TEKNIK FOTOGRAFI 1 (SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA)

TEKNIK FOTOGRAFI 1 (SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA)

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Teguh trPada era sebelumnya ketika teknologi fotografi masih menggunakan peralatan konvensional atau peralatan kamera teknologi manual, orang tidak berani melakukan pemotretan sembarangan, hal ini disebabkan karena takut apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan gambar dengan kualitas baik  alias gambarnya buram kurang cahaya atau kabur . Pada era teknologi ini, diperlukan pemahaman atau penguasaan khusus tentang tata cara mempergunakan kamera fotografi, hanya orang-orang tertentu saja yang mempergunakan kamera fotografi terutama dari kalangan wartawan. Makanya ketika orang membawa kamera kemana-mana, orang akan  menyangkanya dia adalah berprofesi sebagai seorang wartawan, karena senjata dari wartawan adalah kamera sebagai alat pembidik suatu peristiwa yang diburunya hingga pada akhirnya nanti akan disebar luaskan melalui media cetak yaitu Koran dan majalah setelah dilakukan penyuntingan oleh redaksi. Fotografi juga dipergunakan oleh instansi-instansi pemerintahan atau swasta untuk keperluan dokumentasi dari setiap kegiatan yang telah dilakukan. Pelaku-pelakunya yang melakukan pemotretan suatu peristiwa yang sudah terjadwal itu, kebanyakan diperankan oleh para karyawannya sendiri di departemen atau bagian humas. Oleh karena itu setiap instansi entah itu pemerintahan atau swasta termasuk toko-toko studio foto, salah satu karyawannya dipastikan ada yang bertindak sebagai fotografer dengan dilatar belakangi oleh penguasaan menggunakan peralatan kamera fotografi. Kegiatan fotografi juga dilakukan oleh fografer amatir, dimana cara kerjanya mencari order pemotretan pada seseorang atau kelompok organisasi misalnya foto pendokumentasian hajatan atau melalukan pemotretan tertentu kemudian diperbesar pencetakannya dan terbingkai dalam penyajiannya lalu dijual di tempat umum. Dari paparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pada era fotografi konvensional atau manual, dunia fotografi hanya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar menguasai peralatan fotografi, sehingga orang yang bukan ahlinya atau katakanlah orang yang tidak menguasai dunia fotografi, tidak akan berani melakukannya, apalagi kalau kegiatan itu tergolong penting sekali, orang akan berpikir seribu kali untuk melakukannya.

Dengan hadirnya teknologi digital dalam keragaman bentuk mengenai peralatan kamera fotografi, dengan kehadiran kamera digital yang berfariatif itu, maka orang akan dibuat mudah dalam penggunaannya. Dengan kamera digital, dijamin orang yang tidak mengerti dalam dunia fotografi atau katakanlah orang awam, dipastikan dan dijamin dapat melakukannya dengan mudah … cukup dengan cara membidik obyek di depan jendela kamera lalu tekan tombol jepret…, maka jadilah foto secara instan dan dapat dilihat hasilnya secepat kilat… sambil ngakak… , karena obyek yang difoto dilatar belakangi oleh temannya sendiri secara sembunyi-sembunyi ikut foto dengannya sambil berekspresi lidahnya menjulur keluar dari mulut alias melet…weee…!. Hadirnya teknologi digital pada kamera foto telah menghadirkan kamera dalam keragaman bentuk mulai dari kamera professional SLR, kamera poket, kamera laptop sampai pada kamera handphone, dimana keberadaannya membuat keceriahan hidup manusia. Dalam kegiatan apapun yang dilakukan entah itu seminar, jumpa artis, konser, pernikahan, rekreasi, jalan-jalan ke mall sampai belanja ke pasar tradisional apa yang telah mereka lakukan itu tak lepas dari kamera bidikannya yang selalu dibawahnya. Dari sinilah keberadaan seni fotografi sangat dekat dengan kehidupan manusia baik untuk keperluan individu ataupun keperluan organisasi bahkan suatu bisnis, sehingga hadirnya dunia fotografi dalam kehidupan manusia, secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup manusia itu sendiri atau sering dikatakan dengan istilah “Life Style”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Pada awalnya dunia fotografi hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu yang memang benar-benar memahami peralatan kamera yang berbasis pada teknolgi manual. Oleh karenanya kegiatan semacam pemotretan acara pernikahan dilakukan oleh fotografer amatir atau fotografer professional dari studio foto termasuk para wartawan yang lagi memburu berita.  Setelah hadirnya teknologi digital dengan keragaman bentuk kamera semua orang bisa melakukan untu bergaya dan melakukan pengabadian acara pawai misalnya  tanpa harus ragu melihat hasilnya nati *

 

Untuk mengetahui dunia fotografi secara mendalam berikut ini akan diuraikan tentang pengertiannya, sejarah dan perkembangannya hingga melahirkan jenis-jenis kamera fotografi yang pernah ada, Secara lengkap akan dijabarkan seperti berikut ini :

 

A. Pengertiannya

Istilah fotografi berasalal dari bahasa Yunani terdiri dari dua kata yaitu Photos yang berati cahaya dan Graphein yang berarti menggambar sementara kata kamera berasal dari bahasa latin yaitu Camera Obscura yang berarti kamar gelap atau ruangan gelap. Jadi jika ketiga kata tersebut diatas digabungkan menjadi sebuah kata Kamera fotografi, maka akan menghasilkan suatu pemaknaan kata yaitu sebuah tempat yang amat gelap untuk melukis atau mengggambar dengan menggunakan unsur cahaya. Komponen cahaya disini bisa berwujud cahaya alam seperti matahari, bulan dan api atau cahaya buatan yang berwujud elektrik yaitu cahaya lampu.

Fotografi dapat diartikan sebuah usaha penciptaan gambar melalui cahaya yang dibidikkan pada permukaan media dengan kepekaan tertentu hingga terjadi suatu proses pembakaran. Fotografi adalah bagian dari karya seni rupa, sehingga fotografi dapat disejajarkan dengan seni lukis. Perbedaannya kalau seni lukis  adalah suatu usaha untuk menciptakan sebuah gambar melalui goresan kuas yang berlumurkan cat, bisa cat air dan juga bisa cat minyak pada permukaan sebuah media yaitu kanvas. Sedangkan seni fotografi adalah suatu usaha untuk menciptakan gambar melalui cahaya yang dibidikkan pada permukaan media dengan kepekaan tertentu dalam hal ini adalah film seluloid untuk teknologi manual dan memory card untuk teknologi digital. Karena medianya berpekakan cahaya, maka dalam prosesnya itu benda tersebut harus ditaruh di dalam sebuah kotak tertutup rapat yang bernama “Body Camera”. Dari keterangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa seni fotografi adalah penciptaan gambar melalui proses pembakaran cahaya pada bidang permukaan yang berpekakan cahaya, dan kesemuanya dilakukan di dalam suatu ruangan yang tertutup rapat yaitu di dalam “Body Camera”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Karya Fotografi dapat disejajarkan dengan karya seni rupa khususnya seni lukis, sehingga seni fotografi mempunyai makna menggambar melalui cahaya yang dibidikkan pada permukaan benda yang berpekakan cahaya. Berbagaimacam teknik fotografi diciptakan hingga menghasilkan karya yang berabeka ragam mulai dari karya fotografi realis atau nyata sampai pada suatu karya fotografi dengan proses imajinasi tinggi dari sang kreatornya ”

 

B. Sejarah dan Perkembangannya

Kamera fotografi yang beredar di pasaran dewasa ini dengan keragaman bentuknya itu, secara sistem peredaran kamera tersebut dimayoritasi dengan menggunakan teknologi digital. Namun dibalik semua itu, Industri fotografi tidak begitu saja memproduksi kamera digital, namun melalui proses perjalanan yang panjang hingga menghasilkan kamera dengan teknologi digital seperti saat ini. Guna mengetahui perjalanan panjang perkembangan kamera fotografi tersebut, berikut ini akan diuraikan secara lengkap dalam sejarah kamera fotografi seperti berikut ini :

 

1. Berawal dari Coretan Tangan Manusia Purba

Ilmu fotografi yang disejajarkan dalam keilmuan seni rupa khususnya seni lukis, sebenarnya sudah dikenal dan dipahami serta diimplementasikan olehmasyarakat sejak masa pra sejarah. Kenyataan ini telah terbukti, bahwa masyarakat pada zaman pra sejarah selalu mendokumentasikan suatu peristiwa yang mereka alami  melalui penggambaran di sebuah media diantaranya dinding gua. Di beberapa tempat telah ditemukan sejumlah gambar atau lukisan yang digambarkan di atas permukaan dinding gua berupa hewan-hewan buruan yang pernah mereka lihat atau mereka temui dalam mengarungi hidup. Dari sinilah istilah dokumentasi itu muncul dan nantinya akan berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia ke tingkat lebih tinggi hingga melalui beberapa orang yang menguasai teknik menggamabr suat bentuk kualitas dokumentasi bisa ditingkatkan melaui hasil karya gambar yangmenarik. Teknik menggambar lebih sempurna hasilnya ketika bahan baku dari menggambar meningkat sejak ditemukannya cat minyak hingga menghasilkan karya seni lukis yang indah. Perkembangan ini disempurnakan ketika berbagai penemuan teknologi bermunculan, termasuk lahirnya alat perekam suatu gambar secara instan melalui teknologi kamera fotografi dan ini akan terus mengalami perkembangan secara kontinyu berdasarkan meningkatnya peradaban manusia ke arah yang lebih baik dikemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Beragam lukisan manusia purba di masa pra sejarah merupakan awal munculnya istilah ilmu fotografi, dimana ilmu ini mengisyaratkan adanya sikap untuk mendokumentasikan sesuatu yang mereka perna temui ke dalam suatu media diantaranya media di dinding tembok gua dengan cara membuat coretan-coretan menyerupai hewan buruan atau manusia. Ini adalah dasar dari munculnya istilah dokumentasi dalam fotografi dan perkembangannya dinjutkan dengan meningkatnya peradaban manusia ketika beberapa orang menguasai teknik menggambar atau melukis hingga munculnya beberapa penemuan teknologi termasuk teknologi fotografi yang akan melahirkan industri kamera fotografi  di masa depan seiring dengan hadirnya dan berkembangnya teknologi yang ada *

 

2. Camera Obscura Pertama

Camera Obscura diyakini sebagai kamera pertama yang dipakai dalam memproyeksikan gambar pada dinding permukaan. Prinsipdasar dari system kamera ini adalah proyeksi terbalik. Prinsip ini pertama kali dikemukakan pada masa pemerintahan Yunani Kuno oleh seorang filosof dan juda ilmuawan bernama Aristoteles pada masa (384 SM – 322 SM), dari prinsip ini kemudian dipopulerkan dan ditulis ulang pada abad ke 15 ketika masa Renaisance berkembang di Italia oleh Leonardo Da Vinci pada masa (1452 – 1519). Cara kerja “Camera Obscura” yang digambarkan oleh Leonardo Da Vinci adalah digambarkan pada sebuah rumah besar dengan suasana gelap, pada dinding rumah tersebut diberi lubang kecil yang disebut “Pinhole”. Ketika manusia melihat sebuah obyek yang ada di luar bangunan itu, melalui sinar yang masuk ke dalam lubang itu akan membentuk bayangan gambar serupa pada dinding kamar gelap tersebut dengan posisi terbalik. Tentu saja dalam tahap penemuan awal ini, kamera pertama yang diketemukan adalah cukup besar, dan ukurannya sebesar rumah tinggal sehingga tidak bisa dibawa kemana-mana.  Dari hadirnya kamera sebesar rumah ini, akan menjadi  prinsip titik dasar dalam perjalanan pengembangan teknik fotografi berikutnya. Beberapa ilmuwan berusaha menyederhanakan bentuk yang besar itu menjadi bentuk lebih kecil dari sebelumnya melakukan eksperimentasi untuk menghasilkan kamera dengan mengaikan beberapa bahan seperti kayu atau plat sehingga terwujud kamera dengan bentuk basisnya berupa kotak. Sehingga pada perjalanan berikutnya lahirlah beberapa kamera Obscura dalam ukuran kecil berbentuk kotak yang diberi lensa pembidik.

 

 

 

 

 

* Prinsip dasar dari Camera Obscura adalah bahwa obyek yang ada di luar kamar gelap akan bisa dihasilkan melalui pencahayaan yang masuk pada lubang dinding hingga menghasilkan bayangan terbalik. Prinsip ini sebenarnya telah diungkap oleh Aristolteles pada masa Yunani dan dikembangkan serta ditulis ulang pada masa Renaisance oleh Leonardo Da vinci pada abad ke 16 diItalia *

 

3. Camera Obscura Kotak

Setelah kemunculan Renaicance di Italia dengan tokoh semacam Leonardo Da Vinci dan Michael Angleo dimana fungsinya sebagai pencerahan hidup masyarakat agar senantiasa menggunakan faham-faham rasional seperti yang dicanangkan oleh tokoh-tokoh besar Yunani semacam Socrates, Plato dan Aristoteles. Renaisance itu sendiri memberikan dorongan kepada masyarakat menggunakan pikiran rasionalnya untuk melakukan sesuatu, setelah sekian jauh dibelenggu untuk memasuki abad kegelapan yang menggunakan kekuatan otot dan hawa nafsu dari pada pemikirannya sendiri. Maka menjelang abad ke 17 para ilmuwan melakukan penelitian atau eksperimentasi dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Salah satu Peneliti bidang fotografi adalah Camera Obscura dalam bentuk kotak telah dilakukan oleh Girolamo Cardano telah melengkapi kameranya dengan lensa, tetapi bayagan yang dihasilkan tidak bisa bertahan lama. Adalah   Joseph Niceore Niepce mempublikasikan gambar dari bayangan yang dihasilkan kameranya, yang berupa gambaran kabur atap-atap rumah pada sebuah lempengan campuran timah yang dipekakan yang kemudian dikenal sebagai foto pertama. Kemudian pada tahun 1839, Louis Daguerre telah membuat Camera Obscura dengan ukuran yang lebih kecil dan bisa dibawa kemana-mana dan ini dipublikasikan temuannya berupa gambar yang dihasilkan dari bayangan sebuah jalan di Paris pada sebuah pelat tembaga berlapis perak.  William Henry Fox Talbot juga melakukan penelitian dengan kameranya untuk mengetahui apakah hasil proyeksi bisa direkam diatas sebuah plat atau kertas yang diberi senyawa kimia kemudian diletakkan di dalam kotak kamera tersebut, ternyata setelah terjadi proses proyeksi gambar bisa berhasil. Dua orang inilah yang akhirnya timbul polemik sebenarnya siapa yang menemukan lebih dahulu tentang fotografi berbahan itu, apakah Louis Daguerre ataukah William Henry Fox Talbot. Setelah dilakukan penelitian ternyata keduanya mempunyai hasil yang berbeda. Louis Daguerre menghasilkan gambar dengan teknik cetak positif sedangkan William Henry Fox Talbot menghasilkan gambar dengan teknik cetak negative. Pada berjalanannya Camera Obscura mengalami perkembangan dengan menciptakan bentuknya yang lebih kecil serta bisa dibawa kemana-mana, hal tersebut seiring dengan berbagai macam penemuan teknologi yang sedang bermunculan misalnya adanya penemuan film sebagai komponen dasar dari hasil pemotretan. Pada kategori ini format film yang dipakai tentu saja ukurannya menyesuaikan dari kamera yang diciptakannya, sehingga ukuran film berfariatif, hal itu disebabkan belum adanya standarisasi dari suatu industri. Pada perjalanan penciptaan kamera yang berukuran kecil dengan tujuan bisa di bawa kemana-mana itu telah menghasilkan kamera pertama yang diproduksi secara masal oleh Alphonse Giroux, adik ipar Daguerre salah satu tokoh penemu fotografi itu pada kurun waktu 1839.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Sejak diketemukannya kamerafotografi obscura yang berukuran sebesar rumah tinggal itu, beberapa ilmuwan telah berusaha menyederhanakan dengan bentuk yang lebih kecil hingga muncul kamera-kamera dengan bentuk lebih kecil dari pendahulunya, bahwa sampai pada taraf diproduksi secara masal *

 

4. Kamera Format Besar (Large Format Camera)

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan munculnya berbagai macam teknologi hingga mengtarkan munculnya Revolusi Industri di Inggris itu. Dampak dari pengaruh Revolusi Industri ini adalah munculnya berbagai macam industri di berbagai negara, dan salah satu dari industri tersebut adalah bidang keilmuan fotografi hingga melahirkan industri fotografi dari berbagai macam merek dagang yang memproduksi kamera fotografi secara masal dengan keragaman bentuk dan kepraktisannya. Meskipun pada perkembangan penyederhanaan bentuk dari kamera dengan berbagai macam itu, namun seiring perjalanannya perintisan industri kamera fotografi  telah melahirkan sistem standarisasi kamera serta didukung dengan perbaikan kualitas dari keberadaan produk kamera tersebut diantaranya body camera, lensa serta film yang dipakai. Salah satu standaridasi kamera tersebut adalah Kamera Format Besar atau Large Format Camera.

Kamera berformat besar ini juga sering disebut dengan istilah Large Format Camera. Kamera berformat besar ini dimunculkan pertama kali oleh perusahaan kamera dan film bernama Kodak dalam dekade tahun 1920an, format yang beredar antara 11 x 14 inchi, 16 x 20 inchi hingga 20 x 24 Inci. Pada kategori diatas format 8 x 10 inchi diklasifikasikan pada “Large Format Ultra”. Pada kategori kelompok ini ukuran ada yang mencapai 48 x 48 inci pada kamera horizontal, suatu format film yang benar-benar besar sekali. Ukuran yang mencapi sebesar ini, berkaitan dengan keperluan pencetakan pada industri percetakan yang sedang booming, termasuk untuk keperluan periklanan atau promosi suatu produk. Sejak tahun 1950an standarisasi kamera format besar secara umum sudah digunakan berkisar antar 4 x 5 inchi atau 102 x 127 mm, jauh lebih besar dari format medium 2.25 x 2,25 inchi atau 60 x60 mm.

Salah satu keuntungan Kamera Format Besar atau Large Format Camera ini, adalah hasil gambar yang terbias dalam film mempunyai resolusi yang cukup tajam, sehingga dalam proses pencetakannya jika diperbesar ukurannya hasil gambar tetap terjaga kualitas ketajamannya. Keadaan ini membuat keuntungan tersendiri seiring dengan terbitnya industri pers yang mengandalkan sistem percetakan yang mulai marak bermunculan. Dengan resolusi tinggi membuat industri media cetak yang melahirkan majalah, koran serta perikanan didukung dengan gambar-gambar yang terjaga kualitas gambarnya. Bahkan menjelang hadirnya teknologi digital, beberapa perusahaan industri kamera tetap memakai kategori Large Fomat Camera pada produksinya dengan kapasitas terbatas. Perlakuan ini hanya untuk  menyesuaikan sistem perekamannya, guna mensinkronkan pada mesin-mesian industri percetakan yang mulai beralih pada  hadirnya sistem komputerisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Dari bentuk Camera Obcura yang berukuran besar dan selangit itu, pada perkembangannya mengalami bentuk yang bermacam-macam dengan ukuran yang lebih kecil. Setelah adanya standarisasi kamera di rana industri kamera, maka lahirlah kamera berformat besar atau Large Format Camera *

 

5. Kamera Format Sedang (Medium Format Camera)

Sejak kemunculan Revolusi industri pada pada abad ke 18 -19 di Inggris itu, telah merubah sistim Industri yang tadinya dikerjakan oleh oleh tangan manusia kini dikerjakan oleh tenaga mesin. Kenyataan ini telah terbukti bahwa teknologi yang dikerjakan oleh mesin dengansistem mekanik itu telah mempercepat peoduksi. Dari sinilah akhirnya merebet ke berbagai Negara seiring dengan perkembangan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan di berbagai negara hingga menghasilkan keragaman ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi terbaru dari sebelumnya. Dalam bidang fotografipun juga demikian berbagai macam penemuan  bidang fotografi diketemukan dari mulai bahan body kamera lensa hingga format standarisasi sebagai dasar diproduksinya secara masal oleh produsen pabrikan. Perkembangan yang menonjol ketika memasuki abad ke 19 dimana kamera berformat besar telah diproduksi di tahun 1950 dan dalam perjalanannya format sedang atau Medium Format Camera juga diproduksi seiring dengan berkembangnya industri periklanan yang memanfaatkan peralatan fotografi sebagai salah satu komponennya.

Kamera berformat sedang atau Medium Format Camera merupakan kamera yang dikembangkan dari kamera berformat besar. Pada kamera jenis ini bahan yang dipakai juga mengalami peningkatan yaitu plat dengan lensa tunggal yang didalamnya ditempatkan cermin sebagai pemantul gambar untuk melihat obyek bidikan. Pada kamera jenis ini gambar hasil bidikan tidak dalam posisi kebalik seperti pada kamera sebelumnya yang berorientasi dalam viewnya secara horizontal atau setara dengan mata memandang,  melainkan sama persis dengan obyeknya, hal ini disebabkan adanya penempatan cermin di dalam body kamera yang berfungsi sebagai refleksi gambar tersebut. Cara melihatpun tidak di belakang kamera lagi, akan tetapi dilakukan di atas kamera dengan cara membungkuk. Pada kamera berformat sedang ini ukurannya juga lebih kecil dari sebelumnya, sehingga mudah dibawa kemana-mana dalam melakukan perburuan obyek peristiwa. Keistimewaan dari kamera berformat sedang ini film sudah dalam bentuk roll atau gulungan, bukan memakai sistem plat lagi seperti kamera format besar. Peletakan film tetap berada di belakang kamera.

Ukuran film pada kamera sudah dalam bentuk gulungan yang berformat 120 dan 220 mm lebih kesil dari format besar. Namun kulaitas dari hasil gambar walaupun tidak sebesarLarge Format, namun gambar masih tetap tajam walaupun mengami pembesaran. Kamera ini diproduksi secara masal antara 1950 hingga 1980 sebelum format film 35 mm diluncurkan 1977 dipasaran, keberadaannya masih memegang peranan penting terutama dalam dunia periklanan bahkan pada pengembangan berikutnya memberikan sistem auto focus pada kamera sekitar tahun 1990an. Satu roll film format medium dapat digunakan dalam membidik obyek terdiri dari mulai 8 bidikan hingga 32 bidikan. Maraknya kamera digital pada produksi kamera SLR berformat 35 mm, medium formatpun dikemas dengan versi digital bahkan bentuk yang mengarah pada kamera SLR  juga diproduksi menyesuaikan perkembangan dunia fotografi yang terus berevolusi.

Pada awal diproduksinya secara masal, jenis kamera format sedang ini ada dua macam, diantaranya Kamera Format Sedang refleksi satu lensa yang disebut Single Lens Reflex Camera dan satunya Kamera Format Sedang refleksi dua lensa disebut Twin Lens Reflex Camera. Cara kerja Kamera Format Sedang dengan lensa tunggal adalah lensa utama selain sebagai alat melihat obyek dalam bidikan juga sebagai alat masuknya cahaya  ke dalam lensa guna pembakaran sebuah film. Sedangkan untuk Kamera Format Sedang dengan dua lensa cara kerjanya lensa pertama yang ada di posisi bawah berfungsi sebagai masuknya cahaya lewat lensa guna pembakaran sebuah film, sedangkan lensa kedua yang ada di atasnya berfungsi sebagai alat pembidik atau untuk melihat obyek bidikan. Biasanya untuk yang dua lensa ini menimbulkan efek parallax yaitu hasil gambar terkadang tidak sama persis dengan obyek ketika difoto. Bentuk yang mengarah pada kamera 35 mm juga diproduksi dalam format medium termasuk versi digitalnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Formar Sedang atau Medium Format Camera merupakan mengembangan dari kamera berformat besar dengan ukuran yang lebih kecil, sehingga keberadaannya muda dibawa kemana-mana. Bahkan dalam perkembangannya kamera berformat medium ini juga diproduksi versi digitalnya. Kamera jenis ini cocok untuk kamera model atau kamera studio karena filmnya cukup besar, sehingga kalau diperbesar untuk keperluan iklan misalnya seperti pembuatan baik untuk media cetak seperti majalah atau koran maupun papan reklame atau Billboard gambarnya tidak akan pecah *

 

6. Kamera Format Kecil (Small Format Camera/35 mm)

Kamera format kecil atau Small Format Camera merupakan kamera yang mempunyai ukuran lebih kecil dari ukuran medium format. Keberadaan kamera format kecil sangat popular di kalangana masyarakat hingga saat ini.  Kepopuleran kamera ini dikenal dengan kamera 35 mm, kenyataan ini menjelaskan bahwa kamera ini menggunakan format film berukuran 35 mm, dengan dimensi full frame  24 mm x 36 mm seperti penggunaan film bergerak yaitu bioskop atau movie. Penyebutan kamera 35 mm itu dihitung dari ukuran film yang digunakan dengan penghitungan secara diagonal. Kamera berformat 35 mm juga dikenal dengan istilah kamera 135, istilah ini pertama kali dikeluarkan oleh produsen industri kamera bernama Kodak sebagai standarisasi dalam pembuatan film kamera diproduksi secara masal. Pada perjalanannya ketika dunia fotografi mempopulerkan kamera Single Lens Reflex atau Kamera SLR, maka format film untuk kamera 35 mm menjadi standarisasi dalam produksi industry kamera dan film, sehingga setiap gulungan roll film baik yang dikeluarkan oleh Kodak, Fuji atu Konika berlebelkan 135 pada roll film produksinya. Dari standarisasi tersebut dapat, maka dapat dijumpai dalam kemasan Roll Film yang kita beli di toko photo studio akan berlebelkan 135/24 dimana pada kemasan ini film yang tersedia untuk membisik obyek sebanyak 24 perekaman dan 135/36 sebanyak 36 perekaman.

Model kamera format 35mm yang mempunyai bentuk dimensi persegi panjang itu, sebenarnya sudah dikenalkan atau diproduksi pada kamera format medium atau medium Format Kamera yang berukuran 120 dan 220 mm dalam kurun waktu 1950an. Karena bentuk yang fleksibel dan mudah dibawa kemana-mana inilah akhirnya keberadaan kamera ini diproduksi dalam format yang lebih kecil diantaranya format 35mm. Pada kamera ini dilengkapi dengan lensa yang sudah bisa diganti ganti sesuai dengan kebutuhan, selain itu kamera juga dilengkapi dengan pencarian ruang ketajaman obyek yang disebut dengan Range Finder. Fungsi Range Finder ini adalah untuk mencari ketepatan focus pada obyek yang tercermin menjadi dua bayangan. Pada pencarian ketajaman sebagai tepatnya titik focus, maka harus diakukan pencarian dengan mengeser dua bayangan itu menjadi satu yang tepat. Kamera jenis ini juga disebut dengan kamera pengintai, Pemberian nama pengintai tersebut disebabkan adanya penempatan jendela View Finder yang ditempatkan di sebelah kiri atas berfungsi sebagai jendela pembidik obyek yang menjadi sasarannya. Kamera Range Finder berformat 35 mm  pertama kali diproduksi secara masal adalah kamera bermerek Leica di tahun 1932, kemudian disusul dengan merek lainnya dan berusaha memperbarui produknya seiring dengan perkembangan teknologi seperti Canon, Nikon, Yashika, Fujica, dan merek lainnya. Kamera Rang Finder ini mengalami kelemahan pada hasil bidikan yang mencerminkan ketidak samaan obyek yang dibidik, hal ini disebabkan adanya efek paralax yang terdapat pada lensa pembidik. kelemahan ini akan dihilangkan nantinya ketika diketemukannya Kamera SLR.

Kamera format 35 mm mengalami revolusi yang luar biasa, ketika sistem lensa tunggal diperkenalkan. Sistem ini dikenal dalam dunia fotografi dengan nama “Kamera Single Lens Reflex” atau Kamera SLR. Pada sistem ini obyek yang ada didepan lensa akan tertangkap melalu jalur lensa yang dihubungkan dengan adanya penempatan cermin berposisi diagonal di dalam body camera berfungsi untuk memantulkan ke penta prisma yang ada atasnya hingga pemantulan dari penta prisma tersebut terlihat jelas oleh pembidik sama dengan obyeknya. Pada kamera ini sudah disempurnakan pengaturan ketajaman pada obyek bidikan dapat dicapai dengan baik melalui memutaran fokus yang terdapat pada setiap lensa. Kamera SLR format 35 mm ini sangat populer hingga saat ini sejak diperkenalkan pertama di era 1977an. Dalam perjalanan perkembangan fotografi kamera SLR yang paling banyak mengalami pengembangan teknologi dalam penyempurnaannya bahkan telah menguasai pasar industri fotografi dalam kanca periode  1980-1990an, bahkan keberadaannya mengalami beberapa penyempurnaan teknologi hingga sampai memasuki era digital yang sekarang ini berkuasa. Berbagai macam pengembangan yang dilakukan pada kamera SLR mulai dari lensa standard hingga munculnya bermacam-macam jenis lensa diciptakan guna mendapatkan kemudahan dalam mengoperasikan kamera untuk mendapatkan alternatif hasil yang memuaskan termasuk menciptakan beragam jenis filter lensa guna mendapat efek yang menarik. Tidak hanya lensa saja dalam menyempurnaannya, tetapi keberadaan kamera SLR ini, memungkinkan diproduksinya asesoris kamera lainnya,  salah satunya adalah motor drive yang berfungsi menggerakkan pergeseran film secara cepat untuk menghasilkan gambar yang berkesinambungan dalam gerakan cukup dengan satu kali pencet tombol. Hasil dari penggunaan motor drive pada kamera SLR manual ini mirip dari rekaman film bioskop, termasuk diproduksinya lampu flash sebagai pendukung pemberian cahaya bantuan jika keadaan disekeliling obyak kurang pencahayaan.  Kamera ini bahkan sudah menjadi standarisasi dalam dunia fotografi sebagai produk pasaran yang dikeluarkan oleh semua merek dalam industri fotografi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera berformat kecil atau Small Format Camera merupakan kamera yang paling fleksibel dan dengan bentuknya yang kecil agar dapat dibawa kemana-mana dengan mudah untuk membidik obyek dengan muda. Kamera ini juga disebut dengan kamera format 35 mm dan dalam pengenalannya didahului dengan kamera Range Finder atau dengan sebutan kamera pengintai. Beberapa tahun kemudian format 35 mm dikembangkan dengan sistem lensa tunggal yang sering disebut dengan kamera Single lens Reflex atau Kamera SLR. Keberadaan kamera SLR yang terakhir ini juga didukung dengan diproduksinya asesoris pendukung diantaranya motor drive dan flash.  Kamera jenis SLR ini merupakan kamera yang mampu bisa bertahan selama 30 tahun dalam pengembangannya sesuai dengan meningkatnya perkembangan teknologi yang ada hingga memasuki masa era digital saat ini*

 

7. Kamera Automatis atau Kamera Istimewa

Pada era tahun 1980an Kamera Single Lens Reflex atau lebih dikenal dengan Kamera SLR ini telah menguasai pasar dunia fotografi. Hampir setiap merek yang meproduksi kamera fotografi dipastikan memasarkan kamera jenis SLR diantaranya Nikon, Canon, Pentax, Fujica, Olympus, Yashika, Ricoh serta jenis lainnya. Pada masa ini teknologi masih berformat manual atau sistem kamera masih mengacu pada teknologi mekanik,  dengan cara mengayunkan engkol pemutar film untuk menggeser posisi film yang dipakai dalam membidik  suatu obyek. Pengaturan pencahayaan untuk ketepatan cahaya yang diperlukan itu, masih dilakukan secara manual dengan cara memutar bagian diafragma dan kecepatan yang telah dikehendaki. Keberadaan kamera ini sangat populer dikalangan fotografer atau wartawan, para fotografer atau wartawan yang tadinya memakai Kamera Range Finder ramai-ramai beralih ke Kamera SLR. Dalam operasionalnya pemakaian kamera jenis SLR ini adalah memang orang yang benar-benar menguasai bidang fotografi, tentunya memahami tentang penghitungan pencahayaan yang tepat dalam pembakaran sebuah film, sehingga bila orang tidak mengerti tentang fotografi, dipastikan tidak akan berani melakukannya, terlebih lagi bila yang dipoteret itu adalah acara yang penting seklai, hal tersebut disebabkan apa yang mereka lakukan itu nantinya tidak memberikan hasil  sempurna atau memuaskan dari kualitas gambarnya.

Memasuki era tahun 1990 – 2000an penerapan berbagai macam teknologi berkembang dengan pesat. Sistem automatis telah diterapkan dalam berbagai macam teknis melalui produk-produk elektronik yang beredar di pasaran. Dampak dari hal ini, menjadikan kehidupan manusia makin dimudahkan dalam melakukan segala macam bentuk kegiatan. Dalam dunia fotografi tak luput dari incaran para produsen kamera, sehingga penerapan kamera secara automatispun diciptakan hingga menghasilkan kamera Auto Focus Atau disingkat dengan AF. Berkaitan dengan penerapan sistem automatis pada kamera baik menyangkut pada body kamera maupun lensannya itu, membuat orang yang tadinya ragu memakai kamera jenis SLR, kini merasa terbantu dengan keberadaan kamera automatis tersebut dan berani mempergunakan kamera itu, hal ini dikarenakan adanya sistem yang bisa mengatur sendiri cahaya yang diperlukan di dalam kamera tersebut. Sehingga lahirlah beberapa jenis kamera yang digolongkan sebagai berikut :

 

a. Kamera Single Lens Reflex Auto Focus

Kamera Single Lens Reflex Auto Focus adalah kamera automatis dari jenis kamera SLR yang sistem kerja kameranya dilengkapi peralatan sensor elektronis untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan operasional kamera tersebut. Kamera jenis ini merupakan pengembangan penerapan teknologi terbaru berupa sensor elektronis dari teknologi mekanik yang lebih sering disebut dengan istilah teknologi manual. Penerapan teknologi automatis ini meliputi body kamera dan system lensa serta tambahan cahaya blits yang diletakkan di atas kamera dengan posisi senter. Keuntungan dari kamera ini adalah adanya suatu program-program pemotretan yang sudah dirancang secara sistem, sehingga pengguna tinggal memakainya saja program mana yang disukai dan secara automatis sistem pengaturan akan berjalan sendiri ketika tombol ditekan untuk membidik obyek. Walaupun kamera sudah dilengkapi dengan sensor automatis, namun pemakaian film sebagai medium penggambaran obyek masih berlaku. Pengaturan focus ketajaman obyek bidikannyapun juga dilengkapi dengan sistem automatis yang disebut dengan Auto Focus. Pencarian ruang tajam yang dibidikan pada obyek akan bekerja secara automatis ketika kamera didekat dan dijauhkan dari obyek sasaran. Dengan adanya kamera ini orang awampun akan berani menggunakan kamera jenis ini, karena percaya bahwa pengaturan segala sesuatunya ditangani oleh mesin kamera yang bekerja sebagai transfer teori-teori dalam fotografi kedalam teknologi kamera. Segala sistem program yang dirancang di dalam kamera ini selain digunakan secara automatis juga bisa digunakan secara manual. Artinya dalam operasional kameranya itu, pengguna bisa memakai dua alternatif pilhan, apakah menggunakan sistem automatis kamera dimana pengaturannya dipercayakan pada mesin kamera itu sendiri ataukah menggunakan sistem manual dengan cara pengaturannya menggunakan pemikiran yang rumit dari pengguna. Enakkan tinggal pilih…, mana yang disuka… Satu kelemahan dari kamera ini adalah sumber tenaga yaitu baterai. Karena kamera ini bekerja dengan sistem elektrik yaitu memakai sumber listrik arus lemah/atau arus dc, maka kekuatannya ada di baterai yang menghasilkan sumber listrik guna menggerakkan mesin kamera. Tetapi jika baterainya habis, maka kamera tidak mau bekerja, walaupun dipilih sistem manual tetap saja saja kamera tidak bekerja, hal ini disebabkan mesin kamera dalam keadaan tidak ada tenagapenggeraknya. Jadi hati-hati dalam mempergunakan kamera jenis ini, harus mempunyai persediaan baterai yang cukup sehingga kalau sumber tenaganya habis, maka masih ada cadangannya. Tetapi kalau kita membawa baterai satu saja dan belum selesai memotret tahu-tahu baterainya habis…, maka tinggal gigit jari saja…, karena tidak bisa melanjutkan pemotretan yang belum selesai itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Single Lens Reflex Auto Focus, merupakan upaya pengembangan teknologi elektrik pada kamera jenis SLR. Penerapan sensor elektronis yang ada di kamera akan bekerja secara automotis melalui pemprograman yang telah dirancang oleh sistem pada kamera itu sendiri. keuntungan hal ini akan memberi kemudahan pada manusia untuk mengoperasionalkan kamera, terutama orang yang tidak mengerti tentang dunia fotografi *

 

b. Kamera Pocket atau Kamera Saku

Kamera Pocket atau Kamera Saku adalah kamera automatis yang paling sederhana pengaturannya serta harganya paling murah dibangdingkan jenis kamera SLR. Keberadaan kamera ini diproduksi secara masal ditujukan kepada para pengguna yang memang tidak menguasai dunia fotografi, dan hanya sekedar dokumentasi keluarga atau lingkungan teman sendiri. Sasaran penjualan kamera ini adalah ditujuakan pada masyarakat menengah ke bawah, sehingga semua kalangan mampu membelinya, karena terlalu murah bahan yang dipakainyapun asal jadi saja, mereknyapun gak jelas terasa awam di dalam dunia fotografi dan konyolnya adalah ketika kamera itu jatuh mungkin tersenggol oleh teman kita…la… gak tahunya menjadi berkeping-keping alias hancur…, wa…jadi nangis… deh…!. Pengaturan sistem dalam kamerapun sederhana tidak serumit kamera SLR. Penggunaannyapun sangat mudah tinggal bidik tanpa mengatur ruang tajam, karena memang sudah dirancang di dalam sistem, sehingga pengguna tinggal tekan tombol…dijamin hasil jepretan tadi pasti jadi. Di dalam kamera poket ini juga sudah dilengkapi dengan lampu flash yang secara automatis memberikan penerangan pada ruang yang dirasa gelap alias kuarang cahaya dan secepat tombol ditekan, lampu flash akan menyala bersamaan dengan rekaman obyek yang dibidiknya. Jenis kamera ini banyak macamnya dari merek yang terkenal tentunya harganya agak mahal, sampai pada merek ecek-ecek gak jelas reputasinya alias harganya murah meriah. Kelemahan dari kamera ini adalah adanya efek paralaks yang ditimbulkan dikarenakan pengaruh lensa pembidik atau view finder tidak sinkron dengan lensa utama sebagai jalannya masuk gambar ke dalam bidikan bidang film, akhirnya hasil yang terjadi tidak sama persis dengan keadaan obyek yang difoto.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Pocket atau Kamera Saku merupakan kamera automotis dengan bahan baku merupa film. Kamera jenis ini merupakan kamera yang palig murah dalam dunia fotografi. Pengaturannya programnyapun terbatas hanya pada pengaturan ketepatan masuknya pencahayaan yang diperlukan. Pengaturan ketajaman tidak ada sehingga tidak memakai pengaturan focus semua telah diatur secara automatis oleh sistem. Tujuan dipasarkannya kamera ini adalah pada masyarakat awam yang kurang mengerti tentang dunia fotografi, Pengguna cukup membidikkan kamera pada obyek lalu tekan tombol…, dipastikan hasilnya jadi *

 

c. Kamera Polaroid atau Kamera langsung Jadi

Jenis Kamera Polaroid berbeda dengan system kamera yang selama ini ada baik berformat, besar, sedang maupun kecil. Kalau kamera film dengan format apun selalu menhasilkan film negative, kecuali film khusus yang memang perancangannya menjadi film positif seperti layaknya bioskop. Untuk kamera yang menghasilkan film negative selalumengalami proses pencucian fil terlebih dahulu, kemudian baru memprosesnya dalam pencetakan hingga menghasilkan lembaran foto. Didalam jenis khusus Kamera Polaroid tidak menghasilkan film negative ataupun film positif. Cara kerja kamera ini ketika melakukan pemotretan suatu obyek, langsung diproses dan dicetak di dalam kamera sehingga beberapa menit setelah melakukan pemotretan hasil gambar akan keluar dari kamera dalam bentuk lembaran foto yang sudah jadi. Keberadaan kamera ini pertama kali diperkenalkan dalam pasaran di era 1950an oleh Edwin Land. Nama Polaroid adalah nama merek dagag industry bukan nama orang atau penemunya. Kesuksusan kamera Polaroid dipasaran Indonesia ketika menjamurnya pemakaian kamera SLR manual di era tahun 1980an. Kamera ini popular dipakai oleh juru foto yang ada ditempat wisata menawarkan kepada para pengunjung yang datang dengan harga yang berfariatif. Pada era sekarang kamera ini masih ada dan keberadaannya telah dikemas ulang secara modern menyesuaikan situasi zaman. Di Indonesia peredaran kamera Polaroid terbaru dengan nama produk Polaroid Intax dipasarkan oleh PT Modern International Tbk atas nama Fujifilm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Polaroid merupakan Kamera langsung jadi dalam sekali pemotretan tanpa harus melalui proses cuci cetak selayaknya kamera film. Kamera ini populer di Indonesia sekitar tahun 1980an dan dipakai oleh juru foto amatir di tempat wisata dan ditawarkan pada pengunjung yang datang. pada era sekarang kamera Polaroid ini dikembangkan dengan desain yang menarik gaya anak muda oleh Fujifilm dengan produknya Polaroid Instax *

 

8. Kamera Advanced Photo System

Sistem kerja Advanced Photo System atau disingkat dengan kamera APS ini adalah menyerupai kamera SLR format 35 mm. Bentuk fisik dari kamera APS terlihat lebih kecil dari kamera jenis SLR format 35 mm. Kamera APS tetap menggunakan format film,namun bentuknya diciptakan secara khusus disesuaikan dengan format kameranya. Karena bentuknya secara fisik tidak sama, maka format film yang dipakaipun mengalami perbedaan. Kamera APS tidak bisa memakai film berformat 35 mm, demikian juga sebaliknya Kamera SLR tidak bisa memakai film berformat APS. Ada perbedaan yang mencolok dari hasil antara kamera SLR format 35 mm dengan Kamera APS. Kalau Kamera SLR mengasilkan filmnegatif dan untuk melihat hasilnya harus mengalami pemrosesan cuci setak. Sedangkan Kamera APS menghasilkan film positif yang tidak perlu dilakukan pencetakan, karena film sudah dalam bentuk gambar aslinya. Pengemasannya juga tidak seperti film positif Slide yang dibingkai, namun film Kamera APS digulung pada tempatnya atau wadahnya, sehingga kalu ingin melihat hasil foto tinggalmenarik gulunganrol film tersebut pada wadahnya. Dari segi pendokumentasian kamera APS lebih menguntungkan, karena film masih tetap terjaga dari debu atau goresan. Dari segi biaya pemrosesannya yang dilakukan pada studio khusus itu sangat mahal. Dari kemahalan inilah akhirnya kamera berformat ini jarang disukai oleh pengguna dan dikembangkan secara serius oleh pihak produsen dalam industry kamera fotografi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Advancd Photo System merupakan kamera dengan bentuk yang didesain secara khusus lebih kecil dari Kamera SLR 35 mm. Pemakian format filmnya juga dirancang khus tidak seperti film format 35 mm. Pada film APS tempatnya merupakan penyimpanan dari hasil foto, sehingga ketika dalambentuk jadi berupa film positif dan untukmelihatnya tinggal menarik gulunganrol film dari wadahnya. dari segi dokumentasi film jenis ini sangat menguntungkan, karena film bisa terjaga dengan baik dari goresan *

 

9. Kamera Digital

Kamera Digital adalah kamera yang mempergunakan teknologi terkini dan tergolong dalam peringkat teknologi canggih. Kamera Digital tidak lagimengunakan unsur film seloloid seperti yang dipaki pada teknologi kamera sebelumnya, dimana hasil photo berupa film negative dan untuk melihat hasilnya harus melalui proses cuci cetak fil tersebut. Sedangkan film positif harus melalui cuci film yang diproses secara khusus untukmelihat hasil film positifnya. Pada teknologi Kamera Digital komponen pengganti film adalah Memory card. Pada kamera jenis ini terdapat “Micro Chips” semi konduktor yang disebut dengan CCD (Charged Couple Devise). CCD ini terbuat dari unsur-unsur kimia yang pekah dengan cahaya dan keberadaannya berfungsi menciptakan melalui titik-titik yang jumlahnya banyak sekalai menjadi sebuah gambar di dalam kamera tersebut setelah mengalami suatu pemrosesan pembakaran. Cara kerja pada Kamera Digital adalah CCD akan menyerap cahaya dari obyek bidikan, kemudian cahaya yang terserap itu akan diubah menjadi data-data gambar dimana wujudnya berupa titik-titik yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan dalam biasan warna-warni yang ada pada obyek tersebut. Dari jumlah titik-titik yang terkumpul itu akhirnya membentuk sebuah gambar persis seperti obyek alsinya. Makin banyak jumlah titiknya bebarti hasil gambar akan semakin bagus dan tajam warnanya, karena jumlah titiknya banyak itulah akan menyebabkan besaran file  menjadi besar muatannya, hal inilah yang dikatakan dengan besaran resolusi sebuah gambar.  Pengertian ini akan mencerminkan pemaknaan sebaliknya, apabila titiknya berjumlah kecil akan menciptakan gambar menjadi kurang tajam dan muatan besaran file menjadi ikut kecil juga. Jumlah besaran titik yang dihasilkan tergantung dari besarnya CCD dalam kamera tersebut. Jika sebuah Kamera Digital memiliki CCD besar katakanlah 15 mega pixel, maka kamera tersebut akan mampu menghasilkan titik-titik yang jumlahnya banyak hingga berdampak hasil resolusi gambar menjadi besar. Hal tersebut juga sebaliknya, jika kamera tersebut memiliki CCD kecil katakanlah hanya 4 mega pixel, maka titik yang dihasilkan menimbulkan pengecilan dan akan berdampak pada kecilnya resolusi gambar yang dihasilkan.

Dalam menciptakan ukuran hasil foto atau menentukan resolusi dari foto yang akan dihasilkan itu, pengguna dapat mengatur secara tersendiri atau dengan pemakaian program di dalam menyusun setingan yang akan dilakukan. dalam menentukan besaran ukuran frame gambar terdapat beberapa pilihan resolusi seperti Hi, yang berarti High Image Quality, no Compression. Berikutnya Fine yang berarti Fine Image Quality, Low Compression. Kemudian Norm berarti Normal Image Quality, Medium Compression. Terarhir adalah Basic Image Quality, High Compression. Pemilihan kategori tersebut tergantung dari pilhan yang dikehendaki. Perlu diketahui jika pemilihan ukuran frame dengan resolusi tinggi, maka jumah file yang dipakai adalah besar sehingga menghasilkan jumlah foto menjadi sedikit. Sebaliknya jika memakai resolusi rendah maka jumlah file menjadi kecil sehingga menghasilkan foto menjadi banyak. Itulah gambaran cara menggunakan kamera digital, dari paparan tersebut diatas… mana yang disuka… tinggal tergantung kebutuhan penggunanya.

Model atau jenis kamera Digital sangat banyak bentuknya. Sejak memasuki era digital , peran kamera sebagai komponen dalam perekman sutu peristiwa dimanfaatkan pada produk-produk elektronik lainnya misalnya produk Handphone, Ipad, Tablet, Lapto serta sejenisnya. Salah satu kamera  yang paling populer dikalangan masyarakat adalah jenis kamera SLR, meskipun bentuk lain juga memiliki keistimewaan tersendiri, hal ini dikarenakan penerapan fungsi kamera akan menghasilkan daya tarik tersendiri pada produk yang dipakai dalam menerapkan teknologi digital kamera tersebut. Bagi produsen industri elektronik hal itu merupakan bagian tersendiri dalam menarik konsumen terhadap roduknya, dan sekaligus mengikuti suatu trand teknologi yang ada di masyarakat. Beberapa Kamera digital dapat dilihat pada contoh berikut ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kamera Foto Digital merupakan revolusi dari industri fotografi dengan penerapan teknologi terkini dan digolongkan dalam klasisfikasi penerapan teknologi canggi dalam kamera fotografi. Kamera Digital tidak menggunakan unsur film seloloid lai, tetpi menggunakan CCD yang berfungsi menciptakan titik-titik menjadi sebuah gambar. Keragaman kamera Digital dipakai dalam berbagai macambentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat diantaranya terbentuk dalam Kamera Digital SLR, Kamera Digital Pocket, Kamera Digital pada Handphone, Ipad, Tablet hingga Laptop *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

Davis, Harold. 2011. Creative Lanscapes : Digital photography Tips & Techniques. Indianapolis, Indiana : Willy Publishing. Inc.

Story, Derrick. 2004. Digital Photography Hacks. Gravenstein Highway North. Sebastopol CA : O’ Reilly Media. Inc.

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sugiarto, Atok. 2006. Cuma Buat yang Ingin Jago Foto. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Hadiiswa. 2008. Fotografi Digital: Membuat Foto Indah dengan Kamera Saku. Jakarta : Mediakita.

Alwi, Audy Mirza. 2004. Fotografi Jurnalistik : Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa. Jakarta : Bumi Askara.

Giwanda, Griand. 2001. Paduan Praktis Belajar Fotografi. Jakarta : Puspa Swara.

Giwanda, Griand. 2002. Paduan Praktis teknik Studio Foto. Jakarta : Puspa Swara.

Mulyanta, Edi. S. 2007. Teknik Modern Fotografi Digital. Yogyakarta : Penerbit Andi.

Ardiansyah, Yulian. 2005. Tip & Trik Fotografi Teori dan Aplikasi Belajar Fotografi. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Feininger, Andreas, Edit : RM. Soelarko. 1999. The Complete Photographer. Segi Teknik Fotografi. Semarang : Dahara Prize.

ARPS, Ray Hayward, Edit : RM. Soelarko. 2002. The Craft of Photography. Semarang : Dahara Prize.

Beberapa situs terkait dengan topik permasalahan dan diinterpretasikan ulang tetapi tidak mengurangi substansi di dalamnya.

Posted in FOTOGRAFI | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply