendaraan itu, sebagai komponen dalam pembuatan garis bercahaya nantinya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menciptakan gedung tersebut lebih manarik hasilnya nanti, karena yang akan kita bidik adalah efek cahayanya dari gedung dan keramaian kendaraan yang lewat di jalan tersebut.
  2. Siapkan Triopd untuk menaruh kamera supaya kamera tidak bergerak pada waktu tombol shutter speed ditekan. Pilih tripod yang kuat berdasarkan ukuran kamera yang menyertainya, agar kamera tetap kokoh terhindar dari guncangan pada waktu melakukan pemotretan. Keadaan ini kita lakukan, karena waktu pemotretan dilakukan dalam hitungan detik bukan mengacu pada ukuran seper sekian detik. Jika kamera tidak ditempatkan pada tripod, maka nantinya obyek akan terlihat goyang dan mencerminkan hasil yang kabur. Tidak ada kemampuan tangan manusia yang mampu menahan kamera tetap kokoh kedudukannya dalam ukuran waktu lebih dari 5 detik.
  3. Siapkan kamera Digital Single Lens Reflex atau Digital SLR dengan merek apa saja yang anda punya. Atur setelan Diafragma (F) dengan bukaan kecil misalnya yang saya gunakan adalah 18, langkah ini dilakukan untuk menciptakan garis berukuran kecil. Kecepatan (S) pilih dengan huruf “B” dan ISO pada kepekaan 200. Pilih pengaturan Focus keposisi manual, supaya lebih mudah untuk mengatur focusnya nanti. Setelah selesai mengatur kamera, maka tempatkan pada tripod dengan mengikatnya kuat-kuat pada baut yang telah tersedia.
  4. Pilih tempat pemotretan yang enak dan lega serta posisi tanah dalam keadaan rata. Atur jarak obyek dengan kamera sesuai dengan kebutuhan, sambil memperhitungkan jangkauan lensa kamera terhadap obyek bidikan.
  5. Ambil Angle terbaik dalam frame Full Shot disertai beberapa sudut pandang dari berbagai posisi sambil mengatur jarak zoom, dan atur koposisinya antara bidang atas, bawah, kiri dan kanan dalam frame tersebut hingga posisi obyek terlihat menarik.
  6. Ketika anda telah menciptakan bentuk frame yang sesuai, maka atur focus dengan memutar gelang focus ke kiri dan ke kanan hingga ditemukan ketepatan titik focusnya.
  7. Setelah ditemukan ketepatan titik focus pada obyek tersebut, maka tahapan terakhir tekan dan tahan tombol Shutter Speed… je… je… Jepret…, selama dalam hitungan 15 detik, kemudian lepas tombol shutter speednya, maka dalam hitungan detik karya akan tercipta dengan sendirinya di depan anda sambil melihat ke arah body belakang kamera… dan berteriak… wow…!

 

Berikut ini adalah contoh karya fotografi dengan menggunakan pengaplikasian kecepatan atau speed “B” dari eksperimen yang saya lakukan untuk teknik di atas, dengan menggunakan Kamera Nikon D90.

 

Jakarta Malam Bergaris 1

 

 

Jakarta Malam Bergaris 2

 

 

Jakarta Malam Bergaris 9

 

 

Jakarta Malam Bergaris 10

 

 

Jakarta Malam Bergaris 4

 

 

Jakarta Malam Bergaris 5

 

 

Jakarta Malam Bergaris 6

* Pemotretan Gedung dengan suasana jalan raya yang ada disekitarnya tampak lebih terlihat realistis keadaannya seperti suasana sebenarnya berkat pemakaian speed “B” dengan waktu beberapa detik walaupun tidak menggunakan cahaya bantuan lampu flash di dalamnya, hasilnya juga terlihat indah. Efek garis-garis berwarna putih merupakan cahaya lampu utama mobil atau motor yang bergerak menuju ke arah kamera, sedangkan garis berwarna merah merupakan lampu sign dari mobil atau motor yang bergerak menjauhi kamera *

 

c.   Memotretan Cahaya Abstrak

Pemotretan berikutnya adalah menciptakan lukisan cahaya abstrak dari sebuah obyek Neon Sign merek sebuah perusahaan. Untuk menciptakan seperti hal tersebut berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan.

  1. Pilih sebuah merek perusahaan apa saja yamg terbuat dari Neon Sign. Jangan pilih merek perusahaan yang terbuat dari Neon Box atau hanya sebuah papan yang diberi lampu penerangan biasa, karena jika obyek tidak berasal dari sinar neon Sign, hasilnya tidak akan jadi seperti yang kita harapkan. Sianr Neon Sign adalah sumber cahaya yang akan kita jadikan sebuah lukisan abstrak, oleh karena itu pilih warnanya yang bayak misalnya terdiri dari 4 warna merah, kuning, hijau dan biru. Jangan memilih warna minim datu atau dua warna saja, hal ini akan menciptakan lukisan abstrak dengan minim warna bahkan monocrme hasilnya.
  2. Siapkan kamera Digital Single Lens Reflex atau Digital SLR dengan merek apa saja yang anda punya. Atur setelan Diafragma (F) dengan bukaan kecil misalnya yang saya gunakan adalah 18, langkah ini dilakukan untuk menciptakan garis berukuran kecil. Kecepatan (S) pilih dengan huruf “B” dan ISO pada kepekaan 200. Pilih pengaturan Focus keposisi manual, supaya lebih mudah untuk mengatur focusnya nanti.
  3. Ambil Angle terbaik dalam frame Full Shot disertai beberapa sudut pandang dari berbagai posisi sambil mengatur jarak zoom, dan atur koposisinya antara bidang atas, bawah, kiri dan kanan dalam frame tersebut hingga posisi obyek berada di tengah.
  4. Ketika anda telah menciptakan bentuk frame yang sesuai, maka atur focus dengan memutar gelang focus ke kiri dan ke kanan hingga ditemukan ketepatan titik focusnya.
  5. Setelah ditemukan ketepatan titik focus pada obyek tersebut, maka tahapan terakhir tekan dan tahan tombol Shutter Speed… je… je… Jepret…, selama dalam hitungan 15 detik, dan goyang-goyangkan kamera secara cepat menyilang dari berbagai penjuru, kemudian lepas tombol shutter speednya, maka dalam hitungan detik karya akan tercipta dengan sendirinya di depan anda sambil melihat ke arah body belakang kamera… dan berteriak… wow…!

 

Berikut ini adalah contoh karya fotografi dengan menggunakan pengaplikasian kecepatan atau speed “B” dari eksperimen yang saya lakukan untuk teknik di atas, dengan menggunakan Kamera Nikon D90.

 

Abstrak Cahaya 1

 

 

Abstrak Cahaya 2

 

 

Abstrak Cahaya 3

 

 

Abstrak Cahaya 4

 

 

Abstrak Cahaya 5

 

 

Abstrak Cahaya 9

 

 

Abstrak Cahaya 7

 

 

Abstrak Cahaya 11

 

 

Abstrak Cahaya 12

 

 

Abstrak Cahaya 10

 

 

Abstrak Cahaya 13

 

 

Abstrak Cahaya 14

* Pemotretan logo perusahaan dengan berbentuk  cahaya Neon Sign, itu bisa disulap menjadi sebuah lukisan abstrak berkat pemakaian speed “B” yang digoyang-goyang dengan segala penjuru dalam waktu beberapa detik, hingga menjadi sebuah karya menarik. Pada proses pembuatannya kita tidak pernah membayangkan bentuk apa jadinya nati *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

Davis, Harold. 2011. Creative Lanscapes : Digital photography Tips & Techniques. Indianapolis, Indiana : Willy Publishing. Inc.

Story, Derrick. 2004. Digital Photography Hacks. Gravenstein Highway North. Sebastopol CA : O’ Reilly Media. Inc.

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sugiarto, Atok. 2006. Cuma Buat yang Ingin Jago Foto. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Hadiiswa. 2008. Fotografi Digital: Membuat Foto Indah dengan Kamera Saku. Jakarta : Mediakita.

Alwi, Audy Mirza. 2004. Fotografi Jurnalistik : Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa. Jakarta : Bumi Askara.

Giwanda, Griand. 2001. Paduan Praktis Belajar Fotografi. Jakarta : Puspa Swara.

Giwanda, Griand. 2002. Paduan Praktis teknik Studio Foto. Jakarta : Puspa Swara.

Mulyanta, Edi. S. 2007. Teknik Modern Fotografi Digital. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Ardiansyah, Yulian. 2005. Tip & Trik Fotografi Teori dan Aplikasi Belajar Fotografi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Feininger, Andreas, Edit : RM. Soelarko. 1999. The Complete Photographer. Segi Teknik Fotografi. Semarang : Dahara Prize.

ARPS, Ray Hayward, Edit : RM. Soelarko. 2002. The Craft of Photography. Semarang : Dahara Prize.

Beberapa situs terkait dengan topik permasalahan dan diinterpretasikan ulang tetapi tidak mengurangi substansi di dalamnya.

Posted in FOTOGRAFI | Tagged , | 4 Comments

Leave a Reply