PANCASILA DALAM KRISIS IDEOLOGI BANGSA

PANCASILA DALAM KRISIS IDEOLOGI BANGSA

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Abstraks

Kencangnya hembusan angin globalisasi dengan segala macam dampak yang ditimbulkan telah menerjang bangsa ini dengan intensitas begitu tinggi, sedikit banyak telah mempengaruhi perilaku masyarakat negeri ini ke arah tumbuhnya masyarakat kapitalis. Dampak dari  itu semua menyebabkan melencengnya perilaku dari masyarakat terhadap  ideologi bangsa Pancasila yang seharusnya sebagai pandangan dan pegangan hidup bangsa Indonesia itu. Eksisnya budaya impor yang mengusung beragam faham-faham ideologi dari luar itu, sedikit banyak telah mencuci otak penghuni bangsa ini, hingga membuat lunturnya semangat kebangsaan dan pemahaman ideologi bangsanya sendiri dan tanpa sadar telah merubah pola pikir dan gaya hidup kearah kebarat-baratan yang notabene sebagai bagian dari masyarakat lebih modern. Bangsa ini sebenarnya tidak menutup mata atas datangnya kebudayaan luar hadir  dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, namun dalam implementasinya itu perlu adanya pengkajian secara mendalam tentang baik dan buruknya, hal tersebut bertujuan sebagai filter terhadap budaya yang datang tidak mematikan budaya lokal, hal tersebut dikarenakan penerapan ideologi negara yang membedakannya. Hadirnya “Budaya Populer” yang telah menguasai perilaku insan bangsa ini merupakan jilmaan atas berkuasanya budaya luar mempengaruhi dan menguasai serta mempermainkan jiwa-jiwa republik ini yang tak dibentengi dengan kuatnya penanaman ideologi Pancasila di dalam dirinya, membuat terciptanya perilaku masyarakat yang meleceng dari seharusnya seperti yang telah digariskan oleh ideologi Pancasila. Berbagai macam ketimpangan yang berkembang di tengah masyarakat hingga menimbulkan lunturnya jatidiri bangsa itu berdampak pada keterpurukan bangsa ini ke dalam krisis multi dimensi, bahkan sudah mengarah ke krisis ideologi bangsa. Kenyataan ini disebabkan apa yang namanya ideologi Pancasila selama ini hanya diperlakukan sebagai  tema, slogan dalam setiap kesempatan bahkan tak luput dari hiasan semata tanpa memperdulikan lagi pengimplementasian pengamalannya. Keberadaan ideologi Pancasila pada kenyataannya telah kalah pamornya dengan ideologi-ideologi lain yang telah terserap oleh warganya, bersamaan dengan arus globalisasi yang berkembang, dan ini akan terus bergolak menggerogoti Pancasila lebih dalam lagi hingga akhirnya tumbang dan lenyap ditelan derasnya modernisasi. Jika hal ini tidak diantisipasi secara serius oleh seluruh komponen negeri ini, bukan tidak mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia akan rontok Ideologinya oleh masyarakatnya sendiri.

 Kata Kunci : Globalisasi, Krisis, Ideologi, Pancasila

 

Pendahuluan

Visi dari sistem demokrasi bangsa Indonesia, sudah terang dan jelas penggambarannya seperti yang telah dilahirkan dan diwariskan oleh para pendahulu pendiri bangsa ini yaitu ingin mewujudkan suatu pemerintahan yang mampu melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan ideologi bangsa Pancasila. Dalam penjelasannya itu telah diuraikan, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia bertujuan memajukan kesejateraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut serta mewujudkan perdamaian ”abadi” baik dalam lingkup wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri  maupun lingkup wilayah dunia, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan dan Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelima kalimat ini lebih dikenal dengan sebutan Lima Sila dari pemaknaan kata Pancasila telah menjadi satu-satunya ideologi sebagai pandangan dan pegangan hidup bagi seluruh rakyat Indonesia. Kelima Sila dari makna Pancasila tersebut, merupakan hasil pemikiran para tokoh pejuang bangsa yang telah membebaskan dari cengkraman para penjajah dan menjadi kehendak sekaligus suatu pernyataan sebagai Ideologi Bangsa Indonesia dari Para pendahulu pendiri bangsa ini, sehingga Pancasila harus didudukan sebagai landasan orientasi dan pendekatan bahkan sebagai instrumen dalam segala macam bentuk praktik-praktik berdemokrasi  suatu pemerintahan negara yang bersih dan berwibawa demi terwujudnya cita-cita luhur bangsa yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sebagai ideologi suatu bangsa yang menjadi pandangan dan pegangan hidup masyarakatnya, Pancasila haruslah bersifat universal mencakup segala macam nilai-nilai sosial dan budaya Indonesia serta menjadi orientasi dalam hidup oleh seluruh masyarakatnya. Sebagai ideologi bangsa, maka keberadaannya  selalu diimplementasikan ke dalam perilaku kehidupan dalam rangka berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kalau dikaji dari butir-butir kelima sila dalam ideologi Pancasila tersebut, sebenarnya sudah mencakup gambaran pembentukan karakter manusia Indonesia yang ideal, sebagai mana yang diharapkan para penggali dari pancasila itu sendiri. Gambaran pembentukan manusia Indonesia seutuhnya itu, dapat diilustrasikan  Pada sila pertama tersirat bagaimana manusia Indonesia berhubungan dengan Tuhannya atau kepercayaannya. Pada sila kedua tergambar bagaimana manusia Indonesia harus bersikap hidup dengan orang lain sebagaimana layaknya manusia yang punya pikiran dan ahklak hingga dia bisa bersikap sebagai mahkluk yang tertinggi dibandingkan dengan mahkluk lainnya yaitu binatang. Sila ketiga menerangkan bagaiama manusia Indonesia menciptakan suatu pandangan betapa pentingnya arti persatuan dan kesatuan bangsa dari pada bercerai berai seperti pada pepatah bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh.  Sila keempat telah menegaskan bagaimana manusia Indonesia mengimplementasikan cara bersikap dan berpendapat serta memutuskan sesuatu menyangkut kepentingan umum secara bijak demi kelangsungan kehidupan berdemokrasi yang  terlindungi antara menyuarakan hak dan kewajibannya berimbang dalam mengimplementasikannya.   Pada sila kelima dijabarkan bagaimana manusia Indonesia mewujudkan suatu keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia itu sendiri. Dari penjabaran kelima sila tersebut di atas, maka sudah sepantasnya bahwa Pancasila beserta kelima silanya itu layak dijadikan sebagai pandangan dan pegangan hidup serta dijadikan sebagai pembimbing dalam menciptakan kerangka berpikir untuk menjalankan roda demokratisasi dan diimplementasikan dalam segala macam praktik kehidupan menyangkut berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di dalam Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

Ideologi Pancasila akan terus hidup dalam jiwa-jiwa masyarakat Indonesia dan akan  mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam situasi dan kondisi apapun, Apabila dari setiap sila-sila yang ada pada Pancasila itu, dimaknai, dihayati secara benar dan mendalam serta diamalkan dalam perilaku segala hal menyangkut kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, bukan hanya sekedar penciptaan kata-kata tema atau slogan dalam formalitas kegiatan semata. Keterpurukan dari bangsa selama ini dikarenakan oleh suatu penyebab diantaranya sikap pemaknaan terhadap sila-sila yang ada pada Pancasila itu, diimplementasikan oleh insan negeri ini hanya sebatas setengah hati saja dan lebih parahnya adalah sebagai jalan keformalitasan suatu kenaikan jabatan semata serta syarat administrasi dalam kegiatan apapun yang diselenggarakan oleh pemerintahan lewat pemberlakuan penataran P4 pada masa pemerintahan orde baru. Penyelenggaraan suatu kegiatan semacam Penataran P4 yang dilakukan kepada berjuta-juta masyarakat negeri ini dengan berbagai macam pola pendukung itu, ternyata tidak mampu menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya seperti yang diharapkan sebagai mana mestinya. Dampak dari kegiatan ini berimbas pada munculnya persepsi masyarakat bahwa kegiatan penataran P4 adalah pekerjaan yang sia-sia dan tidak ada gunanya, hanya buang-buang waktu dan tenaga saja, sehingga lontaran pendapat yang ada ditengah masyarakat menganggapnya kegiatan penataran P4 itu gagal total dan akibatnya kefatalan persepsi yang dilahirkan dalam pikiran masyarakat terhadap Ideologi Pancasila selalu dengan sikap yang sinis dan mala menjadi bahan tertawaan oleh masyarakat terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Pancasila…!. wee…bener-bener keterlaluan penghuni bangsa ini…!!!. Padahal tujuan awal diadakannya penataran P4 adalah sangat baik, karena hasilnya nanti diharapkan terlahir insan-insan negeri ini sejiwa dengan isi yang ada di dalam ke lima sila dari Pancasila itu sendiri.

Dikarena dalam pengelolaan penyelengaraan Penataran P4 tidak benar dan terarah serta penerimaannya dengan suatu hal keterpaksaan dari para pesertanya itu, maka hasilnya tidak dapat diharapkan sebagaimana mestinya. Dampak dari hal ini maka lahirlah sikap-sikap yang melenceng dari garis besar yang ada dalam kelima sila dari Pancasila itu sendiri, hingga negeri ini memunculkan  manusia-manusia yang berjiwa korup, beringas, individualistik, materialis, kapitalis, hedonis serta faham-faham melenceng dari makna-makna Pancasila hingga menimbulkan suatu krisis budaya. Dari keadaan yang demikian itu, maka secara tidak langsung akan tercipta suatu pembudayaan sikap yang memperburuk keadaan peradaban bangsa ini pada taraf yang sangat memprihatinkan hingga melahirkan pembiadaban budaya. ”Ketika terjadi krisis tentang jatidiri bangsa, maka masyarakat tidak peduli lagi tentang ideologi bangsanya, karena dianggap tidak berpihak kepadanya dan mencoba mencari-cari ideologi lain termasuk memuja-muja bangsa lain dari berbagai aspek yang mereka pahami dan dengan serta merta caranya sendiri, mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari” (Naya Sujana, 2008). Bangsa ini sudah tidak bisa lagi membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang tidak baik… semua dicampur aduk seperti tumpukan sampah di pinggiran jalanan hingga peradaban yang terlahir bukannya suatu hal yang bisa mencerahkan masyarakat ke arah lebih baik seperti harapan dari makna Pancasila itu sendiri… mala sebaliknya menjadikan terlahirnya peradaban setan alas dan setan gundul berkuasa dalam relung-relung kehidupan dari mulai petingginya sampai pada taraf rendahnya semua mencerminkan suatu tindakan atas berkuasanya zaman edan dalam pernik pernik peradaban setan… dedemit… kuntil anak… tuyul… gendruwo… serta dinastinya itu…yang selalu tidak menggunakan logika pemikiran dalam bersikap…!!!.

Dalam situasi semacam ini masyarakat rawan denga tindakan-tindakan ke arah negatif, hal tersebut disebabkan tidak adanya pegang hidup yang kuat dalam dirinya, dan bukan tidak mungkin dapat kehilangan kendali diri hingga berdampak pada lunturnya jatidiri bangsa. Seiring dengan kencangnya arus globalisasi yang mengusung beragam ideologi dari dunia barat dengan intensitas tingginya penyebaran dalam situs virtual digital, dimana keberadaannya sulit dibendung lagi pergerakannya, secara berkala sedikit banyak mempengaruhi perilaku masyarakat negeri ini lebih banyak ke arah negatifnya daripda ke arah positifnya. Dampak dari itu semua telah terekam dalam realitas kehidupan di tengah masyarakat, atas melencengnya perilaku dari masyarakat akibat pengaruh eksisnya budaya impor yang telah mencuci otak penghuni bangsa ini hingga membuat lunturnya semangat kebangsaan dan pemahaman ideologi bangsanya sendiri. Masyarakat negeri ini telah termakan oleh beragam ideologi yang terbawa oleh kencangnya arus globalisasi melanda negeri ini, dan tanpa sadar telah merubah pola pikir dan gaya hidup kearah kebarat-baratan yang notabene sebagai bagian dari masyarakat lebih modern.  Berapa banyak negeri ini yang perilakunya jelas-jelas mengingkari dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dalam pikirannya seolah-olah Pancasila sebagai penghambat modernisasi sehingga kalau diajak ngomong tentang Pancasila kupingnya menjadi panas, matanya merah melotot menndakan sikap berontak dan pikirannya bercampur baur penuh dengan ketidak jelasan hingga melahirkan sikap sinis terhadapnya. Pancasila dihadapannya seolah-olah merupakan barang bekas, produk gagal dan aliran rezim orde baru, sehingga masyarakat tak mau menanggapinya bahkan timbul suatu kecenderungan untuk menjauhinya… gila…orang-orang yang sudah termakan oleh provokasi atas eksisnya budaya impor…!. “Keadaan ini disebabkan oleh kenyataan tidak dimaknainya secara benar tentang sistem nilai, wawasan hidup dan sikap yang berlaku di masyarakat selama ini dan tidak dibatinkannya pilar-pilar kebudayaan itu dalam diri setiap anggota masyarakat negeri ini” (Kunjana Rahardi, 2000).  Sebagai manusia yang mempunyai daya nalar tinggi, pernyataan yang mengatakan bahwa budaya impor merupakan budaya dari masyarakat lebih modern adalah pendapat yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Hanya orang-orang yang bodoh, tolol, dan munafiklah yang menganggap Pancasila sebagai produk gagal dan biang kerok atas keterpurukan bangsa ini. Perlu digaris bawahi, bahwa penyebab penyengsaraan negeri ini adalah orang-orang yang tidak mampu memahami, dan mengahayati secara jernih serta mengelolah dalam pelaksanaannya tentang Pancasila akibat melencengnya cara pandang disebabkan dari kegoblokan dan ketololannya itu…, bukan Pancasila yang dipersalahkan taaauuukkk…!!!

 

 

 

 

 

 

* Ideologi Pancasila sendiri sudah jelas menerangkan bahwa di dalamnya terkadung makna terpeliharanya toleransi antar umat beragama, rakyat senantiasa menolong sesama pada yang lemah, nilai persatuan lebih diutamakan dengan memupuk tali persaudaraan lewat kegotong royongan dalam kegiatan, senantiasa bermusyawarah untuk mencari mufakat dalam memutuskan segala persoalan dan mewujudkan suatu keadilan dan kemakmuran bagi seluruh warga negara yang ada di dalamnya *

 

1. Penyelewengan Sila Pertama dari Pancasila

Suatu rintangan dalam implementasi dari Sila Pertama Pancasila adalah Kurangnya penghayatan secara mendalam masalah Ketuhanan Yang Maha Esa oleh kelompok-kelompok tertentu yang dikendalikan oleh seseorang atau organisasi tertentu dengan dalil mengatasnamakan agama, demi memuluskan tujuan khusus untuk kepentingan kelompoknya sendiri atau organisasi tertentu. Sebagai mahkluk sosial tentunya manusia perlu menciptakan adanya saling berhubungan secara horizontal antar umat beraga dan tumbuhnya saling hormat menghormati antar pemeluk agama yang ada hingga nantinya akan menciptakan suatu kondisi yang kondusif serta terpeliharanya toleransi beragama. Dalam hal ini penjabaran isi makna dari Pancasila lewat 36 putir penjelasannya telah dicanangkan suatu sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia. Ketika beradaban manusia makin tinggi tingkatannya dan diibangi terciptanya pluralisme pemikiran masyarakat, hingga menimbulkan persepsi yang berbeda-beda antar sesamanya itu, menyebabkan timbul gesekan-gesekan antar umat beragama dengan dilatar belakangi oleh kompleksitas kepentingan yang berbeda pula. Karena masyarakatnya tidak dibekali dan dibentengi dengan sikap kerukunan dan toleransi antar umat beragama yang kuat, seperti yang dicanagkan dalam sila pertama dari Pancasila itu, maka terjadilah paradoksi interpretasi sesama individu atau kelompok, dimana suatu kehidupan beragama yang semula bertujuan menciptakan suatu keharmonisan lewat berbagai kelompok yang saling membantu antar sesamanya demi kemanusiaan, kini berbalik menjadi suatu malapetaka yang dapat mencemaskan berbagai umat beragama yang ada di Indonesia ini.

Kalau dilihat secara nyata dalam realitas kehidupan di tengah masyarakat, belakangan ini sering terjadi benturan antar kelompok yang mengatas namakan agama dalam menyelesaikan sesuatu dan terkdang tidak ada kaitannya satu denan yang lain, hingga menimbulkan tindakan anarkis yang memakan korban jiwa. Suatu kelompok agama islam yang sering dirugikan, karena telah menjadi sorotan keras bahkan sering menjadi momok bagi masyarakat luas akibat lebelisasi dari tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab itu oleh para kelompok garis keras, telah mengikat pada suatu tindakan kekerasan bahkan mengarah pada tindakan terorisme sehingga menciptakan suasana ketegangan dan ketakutan masyarakat . Hal ini terjadi adanya berbagai macam peristiwa seperti pengeboman pada sasaran tertentu dengan alasan tertentu pula telah dilakukan oleh sekelompok  yang mengatasnamakan islam garis keras. Pergolakkan politik di Indonesiapun juga tak jarang mempolitisir masalah politik dengan melibatkan unsur agama dalam penyelesaiannya, sehingga dampak yang terlahir akan mengisyaratkan suatu kerumitan hingga muncul persepsi di kalangan masyarakat tentang kesulitan untuk membedakan mana kepentingan agama dan mana kepentingan politik, karena kesemuanya itu dikemas sedemikian rupa hingga menciptakan pengklaburan makna yang ada. Dalam Institusi tertentu juga menggunakan isyu agama tentang timbulnya pendiskriminasian karyawan diakibatkan masalah kepercayaan agamanya yang berbeda termasuk instutusi pendidikanpun juga melakukan hal yang sama.

 

 

 

 

 

* Pudarnya pemahaman tentang toleransi umat beragama yang dicangnkan dalam Pancasila membuat tergoresnya kerukunan umat bergama tersebut hingga timbul kerusuhan yang mengatasnamakan agama, kegiatan teror bom yang dihembuskan oleh kelompok kelompok islam garis keras membuat suasana ketakutan di masyarakat makin mencekam, hingga muncul kelompok-kelompok perdamaian yang menyuarakan stop kekerasan. Sikap yang tegas dari penegak hukum untuk menangkap para pengacau ketentraman masyarakat sangat diperlukan demi terciptanya kedamaian di bumi Indonesia tercinta *

 

2. Penyelewengan Sila Kedua dari Pancasila

Suatu rintangan dalam implementasi dari Sila Kedua Pancasila adalah Banyaknya warga negara Indonesia yang sengan meremehkan dan mempermainkan orang lain tanpa ada rasa malu, menyesalmeskipun dihadapan orang banyak, seolah-olah suatu hal yang biasa disebabkan pengaruh dari budaya luar yang terus memprovokasi melalui situs-situs virtual digital, hingga budaya yang keblinger tersebut telah membudaya di bumi Indonesia. Kalau di cerna secara jernh sila kedua dari Pancasila itu memberikan makna dan sekaligus pencerahan kepada manusia Indonesia agar selalu bertindak adil dalam segala aspek, dan senantiasa mempertimbangkan antara dirinya dengan orang lain sebagai layaknya manusia harus selalu berbuat bijak seperti yang diungkapkan oleh filosof Yuani Kuno yaitu Sokrates. Suatu penggamabaran yang mudah dimengerti bagi semua oarang adalah kalau tidak mau dicubit, yaa… jangan mencubit orang lain….! dan Kalau tidak mau disakiti, yaa… jangan menyakiti orang lain….!. Dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah empati, yakni kemampuan seseorang menempatkan diri sebagai orang lain dalam situasi dan kondisi apapun. Pengertian ini menjelaskan, bahwa seseorang diharapkan bisa mempertimbangkan dan membayangkan atas keberadaan orang lain sebagai dirinya sendiri dan menempatkan suatu perbuatannya antara yang dilakukan dan ditinggalkan, hal ini mengisyaratkan sesuatu yang dilakukan hendaknya sesuatu yang menimbulkan kesan kebaikkan danyang ditinggalkan tentunya sesuatu yang mendatangkan keburukan atau kenistaan. Sebagai mana layaknya manusia yang dibekali pikiran dan ahklak oleh Tuhan Yang Maha Esa tentunya bisa melahirkan suatu perbuatan atau sikap yang bisa membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Dalam mengarungi hidup di Indonesia yang berideologi Pancasila tentunya setiap warga negaranya bisa memegang prinsip-prinsip serta kebiasaan-kebiasaan atau berbudaya yang mentradisi dengan menjunjung tinggi norma-norma kehidupan yang suadah menjadi sesuatu kesepakatan umum sebagai budaya Indonesia dimana keberadaannya telah menjadi cerminan manusia Indonesia yang beradab. Jika manusia tidak bisa menenpatkan posisinya dengan orang lain dalam sikap saling menghargai dan menghormati orang lain, maka akan terjadilah suatu kekontrasan makna yang ditimbulkan dan bukan tidak mungkin akan disebut sebagai manuasia yang biadab.

Suatu kasus penginkaran pada sila kedua ini tampak pada semakin banyaknya pelecehan terhadap orang lain dalam keragaman permasalahan, terserapnya perilaku sek bebas yang melanda generasi muda bangsa ini dalam setiap kesempatan adalah hasil pengaruh dari budaya luar yang telah membudaya di dalam masyarakat tanpa memperdulikan lagi sebab dan akibatnya. Dalam keadaan seperti ini masyarakat kita dengan enaknya, bahwa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari gaya hidup masyarakat modern…!, wee… uuueeedddaannn… tenan… itu namanya ”kumpul kebo”…  MAN…!. Perilaku dari masyarakat baik kalangan muda maupun orang tua sudah tidak ada sekat pembeda antara keduanya, budaya malu… diotaknya sudah dianggap kuno, suatu kehidupan dengan pernik-pernik keglamouran telah menjadi bagian dari jatidiri hingga tiap hari bersolek ”kaya munyuk dipupuri” mirip dengan topeng monyet hingga rupanya beluk…penuh dengan nuansa warna-warni make-up karakter…!. Warna-warni kehidupan sudah tumpang tindih bercampur aduk persis ”bubur ayam” sehingga sulit membedakan mana nilai-nilai budaya asli Indonesia dan mana nilai-nilai budaya impor yang berasal dari dunia barat itu. Globalisasi yang menyerang Indonesia dengan mengantarkan situs-situs pornografi dalam keragaman warna, begitu mudahnya diakses oleh masyarakat tanpa ada antisipasi kelayakannya sebagai bendungan dari pihak penguasa yang berwenang, termasuk pemberlakuan undang-undang yang mengatur sirkulasi beredarnya informasi tersebut, semuanya dikaburkan oleh pihak-pihak yang tak jelas ujung pangkalnya maupun bentuk wujudnya, karena terlihat samar dan tak jelas keberadaannya, semuanya bergerak bagaikan hantu berkeliaran tak peduli lagi situasi disekitarnya dari pagi, siang, sore, petang bahkan malam hingga dini hari semuanya diserang melalui jaringan kabel digital hasil kolosi para penguasa media dengan pihak penguasa jaringan. Kenyataan ini terbukti “bahwa kekuasaan media diterapkan secara berkolusi dengan kelas yang berkuasa” (Graeme Barton, 2008), dengan demikian segala usaha yang dilakukan para kapitalis itu mulus tanpa ada halangan yang berarti…, meskipun dampak yang ditimbulkan pada masyarakat bersifat negatif, semuanya tak mempedulikannya.

Praktik-praktik yang mengusung faham kapitalisme dan materialisme telah menguasai perekonomian negeri ini hingga masyarakatnya mempunyai kebiasaan bersikap konsumtif dan hedonis terutama kalangan menengah keatas yang selalu memprovokasi keadaan ini di berbagai jaringan media hingga penyaikit tersebut menular ke kalangan di bawahnya. Para kelompok dominan dengan seenaknya telah mempermainkan pasar dan menciptakan komoditas baru lewat berbagai media yang telah terbentuk dalam strukturnya, sehingga posisi kaum pedagang kecil dan menegah negeri ini semakin terjepit dan tak berdaya. Perencanaan ini memang telah dirancang sebelumnya dengan membangun jaringan-jaringan yang kuat hingga kekuatan telah terbentuk dengan sendirinya, segala macam apa yang ada dalam pikirannya tentang “ide-ide itu dituangkan dalam instrumen-instrumen kapitalis sehingga akhirnya perilaku masyarakat menjadi bagian dari masyarakat kapitalis yang konsumtif serta dari sistem produksi itu sendiri” (Burhan Bungin, 2001 : 25). Minimnya rasa empati masyarakat terhadap sesamanya semakin memanjang tak berujung, hal itu disebabkan kuatnya dampak dari arus globalisasi yang menerjang negeri ini hingga faham-faham dengan ”berbagai macam isme” itu, dengan mudahnya telah memprovokasi dan mencuci otak orang-orang yang tak dibentengi dengan nilai-nilai keluhuran bangsa hingga menjadikan manusia Indonesia berego tinggi tapi nalarnya bodoh, totol dan begog serta tak punya pendirian yang kuat sebagai warga negara Indonesia yang beridologikan Pancasila itu, sehingga sikapnya dapat dikatakan bagai air di daun talas. Negeri ini telah diatur oleh orang-orang yang haus dengan kekuasaan. Berbagai macam cara dilakukan dengan menghalalkan segala cara demi mulusnya tujuan dari kemauan, organisasi atau institusinya, sehingga orang lain yang tak sepaham acap kali kena dampaknya hingga dapat menurunkan harkat dan martabat orang lain. Dalam realitas kehidupan acap kali berhembus suatu yang tak jelas ujung pangkalnya dengan warna warni aksi yang terkadang menjengkelkan bagi orang yang kena dan menjadi kormabnnya, berbagai intrik dilancarkan, fitna dihembuskan, alat hukum dipermainkan seenaknya, mobilisasi massa dibangkitkan demi menciptakan dukungan yang penuh dengan perekayasaan serta mengorbankan teman sejawatnyapun dilakukan demi mendapatkan kekuasaan… semata. “suatu cara untuk mencapai kekuasaan dengan cara memanipulasi secara psikologis suatu kelompok atau massa, atau dengan cara menggunakan kekuatan ini dengan dukungan dari massa” (Marlin, 2002: 19). Apa yang mereka lakukan hanyalah menguntungkan kelompoknya saja tanpa memperdulikan kepentingan sesama hingga perbuatan itu pantas dikatakan sungguh cara-cara yang dilakukan oleh manusia tidak beradab alias biadab, dan tak ubahnya wujudnya manusia tetapi cara-cara hidupnya seperti binatang…!!!.

 

 

 

 

 

* Betapa banyaknya penyelewengan dari sila-sila dari Pancasila sebagai Ideologi bangsa Indonesia hingga memunculkan sikap yang bengis pada masyarakat sampai munculnya tindak kekerasandi tengah masyarakat. Faham Konsumerisme yang melahirkan sikap konsumtif melahirkan bangsa ini menjadi bangsa yang senang belanja hingga melahirkan tempat semacam mal tumbuh di mana-mana, hal ini mencerminkan bangsa yang hanya sekedar pemakai terutama produk luar, tanpa mau belajar menciptakan barang itu sendiri dengan standar luar. Sikap perilaku kebebasan yang melekat di kalangan remaja dewasa ini membuat generasi yang terlahir menjadi generasi yang rusak secara moral dan sangat cekatan dengan gaya hidup semata *

 

3. Penyelewengan Sila Ketiga dari Pancasila

Suatu rintangan Implementasi dari Sila Ketiga Pancasila adalah Tergoresnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia dari sikap generasi muda yang cenderung mengaplikasikan kebudayaan luar dalam aktifitas kehidupan dibandingkan dengan kebudayaan Indonesia itu sendiri, meskipun dalam dirinya masih suka makan tape, telo dan nasi rawon. Kenyataan ini tak lepas dari gencarnya arus globalisasi yang menerjang segala penjuru dunia dalam intensitas tinggi tanpa dibekali dengan idealisme yang kuat dari bangsanya, hingga budaya yang datang menerkam dan menyerang lalu masuk ke dalam sukma sampai terbentuknya menjadi jatidiri baru yang mencerminkan hidup sok kebarat-baratan pada generasi muda saat ini. Dari sinilah cinta tanah air mulai kendor di dalam dirinya, cerminan realitas kehidupan semakin nyata ketika digelar suatu pentas budaya Indonesia misalnya pentas kuda lumping, musik dangdut dan tari jaipongan mereka ogah datang dan alergi dengan hal itu, maka yang terjadi adalah lebih baik berdugem ria sambil ajep-ajep kepala muter-muter kayak orang lagi teler. Di dalam sila ketiga dari ”Pancasila itu sendiri sudah memberikan bahwa nilai Persatuan Indonesia dapat terbentuk dan diwujudkan dalam tiga konteks yang saling menyatu dan mengikat satu sama lainnya dalam membangun persatuan dan eksistensi sebagai bangsa yang kuat, diantaranya konteks psikologis, konteks sosial-politik dan konteks geografis” (Redi Panuju, 2011).

Kenyataan ini menegaskan secara konteks psikologis memberikan makna bahwa persatuan bangsa dapat terwujudkan bila masing-masing warga negara merasa mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan, perlakuan yang sama lebih ditegaskan lagi pada illustrasi seperti dalam mengakses sumber-sumber kehidupan, misalnya memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, mendapatkan perlindungan hukum dan yang lainnya. Terhapusnya diskriminasi antar warga negara, sehingga tidak ada lagi pengkotak-kotakan kelas warga negara antara kelas tinggi dan kelas rendah antara kelas priyayi atau dara biru dan rayat jelata atau darah coklat ke hitaman yang terlihat kusam, kumel dan dekil, antara pendidikan tinggi dan pendidikan rendah. Demikian juga dalam konteks sosial-politik makna persatuan bisa terwujudkan dengan baik jika setiap warga negaranya turut berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, bergaul pada semua golongan hingga terciptanya kerukunan warga tanpa membeda-bedakan suku, agama serta status sosial. Setiap warga negara dituntut untuk berpartisipasi dalam kehidupan berdemokrasi tanpa ada unsur paksaan antar sesamanya. Nilai kesadaran dari setiap warga negara sangat berarti dan turut menentukan keberhasilan dari terwujudnya demokratisasi bangsa demi berjalannya roda pemerintahan yang melindungi setiap warganya. Sedangkan konteks geografis menggambarkan atas tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga bentuknya. Setiap warga negara dituntut untuk mencintai kepada negaranya dalam situasi dan kondisi apapun juga dan bukan sekedar hanya ucapan atau slogan belaka, melainkan dengan suatu tindakan yang nyata dalam kehidupan, misalkan senantiasa mencintai hasil budaya Indonesia yang diwariskan para pendahulu bangsa ini baik yang berupa kebendaan maupun norma. Senantiasa menanamkan suatu pernyataan dalam jiwanya bahwa ”NKRI adalah Harga Mati”, dan rela berkorban untuk kepentingan negara, karena ini bukan hanya tanggung jawab dari TNI saja, tetapi seluruh warga negara Indonesia.

Dari penjelasan itu, sekarang kita lihat dan cermati suatu realitas kehidupan sekarang, gejala-gejala penyimpangan telah menunjukkan suatu kekontradiksian dari yang seharusnya. Hal ini bisa terjadi dari kuatnya pengaruh globalisasi yang tak bisa terbendungkan lagidengan membawa Faham-faham barat telah menerjang negeri ini hingga menyebarkan racun pada setiap insan negeri ini. Dikarenakan tidak dibentengi dengan kuatnya ideologi bangsa pada setiap warga negara, akhirnya berdampak pada pudarnya nilai-nilai budaya Indonesia yang mencerminkan sikap tolong menolong antar sesamanya, nilai gotong royong, tegang rasa dari penglihatan dalam konteks psikologis itu, kini tergilas sampai ludesss…dan digantikan dengan sikap egois, arogan, bengis, tak mempedulikan lagi antar sesamanya hingga kehidupan terlihat mencolok jurang pemisahnya antara yang miskin…plus kere… dan yang melimpah ruah alias boosss…!. Apalagi yang hidupnya melimpah itu hasilnya bukan dari keringat sendiri tetapi hasil embatan dari korupsi… membuat hati kita menjadi jengkol…eee… keliru… dongkol… dan tanpa sadar secara spontan menyebutnya… Setan Alas…Lo…!, Saya bayar pajak dengan berbagai macam versi bukan untuk perut…Lo… Dul Genok…, tetapi untuk pembangunan segala bidang hingga bisa dinikmati oleh orang banyak…!!!. Demikian juga dalam konteks sosial  politik, sebagian besar masyarakat tak mau lagi mempedukikannya dan munculnya sikap apatis masyarakat kehidupan demokratiassi di Indonesia, dikarenakan tidak banyak berpihak kepadanya ditambah lagi faktor atas penyelenggaraannya yang kurang sportifitas dari para peserta pemilu. Kenyataan ini acap kali muncul dalam penyelenggaraan Pemilu, baik pemilihan Presiden maupun pemilihan Gubernur sampai ke Bupati dan Walikota. Berbagai macam kasus diketemukan disebabkan kotornya praktik-praktik dari partai politik yang bertarung hingga menimbulkan ketidak jujuran dalam proses hasil demokratisasi yang sebagaimana mestinya, bahkan pihak yang merasa kalah sampai mengerahkan massanya untuk menggagalkan hasil pemilu tersebut. Dalam konteks geografis, bangsa ini sudah mengalami disintergrasi bangsa, akibat kurangnya penerapan keadilan pada masyarakat, maka daerah yang mempunyai sumber kekayaan alam ironisnya masyarakatnya tidak merasakan kekayaan alamnya sendiri, sehingga kesejahteraan hidupnya hanyalah mimpi saja… di siang bolong lagi…, hal ini disebabkan kekayaan alamnya dikendalikan di tingkat pusat akibat penerapan centralistik pemerintahan. Dengan demikian kalau hal ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat tidak menutup kemungkinan daerah-daerah akan melepaskan diri dari pemerintahan hingga terancamnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah kita tanamkan pada masyarakat sebagai ”harga mati” itu.

 

 

 

 

 

* Penyimpangan yang terjadi di masyarakat adalah banyaknya insan negeri ini yang bersikap bengis tidak memandang lagi etika membuat kendornya rasa persatuan di Indonesia sehingga menimbulkan kekacauan sesamanya melalui tawuran pelajar, mahasiswa bahkan masyarakat umum sehingga negara menjadi kacau balau. Demikian dalam menjalankan hukum, hukum pada kenyataannya dipermainkan oleh orang yang punya uang sehingga muncul mafia hukum di Indonesia. Berbagai macam kalangan menyuarakan untuk pembubaran mafia hukum tersebut, namun nyatanya para penguasa kupingnya budeg, tuli dan membiarkan saja. Hukum hanya menyentuh kalangan masyarakat kecil hingga menimbulkan rasa solidaritas pada sesamanya dengan penggalangan melalui Aksi seribu sandal contohnya *

 

4. Penyelewengan Sila Keempat dari Pancasila

Suatu rintangan Implementasi dari Sila Keempat Pancasila adalah Banyaknya keputusan dari penyelenggara negara tidak berpihak pada kepentingan orang banyak, tetapi lebih berpihak pada kepentingan kelompok atau partai pemenang pemilu. Demikian juga dalam memutuskan suatu permasalahan yang menyangkut kehidupan orang banyak dimana diharapkan terjadi suatu kemufakatan, namun dalam implementasinya penuh dengan intrik-intrik tertentu dalam pola kerjanya dan berkolaborasi memperhitungkan bagi hasil sesamanya hingga menimbulkan suatu silang pendapat dan dengan demikian hasil akhir akan diperebutkan melalui pengambilan suara terbanyak. Kata musyawarah mufakat disini hanya sebagai kedok dalam berkonstitusi belaka, agar apa yang telah direncanakan atau diputuskan di Munas oleh Partai Gemblong Nasional itu bisa lolos meskipun dengan menggunakan cara perekayasaan. Penggambaran sila keempat ini sebenarnya telah memberikan penjelasan bahwa tafsir implementasi operasionalnya telah diarahkan pada bagaimana seluruh sumber daya yang tersedia itu, dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk pemberdayaan dan kemakmuran rakyat. Suatu contoh yang dapat kita lihat dan teladani adalah bidang ekonomi yang telah dicetuskan oleh Mohammad Hatta, bahwa Bangsa Indonesia ingin mengedepankan pembangunan perekonomian ke arah ”Ekonomi Kerayatan”, dimana secara institusional disalurkan melalui lembaga-lembaga ekonomi dengan asas kerjasama dan kekeluargaan atau orang mengenal dengan istilah koperasi. Kata hikmah dan kebijaksanaan mempunyai dimensi makna sebagai masyarakat yang mampu menarik pelajaran hingga pada akhirnya mendaatkan sesuatu yang bermanfaat bahkan sebagai pandangan sekaligus sebagai tindakan atas nilai-nilai luhur bangsa ke dalam suatu kehidupan. Kata kebijaksanaan memberikan gambaran agar kita selalu bersikap bijak dalam bermasyarakat senantiasa bertindak arif atau tegang rasa antar sesamanya. Sementara Permusyawaratan dan perwakilan memberikan bayangan bahwa permusyawaratan merupakan pendekatan suatu konsensus dalam menyelesaikan suatu masalah yang lebih menitik beratkan pada nilai kebersamaan dalam kemenangan. Perwakilan disini mengilustrasikan bahwa dalam mengimplementasikan suatu permusyawaratan tidak perlu melakukan mengerahan massa secara besar-besaran, namun dengan memberikan beberapa perwakilannya sebagai representasi dari masyarakat yang telah diwakilinya itu, untuk menyuarakan kepentingannya melalui kewenangan dalam lelmbaga-lembaga yang telah dilegitimasi oleh masyarakatnya itu.

Namun dalam kenyataannya sejak berdirinya Republik Indonesia ini, hingga era reformasi yang katanya dapat lebih baik dalam pengimplementasiannya itu, nyatanya sami mawon alias sama saja hasilnya tidak konsekuen seperti yang diharapkan dalam penjabaran dari ideologi bangsa ini, hasilnya malah lebi kacau balau dan amburadul gak karuan…!. Angan-angan Bangsa ini memakmurkan seluruh rakyatnya semakin jauh dari kenyataan, disebabkan kuatnya pengendalian perekonomian negeri ini oleh kelompok-kelompok dominan yang memegang kuat faham kapitalisme untuk berkolusi dengan pemegang kekuasaan, sehingga kepentingan kelompoknya lebih diutamakan kemakmurannya hingga berutnya jadi gendut…dut…dut…plus wareg karepe dewe…, dari pada kepentingan rakyat banyak. Kata hikmat dan kebijaksanaan hanya sebagai kedok belaka serta tameng dalam melancarkan ideologi kapitalismenya yang menjilma dalam praktik-praktik perekonomian negeri ini, hingga perekonomian rakyat semakin terlindas dan terjepit serta terlempar dari posisi sebagaimana mestinya, hal ini terjadi diakibat dari keberingasan dan kerakusan para kelas-kelas dominan yang terus menguasai pasarnya. Para pemegang keputusan negeri ini telah dirasuki faham kapitalisme hingga mengagungkan budaya hedonisme dalam praktik-praktik kehidupan, tanpa melihat lagi arti dari musyawarah dan mufakat yang telah menjadikan ciri bangsanya, yang ada di dalam otaknya hanyalah ”siapa yang punya modal itulah yang berkuasa”…!. Wee…uuueeedddaaannn tenan…, kalau begini rakyat jadi klengngeeer… hidupnya…!. Sementara perwakilan diterjemahkan diotaknya hanyalah para kroni-kroninya yang bisa diajak kerjasama untuk menghasilkan ide-ide cemerlang dalam memperbesar kekuasaan hingga dapat mempermainkan pasar dalam rangka pengembangan sayap usahanya menjadi tumbuh besar dan hingga pada akhirnya dapat menguasai perekonomian bangsa Indonesia hingga sekarang ini, hal inilah yang dikemukakan oleh Kaum Marxis bahwa “… nilai-nilai yang menguntungkan orang-orang yang menjalankan masyarakat, tentang ide-ide yang berkuasa sepanjang masa merupakan hasil dari ide orang yang berkuasa…”. (John Storey, 2003) dengan demikian apa yang telah direncanakan dalam pola struktur pengembangannya itu bisa bergerak dengan leluasa tanpa ada persaingan berati. Otak orang-orang inilah sebenarnya yang menyebabkan terpuruknya negeri ini dalam taraf yang memprihatinkan, hingga rakyat susah hidup di negerinya sendiri yang dikenal berlimpah dengan kekayaan alamnya itu.

 

 

 

 

 

* Sila keempat dari Pancasila mengajarkan kemufakatan dalam membahas suatu permasalah, kini diwarnai dengan kekisruhan dalam menjalankan suatu pertemuan hingga menimbulkan suatu ketegangan diakibatkan masing-masing tidak bisa mengendalikan diri. Bahkan di tingkat lembaga tinggi negara itu juga diwarnai keributan dalam sidang paripurna. Dalam pelaksanaan Pemilu baik Presiden, Gubernur, Bupati dan Wali Kota itu juga diwarnai dengan kekiruhan diakibatkan ketidak jujuran dalam pelaksanaannya hingga menimbulkan kerusuhan bahkan tembat pemungutan suara juga dibakarnya dari orang-orang yang merasa gak puas dengan ketidak jujuran dalam Pemilu itu *

 

5. Penyelewengan Sila Kelima dari Pancasila

Suatu rintangan implementasi dari Sila Kelima Pancasila adalah Berkuasanya kelas-kelas dominan yang menguasai pengendalian pasar perekonomian Indonesia semakin terpuruknya jalan perekonomian kerakyatan yang mendukung tumbuhnya industri kecil menengah semakin suram jalannya. Angan-angan rakyat untuk mendambahkan hidup sejahtera demi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan jalan dukungan terealisasinya perkonomian kerakyatan itu, semakin jauh dari harapan rakyat. Karena pada kenyataannya kesejahteraan hanya bisa dinikmati sebagian kecil dari kelompok rakyat yang telah dekat dengan kekuasaan, sehingga orang-orang ini dengan leluasanya mencampur adukkan antara kepentingan sendiri atau kelompoknya dengan kepentingan rakyat, padahal hasilnya demi kenyangnya perut mereka sendiri… dasar… begundal… bisa saja… cari celah…!. Dalam perlakuan hukunpun, rasa ketidak adilan telah terbuka lebar kehidupan.hukum hanya menyentuh bagi masyarakat kelas teri saja yang dipermasalahkan sementara kelas dominan dengan leluasanya mempermainkan hukum untuk tunduk dan menurut aturan permainan uang sebagai alat atau senjata dalam menutupi perkaranya. Berbicara masalah keadilan berperannya hukum dalam kehidupan adalah semu belaka, karena hukum itu sendiri sudah menjadi alat komoditas bagi mereka-mereka yang serakah dengan kekuasaan sebagai sumber lahan yang subur untuk ditilep… oleh karenanya perlu dipertahankan dengan segala upaya, walaupun dengan uang sebagai alat untuk menebusnya… hingga semuanya jadi beres…!!!. Perwujudan pada sila ini sebenarnya memberikan gambaran kepada kita, bahwa para penguasa negeri ini harus senantiasa bertindak arif untuk memberikan rasa keadilan yang sama pada seluruh masyarakat Indonesia sebagai mana yang tercantum dalam ideologi Pancasila yang menjadi pandangan dan pegangan hidup bagi seluruh warga Republik Indonesia baik sebagai penyelenggaranya mapun rakyatnya. Lewat tangan pemerintah dengan para lembaga tinggi negara yang mempunyai kewenangan untuk menjalankan undang-undang tidak pilih kasih sesama warga negara, dan harus bertindak tegas pada semua insan penghuni negeri ini. Suatu contoh untuk mengilustrasikan dalam konteks hukum, pemberlakukan hukum harus menyentuh pada semua orang yang ada di Republik ini tanpa pandang bulu. Dalam rangka mengimplementasikannya itu, tidak ada orang atau kelompok manapun apakah kelas kakap atau kelas teri bahkan kelas waderpun yang bisa kebal hukum di dalam negeri ini, karena dalam Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa semua warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Kenyataan ini memberi wawasan kepada kita bahwa seluruh kekayaan alam yang ada di dalam wilayah Republik Indonesia ini dikelolah oleh negara lewat tangan pemerintahan yang sah dan bersih tentunya… serta bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyatnya…, buka untuk kepentingan kelompok atau golongan apalagi untuk dinasti kelaurga…!. Jadi terwujudnya ”cita-cita para pendiri bangsa ini sudah jelas adalah seluruh tumpah darah bangsa ini bisa menikmati kemerdekaan lahir dan batin, sehingga masyarakat tidak ada yang tertekan oleh pihak manapun dan bisa menikmati kehidupan yang layak, dengan demikian rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang diimpikan dapat terwujudkan dengan baik” (Redi Panuju, 2011).

Dari paparan diatas, sekarang kita balik bertanya pada diri kita sendiri, apakah kehidupan selama ini kita sudah mengimplementasikan seperti yang diharapkan oleh makna dari Pancasila melalui sila kelima itu dengan aik…?, Kenyataannya realitas sosial menggambarkan rekaman peristiwa yang terjadi di negeri ini berbicara lain dari yang seharusnya. Rasa keadilan selama ini hanya dinikmati oleh kalngan minoritas yang dekat dengan kekuasaan belaka. Kenyataan ini terbukti dan bukan menjadi suatu rahasia lagi setelah para pelaku tertangkap dan dihadapkan ke meja hijau dengan tuduhan penyuapan guna melancarkan aksi, ini berati bahwa hukum di negeri ini telah dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai uang berlimpah…hingga mukanya penuh dengan dimensi uang beruang. Terlebih lagi kalau tumpukan uang yang ada di sekujur tubuhnya itu adalah hasil korupsi…, wee… enak amat…ya, tanpa kerja keras dapat uang banyak dalam waktu sesingkat itu…!, itulah hasil kecakapan lidah menjilat kata berintervensi Maling, Garong, Rampok atas nama untuk kepentingan Rakyat…!… Dasar… Begundal… Lo…!!!. Dalam celah-celah kehidupan para koruptor-koruptor kelas kakap dengan leluasanya masih bisa berkeliaran di negeri ini tanpa tersentuh oleh hukum, walaupun negeri ini punya lembaga yang memerangi tindakan korupsi itu lewat bendera KPK. Namun apa yang terjadi, penanganan kasusnyapun mendapat intervensi dari berbagai macam pihak meskipun hal itu tidak sulit untuk dilacak kebenarannya, namun dikarenakan adanya permainan kong kalikong antar penegak hukum akhirnya beres juga hasilnya lenyap ditelan angin tak tahu perginya…!. Sulitnya penegakkan hukum dengan berorientasi pada sikap tanpa pandang bulu di negeri ini, menyebabkan rasa keadilan jauh dari rakyat khususnya masyarakat kecil yang tidak mengerti hukum. Rasa kemakmuran yang menjdi citacita bangsa Indonesia pada waktu diproklamirkan hanyalah mimpi di siang bolong dan hidup sejahtera semakin jauh terwujudkan dari perut rakyat yang makin terjepit hidupnya oleh tangan-tangan kelompok dominan yang menguasai perekonomian kapitalis di negeri ini.

 

 

 

 

 

* Harapan seluruh rakyat Indonesia keadilan tercipta hingga masyarakat menikmati arti kemerdekaan dan kemakmuran hidup, tetapi pada kenyataannya kemiskinan masih juga melanda negeri ini, jangankan menyimpan uang… untuk makan saja sudah kalang kabut usahanya. Kemiskinan itu terjadi dikarenakan dana untuk kesejahteraan rakyatnya itu telah ditilep… disikat… diembat tanpa ampun oleh para Koruptor demi kekenyangan perutnya sendiri hingga belenduk mirip bola akibat kekenyangan makannya. Meskipun KPK sebagai gawangnya telah melakukan penangkapan-penangkapan pada pelaku… tapi tak juga redah aksinya…Apakah korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya ataukah membudidayakan korupsi…? *

 

Penutup

Kekuatan arus globalisasi yang bergulir di tengah masyarakat hingga saat ini dengan segala dampaknya, akan terus berhembus bgai angin yang kencang dan menerjang apa saja yang ada didepannya. Demikian juga dengan peradaban dari luar akan terus hadir bersamaan dengan berhembusnya arus globalisasi beserta dampak yang akan ditimbulkannya itu, akan selalu mengacam kebudayaan kita yang terkenal santun dan penuh makna ketimuran di bawa tameng Garuda pancasila melalui jejaring cyber multimedia digital dan akan menembus jiwa-jiwa penggunanya dan tanpa sadar perilaku kita akan selalu digerogoti oleh faham-faham berbagai multi isme itu dan tanpa disadari kita terbawa arus olehnya. Kita tidak menutup mata atas datangnya kebudayaan luar hadir di tengah-tengah kita, namun perlu adanya pengkajian secara mendalam tentang baik dan buruknya, hal tersebut dikarenakan ideologi negara yang membedakannya. Hadirnya “Budaya Populer” yang menguasai perilaku insan bangsa ini dewasa ini adalah sebagai jilmaan atas berkuasanya budaya luar mempengaruhi dan menguasai jiwa-jiwa bangsa ini yang tak dibentengi dengan kuatnya ideolog Pancasila di dalam dirinya hingga menghasilkan manusia-manusia yang perilaku diluar kehendak dari makna Pancasila itu sendiri, hingga bangsa ini menjadi bangsa yang “super edan” dalam kelakuan dan hasilnya adalah timbulnya penyelewengan terhadap Ideologi Pancasila yang menjadi pandangan dan pegangan hidup bangsa Indonesia ini. Dari melencengnya implementasi itu menyebabkan bangsa ini tertimpa krisis multi dimensi dalam segala macam persoalan yang megitu rumit untuk diluruskan.

Persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hingga sekarang ini adalah kurangnya pembudayaan dan aktualisasi nilai-nilai Pancsila yang tidak berjalan secara efektif dan mendasar oleh semua warga Negara yang mengaku dirinya orang Indonesia. Pancasila dalam hafalan, mayoritas rakyat Indonesia pati hafal di luar kepala, kalau masih tidak hafal juga… waa… gawat…!, hal seperti  inilah yang perlu dipertanyakan tentang ke Indonesiaannya…?. Tetapi kalau dipertanyakan apakah makna sila-sila dari Pancasila itu telah dimengerti secara mendalam dan diamalkan dalam aktifitas kehidupan…?, barulah mereka berpikir seribu kali bahkan milyaran kali mereka mengatakan ogah…aaahhh…!. Pada kenyataannya keberadaan pancasila kalah pamornya dengan budaya luaryang telah masuk di negeri ini hingga kalau diajak ngomong dengan Pancasila mereka menganggapnya suatu hal yang kuno, produk lama, dan perilaku gagal total…!, wweee…bener-bener jawaban orang-orang keblinger…!, yang tidak mempunyai pendirian kuat sebagai warga Negara Indonesia. Pantas saja… perilaku bangsa ini rusak karena Pancasila dianggapnya sebagai barang tak berarti di dalam benaknya yang sok kebarat-baratan itu, pada hal mereka suka makan tape, dadar gulung, petholo, rujak bebek, rawon dan pecel Madiun…!. Disebabkan itulah, akhirnya Pancasila tidak dapat muncul keberadaannya dalam ruang dan perilaku yang nyata dari setiap warga negara negeri ini. Keberadaan Pancasila selama ini hadir hanyalah sebagai tema dan semboyan semata-mata dalam setiap perilaku kehidupan masyarakat bahkan Pancasila sebagai hiasan di kantor, gedung pertemuan dan di Pos Gardu Siskamling RW.

Bagaimana mungkin kita mampu mewujudkan atau melahirkan dan mengembangkan semangat kebangsaan dan pengagungngan Ideologi bangsa dengan baik, jika aktualisasi nilai-nilai Pancasila itu dangkal dan kandas oleh persepsi setiap warga negara negeri ini sendiri ?. Kemunculan semangat itu akan hadir dengan sendirinya, selama nilai-nilai Pancasila itu dimaknai secara mendalam dan menyerap dalam jiwa dan raga serta dilaksanakan secara konsisten oleh setiap warga negara Indonesia. Suatu contoh kongkrit adalah semangat kebangsaan yang tinggi di tanam dalam jiwa setiap prajurit TNI, termasuk Ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila yang selalu ada dalam jiwa dan raganya bahkan setiap prajurit TNI rela mati demi untuknya. Seandainya setiap warga negara mempunyai jiwa seperti ini, minimal mirip atau katakanlah nyelip di dalam hatinya, maka Bangsa Indonesia tidak akan jadi begini keadaannya.

Kalau dikaji dengan pikiran jernih dan intelektualitas tinggi, Pancasila tidak perlu diragukan lagi esistensinya. Para pendahulu pendiri bangsa ini telah bertahun tahun mengujinya, kalaupun selama ini tidak bisa menunjukkan hasilnya dengan sebagaimana mestinya itu, dikarenakan orang atau para penyelenggara yang mengelolahnya tidak mampu mengaktualisasikan berdasarkan metodologi secara benar, dan bukan Pancasilanya yang dipersalahkan. Pragdigma masyarakat selama ini dalam menyikapi Pancasila selalu bersikap sinis terhadapnya, ini harus diluruskan dan di arahkan ke jalan yang benar, sehingga penyelenggara Negara dan masyarakat bisa menghayati dan mengamalkannya secara  konsisten agar bangsa ini bisa bangkit kembali dari keterpurukannya begitu dalam. Sejalan dengan hal itu maka perlu adanya upaya pembangunan jatidiri bangsa pada setiap warga negara Indonesia,  karena dengan memiliki jatidiri bangsa  berlandaskan Pancasila itulah, maka  kemandirian suatu bangsa akan tercipta dengan sendirinya.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama, khususnya bagi kalangan yang berpendidikan tinggi untuk saling mengingatkan antar sesamanya atau sesama warga negara di setiap kesempatan, bahwa bangsa ini tidak melarang untuk menerima kebudayaan atau mengimplementasikan budaya luar menjadi suatu buadaya baru di Indonesia, namun hendaknya perlu adanya pengkajian yang mendalam tentang hal itu. Jangan main telan begitu saja, terutamayang bersifat perilaku atau norma tanpa mempertimbangkan pengkajiannya secara benar berdasarkan ideologi bangsanya, hingga muncul suatu ketidak sesuaian dengan jatidiri bangsa yang pada akhirnya muncul suatu ketimpangan di masyarakat. Justru kemajuan teknologi dari dunia barat itu jauh lebih baik kita jadikan contoh untuk ditiru dan dipelajari guna membangun sumber daya manusia yang berkualitas dalam rangka membangun kembali negeri ini dari segala macam disiplin ilmu, karena teknologi kita jauh lebih baik dari mereka, mengapa kita harus malu…!!!. Kesuksesan suatu bangsa dalam membangun peradabannya adalah belajar dari kesuksesan bangsa lain dalam membangun peradabannya itu. Ada suatu istilah bernama “Local Genius” yaitu kemampuan suatu bangsa untuk menerima kebudayaan bangsa lain, kemudian disesuaikan dengan kepribadian bangsa itu sendiri hingga melahirkan suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan jatidiri bangsa itu sendiri. Inilah yang perlu kita jadikan pegangan kuat dalam mengakulturasi kebudayaan luar dengan kebudayaan kita hingga melahirkan kebudayaan baru tanpa pengurangi dari jatidiri bangsa Indonesia dengan Pancasila sebagai jiwa raganya itu.

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Penyadur: Alfathri Adlin. Yogyakarta: Jalasutra.

Susanto, AB. 2001. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta: Toko Buku Kompas Media Nusantara.

Rahardi, Kunjana. 2000. Renik-Renik Perabdban. Yogyakarta: Duta Wacana Univercity Press.

Storey, Jonh. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Penyunting: Dede Nurdin. Yogyakarta: Qalam.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Penerjemah: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Marlin,  Randal. 2002. Propaganda and The Ethics Persuasion.Canada: Broadview Press.

Ellul,  Jacques. 1973. Propaganda : The Formation of Mens Attitudes. Vintage Books.

Naya Sujana. I Nyoman dan Lasmono Askandar (ed). 2005. Jatidiri Bangsa Indonesia. Surabaya: DHD 45 Jawa Timur.

Panuju, Redi. 2011. Studi Politik Oposisi dan Demokrasi. Yogyakarta : Interprebook

 

Posted in KARYA ILMIAH | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply