TEKNIK FOTOGRAFI 3 (KAMERA DAN LENSA)

TEKNIK FOTOGRAFI 3 (KAMERA DAN LENSA)

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Dalam dunia fotografi, sebuah kamera atau pendekatan yang lebih spesifik lagi yaitu tentang Body Kamera dapat diibaratkan sebuah kamar yang gelap, bebas dari cahaya masuk secara sembarangan kecuali satu saluran yang khusus diciptakan untuk masuknya pencahayaan guna pembakaran sebuah film. Karena kamera dalam keadaan bebas dari masuknya cahaya, maka film yang peka dengan cahaya itu, jika  dimasukkan ke dalam kamera tersebut, keberadaan film tidak akan tertembuskan dengan cahaya, terkecuali cahaya yang masuk itu memang disengaja yaitu ketika menekan tombol pembuka kecepatan rana hingga masuknya cahaya ke dalam lensa guna pembakaran sebuah film atau lebih dikenal dengan proses exposure. Ibarat sebuah kamar, pasti ada bagian-bagian tertentu atau peralatan tertentu yang mempunyai fungsi atau kegunaan sendiri-sendiri. Demikian juga dengan kamera, terdiri dari beberapa komponen dimana setiap komponen mempunyai fungsi atau kegunaan masing-masing sesuai dengan struktur mekanis cara kerja sebuah kamera. Dalam operasionalisasinya sebuah kamera dilengkapi dengan lensa sebagai saluran untuk masuknya cahaya ke dalam lensa kemudian tembus ke dalm body kamera hingga menembus film setelah kecepatan rana membuka. Adalah kamera Single Lens Reflex atau lebih dikenal dengan sebutan kamera SLR, merupakan kamera yang  paling popular dalam perjalanan sejarah kamera. Kepopuleran kamera ini disebabkan adanya lensa prisma yang memantulkan obyek ke dalam jendela bidik hingga kedudukan obyek dapat tertangkap oleh mata  sama persis dengan pandanga,  ketika sedang melakukan pemotretan. Selain itu kelebihan lainnya adalah diciptakannya lensa secara terpisah dari body kamera hingga nantinya dapat diganti dengan lensa lain. Dari sistem mekanis lepas-pasang inilah hingga pada akhirnya nanti melahirkan berbagai macam jenis lensa yang pada intinya mempermudah dalam pemotretan juga menghasilkan karakter yang lebih spesifik atau mempunyai ciri tertentu pada setiap lensa yang dipakainya.

Guna mengetahui secara detil bagian-bagian dari kamera, khususnya kamera SLR, berikut ini akan dijelaskan tentang kamera SLR dalam sistem manual. Kamera SLR dengan sistem manual ini merupakan dasar teori yang perlu dipahami, karena pada dasarnya kamera digital juga mengacu pada kamera ini, hanya sistem mekanik yang dirubah menjadi elektrik. Secara lengkap berikut ini adalah gambar dari salah satu diagram kamera dari merek Pentax beserta penjelasannya :

 

1. Diagram Kamera Single Lens Reflex (SLR) 

Berikut ini adalah penjelasan dasar bagian-bagian dari kamera SLR beserta keterangan fungsi-fungsi yang terkait. Dasar dari kamera manual ini pada dasarnya dipakai acuan dalam menciptakan kamera SLR model digital, hanya memperbaiki sistem mekanis menjadi sistem elektrik, namun cara kerjanya tidak jauh berbeda dengan kamera SLR manual sebagai titik dasar pengembangannya.

 

 

Pada gambar diatas, pembahasan dimulai dari posisi bawah menuju ke atas, penjelasannya sebagai berikut :

1. Self Timer Lever 

Suatu alat untuk mengatur pemotretan secara automatis dengan hitungan waktu tertentu, biasanya jarak waktunya 10 detik berjalan ke depan ketika tombol ditekan. Alat ini sangat membantu bagi sipemotret yang ingin diambil gambarnya. Pada penggunaannya kamera juga harus diletakkan pada alat bantu bisa meja, dinding pada tembok atau tripod.

2. Fokus Ring

Berfungsi untuk mengatur focus ketajaman dari obyek disebabkan adanya adanya perbedaan jarak antara obyek dan kamera hingga meninmulkan ruang tajam atau lebih dikenal dengan Depth of Field. Cara pakainya dengan memutar ring kekanan dan keriri dalam mencari ketajaman hingga sampai pada titik focus yang tepat.

3. Distance Scale  

Deretan angka-angka pada skala ukuran jarak pencarian focus dimulai dari jarak terdekat hingga terjauh antara kamera dan obyek yang dipotret.

4. Diaphragm/ Dist. Index

Deretan angka Diafragma dimulai dari angka terkecil (1.3) misalnya dan secara berurut hingga mencapai angka terbesar (22) misalnya, sebagai pegangan dalam mentukan pencahayaan yang tepat.

5. Depth of Field Guide

Deretan angka-angka yang dipakai sebagai paduan dalam mencari ruang tajam dalam pemotretan obyek.

6. Diaphragm Ring

Deretan angka Diafragma dimulai dari angka terkecil (1.3) misalnya dan secara berurutan hingga mencapai angka terbesar (22) misalnya. Cara penggunaannya tinggal memutar ring untuk pemakaian angka diafragma berapa yang ingin digunakan hingga nantinya tepat berada pada garis yang ada di tengah lensa kamera.

7. X Flash terminal   

Tempat untuk menghubungkan kabel dari lampu flash, bila lampu flash tersebut diletakkan terpisah dari kamera (Saluran sikoronisasi kabel flash). keuntungan terlepasnya lampu flash dari badan kamera, bisa menghilangkan bayangan hitam pada obyek yang dipotret.

8. FP Flasterminal    

Tempat untuk menghubungkan koneksi automatis dari lampu flash, bila lampu flash tersebut diletakkan terpisah dari kamera (Saluran sikoronisasi automatis flash). saluran sinyal automatis untuk memancing nyala lampu flash yang diletakkan disekeliingnya.

9. Stop down Lever 

Tombol untuk melepas lensa utama bila ingin menganti dengan lensa laiannya, misalnya lensa zoom, lensa tele dan sebagainya.

10. Film Type Reminder  

Pemilihan model film yang digunakan apakah film warna  atau film hitam putih atau dalam keadaan kosong  sebagai unsur pengingat dari pemakai kamera.

11. Reminder Dial Selec

Pemilihan model pengaturan saat proses exposure apakah menggunakan 4 kali, 3 kali atau dua kali dalam pemotretan disertai dengan nyala indikatornya

12. Film Speed Indictor 

Pemilihan kepekaan film yang digunakan atau menyinkronkan angka kepakaan film atau ASA yang dipakai dalam melakukan pemotretan.

13. Film Rewind Knob/

Tombol pemutar balik film ketika film tersebut telah habis pemakiannya. Untuk melakukan pemutaran ulang film agar kembali lagi ke tempatnya semula, dengan cara menggulung melalui engkolnya. Pada waktu melakukan penggulungan  harus menekan tombol yang posisinya di bawah body kamera.

14. Exposure Fektor Control 

Sebagai indikator terjadinya proses exposure

15. Battery Check Button

Tombol untuk mengecek keberdaan baterai atau tenaga dari kamera

16. X Contect Hot Shoe  

Tempat koneksi lampu flash tanpa kabel yang ditaruh posisisnya di atas kamera. Pemakaian lampu flash pada kategori ini jika pancaran flash tidak dipantulkan, maka akan menghasilkan bayangan hitam disekitar obyek. Pada lampu flash tertentu sudah dilengkapi dengan pilihan sudut pemantul, sehingga pemberian sinar lampu flash tidak langsung pada obyeknya, akan tetapi dipantulkan melalui plafon jika di dalam gedung.

17. Depth of Field Preview

untuk mengethui hasil melalui pembidikan dalam rangka  pencarian ruang tajam pada obyek.

18. Shutter Speed Index    

Penanda khusus atas pemakaian yang dikehendaki pada pemilihan penggunaan deretan angka dari kecepatan rana.

19. Rapid Wind Lever

Pemutaran atas jalannya film yang akan digunakan dari pangkalnya.  Setap kali melakukan pemotretan engkol ini harus digerakkan untuk memutar gulungan film yang akan digunakan.

20. Shutter Speed Dial    

Pemilihan atas penggunaan kecepatan rana dengan cara memutar sambil memposisikan angka kecepatan yang dikehendaki sesuai dengan posisi penanda kecepatan pada kamera.

21. Shutter Release Button

Tombol untuk melakukan pemotretan dengan cara menekannya. Pada ujungnya terdapat lubang untuk menempatkan kabel atau kawat semacam suntikan untuk menekannya. alat ini digunakan jika kecepatan yang dipakai dalam keadaan rendah atau kecepatan (B) untuk menghasilkan gambar dengan karakter tertentu.

22. Shutter Button Lock    

Tombol pengunci dari penekanan Shutter Release, agara tidak dapatditekan.

23. Locked Indicator  

Keadaan posisi pengunci, apakah sedang dalam keadaan terkunci atau tidak.

24. Exposure Counter  

Indikator dari prose terjadiya exposure atau pembakaran film.

25. D.Ring Lug  

Daun pengikat yang menempel di body kamera.

26. D. Ring  

Pengikat kamera, biasanya disambung dengan sebuah tali kamera.

 

 

Pada gambar diatas, pembahasan dimulai dari posisi bawah menuju ke atas, penjelasannya sebagai berikut :

 

27. Film Chamber

Tempat untuk menaruh roll film yang akan digunakan dengan cara memasukannya ke dalam pengunci roll flm tersebut.

28. Film Rewind Crank

Pengunci roll film, dengan cara menariknya ke atas kemudian roll film tersebut dimasukkan ke dalamnya, kemudian setelah film terpasang dengn tepat, maka pengunci tersebut diturunkan.

29. Battery Housing

Tempat untuk meletakkan baterai sebagai tenaga penggerak pengaturan pencahayaan.

30. Tripod Receptacle

Tempat untuk menaruh tripod, yaiu alat penyangga kamera agar kamera tidak bergerak atau mengalami guncangan ketika penggunaan kecepatan rendah.

31. Shutter Curtain

Tirai yang terbuat dari bahan tips dan lemlbut berwarna hitam sebagai penutup film dari masuknya cahaya yang ada di jalur lensa. Tirai ini akan membuka dan menutup kembali dalam kecepatan tertentu  untuk mengtur masuknya pencahayaan buat pembakaran film.

32. Film Rewind Button

Alat untuk menggulung ulang film yang sudah digunakan. Cara pakainya ketika film mau digulung ulang, alat ini harus ditekan selama proses penggulungan film kembali ke tempatnya semula.

33. Sprocket

Tempat untuk mengunci posisi film, yaitu berupa gigi-gigi untuk menggerakkan roll film dari posisinya ketika posisi engkol digerakkan.

34. Film Take Spool  

Tempat penjepit dari ujung roll film, agar film bergerak secara aman ketika dalam proses penggulungan.

35. Film Roller

Alat untuk menahan film agar bergerak lancar dari jalurnya.

36. Film Pressure Plate

Alat untuk melindungi emulsi film dari goresan.

37. Back Cover  

Sebagai penutup belakang kamera agar cahaya tidak dapat masuk ke dalam kamera.

38. Accessory Fitting Groove 

Asesoris untuk melengkai jendela bidik.

39. View Finder Eyepiece

Jendela bidik, alat utuk melihat obyek yang akan dipotret.

40. Film Guide Rails  

Jalur bergeraknya frame film

41. Film Rails

Jalur bergeraknya pengunci film, berupa lubang-lubang kecil di sisi film sebagai pengunci untuk menggerakkan film.

 

2. Jenis Lensa dalam Fotografi

Kamera Single Lens Reflex atau sering disebut dengan kamera SLR, merupakan jenis kamera yang mengalami pengembangan dengan berbagai mcam fasiitas di dalamnya. Kamera ini tergolong kamera yang paling popular keberadaannya di tengah masyarakat, bahkan sampai memasuki teknologi terkinipun kamera SLR ini, masih dikembangkan dalam versi digital. Pengadaan beragamnya jenis lensapun tak luput dari pengembangannya. Beredarnya beberapa jenis lensa yang ada ditengah masyarakat bahkan menjadi andalan dari beberapa fotografer baik professional maupun amatir telah banyak mencoba hadirnya lensa-lensa baru dalam dunia fotografi. Keberadaan lensa-lensa dari berbagai macam jenis itu, pada dasarnya untuk membantu cara pemotretan yang lebih efisen dan praktis dalam membidik obyek sasaran. Keberadaan beberapa lensa bersama spesifikasi serta karakter di dalamnya digunakan untuk menyesuaikan kondisi dari obyek yang akan dipotret sehingga hasil bidikan akan tercipta dengan baik tanpa harus menyusahkan orang yang akan melakukannya. Suatu contoh apabila kita mau memotret peristiwa kebakaran misalnya, orang tidak perlu lagi mendekati obyek tersebut secara dekat…, dipastikan badannya bisa kepanasan … kalau masih menggunakan cara ini, seperti melakukan pemotretan dengan cara mendekat disebabkan masih mengandalkan penggunaan lensa mormal. Kenyataannya akan berbeda posisi pengambilannya jika menggantinya dengan lensa berjenis lensa zoom, maka pemotretan kejadian kebakaran tersebut bisa diakukan dari kejauhan dengan mengatur panjang dan pendeknya jarak zoom tersebut pada obyek bidikan. Demikian juga kalau kita mau memotret benda yang terlau kecil, seekor lalat misalnya, kalau kita menggunakan lensa normal atau lensa standard, maka hasilnya akan terlhat kabur, karena jaraknya tidak direkomendasikan pada lensa standard. Realitas akan berbicara lain, jika lensa diganti dengan lensa makro yang memang diciptakan untuk pemotretan benda-benda kecil. Dari beberapa gambaran diatas, maka keberadaan beberapa jenis lensa dalam kamera fotografi berfungsi untuk mempermudah pengambilan obyek serta menghasilkan gambar yang mempunyai karakter khusus.

Untuk mengetahui jenis-jenis lensa dalam kamera fotografi berikut ini akan diulas lebih dalam tentang lensa-lensa tersebut seperti berikut ini :

 

a. Lensa Standard atau Lensa Normal

Lensa Standard pada kamera fotografi dapat juga disebut dengan Lensa Normal. Lensa jenis ini merupakan lensa bawaan dari kamera standard, ketika kita baru beli kamera. Pada jenis lensa ini panjang fokus berkisar 50 mm oleh karena itu lensa ini dapat digolongkan sebagai lensa normal. Dikatakan lensa normal karena ketika kita membidik obyek dengan menggunakan jenis lensa ini jarak antara pemotret dengan obyeknya terlihat nyata baik melalui jendela bidik atau dengan mata langsung posisi obyek sama jaraknya. Pemakaian pada lensa normal jaraknya tidak boleh terlalu dekat dengan obyek, kalau dipaksakan berakibat hasil foto tidak mendapat ketajaman alias kabur. Oleh karenanya jarak aman dalam melakukan pemotretan adalah sekitar 1 meter dari jarak obyek yang akan dibidik, sehingga untuk mengatur komposisi dari pengambilan gambar yang baik, maka fotografer harus melakuan maju dan mundur sesuai dengan keinginannya. Pada lensa Standard ini bukaan diafragma masih mempunyai bukaan yang lebar hingga (1.2) misalnya tergantung dari merek kamera dan lensanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Lensa Standard atau Lensa Normal adalah Lensa dalam kamera fotografi yang mempunyai jarak sama atau nyata antara pandangan jendela bidik dengan keadaan yang sebenarnya. lensa ini berguna dalam pemotretan biasa atau dalam suasana kenormalan kehidupan sehari-hari *

 

b. Lensa Wide Angle atau Lensa Sudut Lebar

Lensa Wide Angle pada kamera fotografi sering juga disebut dengan lensa bersudut lebar. Lensa ini akan menciptakan ruangan atau situasi disekeliling obyek seolah-olah menjadi lebar dalam pandangan jendela bidik. Obyek yang difoto jaraknya tidak sama antara realita dan bidikan kamera. Dalam bidikan kamera obyek terlihat jauh, sehingga suasana sekitarnya terlihat menjadi lebar. Lensa ini sangat cocok untuk pemotretan yang ruangannya sempit dan obyeknya banyak alias gerombolan atau berkelompok. Dalam situasi seperti ini kalau dilakukan dengan menggunakan lensa standard atau lensa normal, maka obyek yang bayak itu tidak dapat diambil semuanya, hanya sebagian saja. Dengan pemakian lensa Wide Angle ini , maka semua obyek yang berkelompok tersebut dapat diambil gambarnya. Lensa Wide Angle mempunyai panjang fokus berfariatif diantaranya 35 mm, 28 mm, 24 mm, 20 mm, 18 mm bahkan ada yang mencapai 15 mm. Lensa jenis ini juga mempunyai bukaan diafragma lebar hingga (1.2) misalnya tergantung dari mereknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Lensa Wide Agle atau lensa sudut lebar dapat menciptakan kesan yang lebar terhadap situasi disekeliling obyek. Lensa ini cocok untuk pemotretan yang lokasinya sempit.  Beberapa contoh pemotretan dengan menggunakan lensa wide angle, membuat obyek yang jumlahnya banyak dalam satu ruangan bisa diangkat emunya dalam satu frame pemotretan *

 

c. Lensa Zoom

Lensa Zoom dalam kamera fotografi merupakan lensa yang sering dipakai oleh hamper semua fotografer yang melakukan pengambilan gambar. Kenyataan ini disebabkan lensa zoom mempunyai kelebihan tentang fleksibelitas dalam membaca situasi lokasi pemotretan. Dengan menggunakan lensa zoom ini, oarng tidak perlu maju dan mundur lagi dalam mengambil obyek untuk mengatur komposisi yang baik guna menghasilkan kualitas dari foto tersebut. Lens Zoom merupakan penggabungan karakter dari sudut lebar dan sudut panjang termasuk karakter normal, sehingga hasil yang didapat bisa menjangkau secara keseluruan baik karakter sudut lebar, normal maupun sudut panjang dengan mengatur jarak zoom yang dikehendaki. Lensa Zoom juga mempunyai beberapa uuran seperti 28 mm – 85 mm, 35 mm – 70 mm, 35 mm – 105 mm. Ketiga jenis ini menyatukan sudut lebar dan normal ke dalam ruang zoomnya. Sedangkan sudut panjang seperti zoom dengan ukuran 70 mm – 210 mm, 80 mm – 200 mm, 80 mm – 300 mm. Zoom yang bernilai sudut panjang jarak pemotretannya harus menjauh dari obyek sejauh batas minimum, demikian juga dengan sebaliknya jika zoomnya mengacu ke sudut lebar jarak pemotretannya juga mendekati obyek. Pada Lensa Zoom, bukaan diafragma tidak selebar lensa standard, namun bukaan masih dalam taraf sedang hingga mencapat (2.8) misalnya tergantung dari merek lensanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* lensa Zoom dalam kamera fotografi merupakan pemakaian yang fleksibel dalam membaca situasi di lingkungan pemotretan. Dengan memakai lensa ini sang fotografer bebas menggerakkan kameranya untuk menentukan panjang zoom terpilih tanpa harus melakukan gerakan maju dan mundur dalam suasana pemotretan, hal ini seperti ketika melakukan pemotretan model atau pengambilan obyek fotografi jurnalistik misalnya *

 

d. Lensa Tele  

Lensa tele dalam kamera fotografi merupakan lensa yang mampu mengambil gambar obyek yang posisinya dalam jarak sangat jauh. Lensa ini mempu menciptakan sudut panjang sehingga dapat membidik obyek yang jaraknya jauh dari lokasi si pemotret. Bentuk fisik lensa ini tergolong panjang, Panjang pendeknya lensa tergantung dan berdasarkan pada ukuranya. Lensa Tele sangat membantu dalam pemotretan yang sangat berbahaya situasinya atau keadaan yang tak dapat dijangkau dengan bantuan alat apapun dikarenakan jaraknya yang tidak memungkinkan seperti keadaan yang normal. Suatu contoh ketika ada peristiwa tawuran yang menggunakan senjata tajam yang diayun-ayunkan untuk mendobrak lawannya, maka dari kejauhan dapat dilakukan pemotretan hingga sampai pengambilan Close-Up yang mevisualisasikan ekspresi wajah si penantangnya sambil teriak…uuuwweee…maju…sini…!!!. Lensa tele juga membantu pengambilan obyek-obyek yang benar-benar nyata apa adanya, karena obyek dalam keadaan tercuri oleh si fografer, sehingga keadaan apapun akan terekam dengan baik dan terlihat realistis. Lensa tele mempunyai bukaan diafragma kecil  sekitar (3.5) misalnya tergantung dari merek lensanya. Oleh karena itu suasana pada waktu melakukan pengambilan gambar hendaknya kondisi cerah, jangan melakukan pengambilan gambar memakai lensa tele jika suasana lingkugan mendung atau kurang cahaya, kecuali kamer tersebut mampu penciptakan ASA atau ISO tinggi. Ukuran Lensa tele diantaranya 400 mm, 500 mm, 600 mm, 800 mm dan ada juga yang 1000 mm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Lens tele dalam kamera fotografi sangat membantu dalam pengambilan gambar obyek yang posisinya sangat jauh dari lokasi pemotretan. Lensa ini juga mempunyai karakter dapat mencuri adegan yang realistik dari obyek yang dibidik termasuk suasana tawuran yang membahayakan *

 

e. Lensa Macro

Lensa Macro dalam kamera fotografi merupakan lensa khusus untuk melakukan pemotretan benda-benda kecil misalnya uang logam, merek korek Zippo termasuk juga hewan kecil diantaranya lalat, kupu-kupu dan sebagainya. Lensa ini cocok sebagai pelaksana penciptaan foto-foto yang bernafaskan pendidikan dan teknologi. Dengan memakai lensa ini maka jarak pemotretan dengan benda yang dibidiknya juga bisa dilakukan dalam posisi dekat, hal ini tidak bisa dilakukan dengan lensa – lensa lainnya. Lensa macro mempunyai bukaan diafragma yang besar hingga mencapai (1.5) misalnya tergantung merek dari lensanya. Ukuran Lensa macro seperti 55 mm, 105 mm dan 200 mm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Lensa Macro dalam kamera fotografi berfungsi untuk melakukan pemotretan benda-benda atau binatang yang ukurannya sangat kecil. Dalam kasus seperti ini jika menggunakan lensa biasa atau normal tidak akan dapat menciptakan fokus dengan ketajaman sempurna, disebabkan jarak pemotretan yang tidak direkomendasikan.Tetapi dengan menggunakan lensa macro hal itu dapat tertangani dengan baik  walaupu posisi kamera terlalu dekat dengan obyek sekalipun*

 

f. Lensa Fish Eye

Lensa Fish Eye dalam kamera fotografi merupakan lensa khusus yang mempunyai kesan sudut sangat lebar. Lensa ini mempunyai penciptaan gambar hingga kelebaran sudut mencapai 180 derjat. Dari karakter kelebaran sudut tersebut obyek yang dibidik dengan menggunakan lensa ini menyebabkan timbul suatu distorsi bentuk. Gambar yang tercipta menyebabkan timbul kesan melengkung dalam setiap gambar dari hasil pembidikan obyek tersebut. Bentuk lensanyapun berbeda dengan lensa seperti biasanya. Pada lensa Fish Eye bentuk lensa depan terlihat lebih melengkug ke depan. Kalangan fotografer lensa ini dapat disebut juga dengan lensa mata ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Lensa Fish Eye dalam kamera fotografi berfungsi untuk menciptakan karakter khusus terhadap obyek yang dibidik hingga menimbulkan kesan distorsi bentuk gambar. Pendistorsian ini akan membentuk pada obyek dengan menghasilkan gambar berkesan melengkung pada sisi kanan dan kirinya *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

Davis, Harold. 2011. Creative Lanscapes : Digital photography Tips & Techniques. Indianapolis, Indiana : Willy Publishing. Inc.

Story, Derrick. 2004. Digital Photography Hacks. Gravenstein Highway North. Sebastopol CA : O’ Reilly Media. Inc.

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sugiarto, Atok. 2006. Cuma Buat yang Ingin Jago Foto. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Hadiiswa. 2008. Fotografi Digital: Membuat Foto Indah dengan Kamera Saku. Jakarta : Mediakita.

Alwi, Audy Mirza. 2004. Fotografi Jurnalistik : Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa. Jakarta : Bumi Askara.

Giwanda, Griand. 2001. Paduan Praktis Belajar Fotografi. Jakarta : Puspa Swara.

Giwanda, Griand. 2002. Paduan Praktis teknik Studio Foto. Jakarta : Puspa Swara.

Mulyanta, Edi. S. 2007. Teknik Modern Fotografi Digital. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Ardiansyah, Yulian. 2005. Tip & Trik Fotografi Teori dan Aplikasi Belajar Fotografi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Feininger, Andreas, Edit : RM. Soelarko. 1999. The Complete Photographer. Segi Teknik Fotografi. Semarang : Dahara Prize.

ARPS, Ray Hayward, Edit : RM. Soelarko. 2002. The Craft of Photography. Semarang : Dahara Prize.

Beberapa situs terkait dengan topik permasalahan dan diinterpretasikan ulang tetapi tidak mengurangi substansi di dalamnya.

Posted in FOTOGRAFI | Tagged , | Leave a comment

Leave a Reply