"THE RAID" GEBRAKAN FILM INDONESIA KE TINGKAT DUNIA

“THE RAID” GEBRAKAN FILM INDONESIA KE TINGKAT DUNIA

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Pada awalnya sih…, saya malas untuk melihat Film Indonesia yang dewasa ini telah menjamur produksinya dengan menyuguhkan cerita-cerita mistik ditambahi dengan bumbu pemanis pornografi dengan pengumbaran aura yang pada intinya gak ada kaitannya sama cerita dan tema-tema lain tentang kehidupan remaja dimana visualisasi lebih menonjolkan keglamouran hidup ditambah polesan gaya sok kebarat-baratan itu, dalam nikmaynya romantika pergaulan bebas sak enak udele dewe…!, hingga pesan yang disampaikan mengarah pada dukungan tumbuhnya budaya populer semakin jaya di tengah masyarakat tanpa memikirkan lagi dampak yang ditimbulkan dari tayangan tersebut. Dari sinilah kalau kawan mau mengajak nonton film Indonesia, saya malas menanggapinya…, kecuali jika film tersebut bisa menarik kemauan saya untuk melihatnya dikarenakan kualitas pengerjaan yang membedakannya seperti karya dari Riri Reza dengan film “Gie”nya, Slamet Raharjo Jarot dengan film “Masinah”nya dan Dedy Mizwar dengan “Naga Bonar Jadi 2”nya …!. Saya sendiri tidak fanatik dengan genre film tertentu, semua genre bisa saya ikuti asalkan konsep penggarapannya memang benar-benar meyakinkan dan layak untuk ditonton. Maka dari itu ketika diajak menonton film Indonesia saya harus memilih dulu “filmnya siapa dan ceritanya bagaimana…?”, selama film itu berbau setan gondul, dedemit, kuntil anak, jerangkong dan sebangsanya… gak bakalan saya mau menontonnya, walaupun sekalian dibayarin oleh orang lain yang mengajaknya sekalipun…!.

Begitu Film “THE RAID” diluncurkan dipasaran, pada awalnya saya gak percaya…!, tentang kedahsyatan film ini, dimana keberadaanya begitu banyak dibicarakan oleh orang-orang yang telah melihatnya. Termasuk saya yang termakan oleh omongan dari kawan-kawan bahwa film yang bergenre action ini, memang layak untuk ditonton…, kalau gak nonton film yang satu ini, pasti merugi… dan jangan lagi kamu bicara soal film di hadapan kita…!, demikian ujar kawan saya tersebut. Mendengar perkataan itu… hati saya jadi penasaran… kayak apa sih filmnya…?, rasa keingin tahuan yang bergolak di dalam hati saya dan didorong dengan rasa penasaran membuat saya ingin membuktikannya sendiri. Pada suatu malam minggu ketika bertiga mau jalan-jalan…, tiba tiba salah satu dari kawan nyeletuk nonton film aja kita gimana… ?, begitu ngomong nonton soal film, langsung kontan saya nyeletuk… oke… nonton Film “THE RAID” aja…! kita, mereka berdua berteriak sudah…, kita sudah nonton…!, aaahhh… saya penasaran dengan film ini. Mereka berdua menyerang lagi… lho… bukannya kamu gak suka dengan film Indonesia…!, tetapi yang ini lain… hati saya jadi penasaran dibuatnya, kayak apa sih… filmnya?. Mereka menjawab… Bagus… dan Top buanget…!, iya untuk kamu…, la… saya belum tahu… !, maka dari itu nonton saja Film “THE RAID”…, sambil saya paksa terus… dan akhirnya mereka mau juga…!. Begitu masuk gedung bioskop XXI, Saya sempat tertawa melihat dengan sebuah sarana promosi film Indonesia berupa patung semacam seni instalasi itu, dan pada sebuah papan kecil berjudul Nenek Gayung…, SEGERA… yang dipasang di ruang tunggu gedung bioskop XXI itu, sambil berjalan menuju ruang studio saya berkata kepada teman saya… entar beberapa bulan lagi ada judul Nenek Ember…, Nenek Panci… Nenek Garpu-Sendok… sambil ngakakkk… terus masuk ke ruang studio…!.

Pada menit-menit pembuka frame hati saya belum tersentuh dengan keistimewaan film ini, terutama ketika pasukan bergerak dengan kendaraan khusus dipagi hari menuju lokasi, dimana frame kebanyakan divisualisasikan pada pembicaraan pasukan di dalam kendaraan yang akan melakukan penyerbuan itu, tanpa memperhatikan untuk mevisualisasikan pergerakan dari mobil tersebut secara maksimal menuju lokasi penyerbuannya. Begitu pasukan sampai di lokasi penyerbuan dan melakukan penyerangan secara serentak, keindahan gambar mulai terlihat dan hati saya mulai tersentuh dengan penciptaan dari Camera Angle yang memukau, terutama saat munculnya “Top Angle” ketika pasukan sedang bergerak melewati tangga secara cepat sambil teriak weee… asyik juga ini gambar…!, walaupun tanpa mengimbanginya dengan “Buttom Angle”, untuk menciptakan illustrasi pergerakan pasukan yang nantiya dapat memukau penonton lebih dalam lagi. Ketika pasukan mulai terjebak di dalam gedung dan melakukan perlawanan untuk berjuang antara hidup dan mati di sarang para penjahat dalam apartement tersebut… hati saya mulai dibuat kagum dengan penerapan berbagai macam “Teknik Kamera” dalam visualisasi pengadegan yang luar biasa dari berbagai macam karakter gambar yang disajikan. Dari menit-ke menit selama saya menonton, selalu menahan nafas dan tak hentinya mata melotot untuk menyaksikan pengadegan yang memperlihatkan beladiri super wahit dari para aktornya dan acungan jempol seratus… bahkan seribu untuk perancang koreografi laga dari para kreatornya itu… , tentu saja tak lepas dari subyektifitas arahan dari Gareth Evans selaku sutradaranya yang berasal dari Walis itu,  hingga tanpa sadar saya sering berkata uuueeedddaaannn tenan…, dari setiap adegan hingga teman saya sampai… cekikikaaannn… melihat tingkah saya ketika menonton… film ini…!.

Apa yang disajikan dalam Film “THE RAID” pada intinya adalah sebuah film yang menyajikan atas penyerbuan dan penyergapan pasukan khusus dari satuan unit Kepolisian yang ditugaskan untuk menumpas para gembong narkotik dan para pembunuh kelas wahit yang bersarang di sebuah apartemen kumuh, dimana keberadaannya diluar pantauan dari para aparat kepolisian. Sebuah penyajihan film bergenre action dengan menampilkan gambar-gambar yang memukau penontonnya dari menit ke menit ketika pasukan mulai terjebak dalam ruang khusus yang terisolir dan telah dikepung dari berbagai macam sudut oleh para gerombolan penjahat hingga pasukan tersebut harus berjuang antara hidup dan mati  dalam penyergapan itu. Disini penonton akan diantar ke dalam suatu ketegangan, kengerian, kedahsyatan adegan perkelaian baik menggunakan senjata senapan automatis ataupun dengan benda-benda manual semacam pisau, parang, samurai serta sejenisnya dan kesemuanya itu ditampilkan secara apik dan begitu realistis hingga penonton dibuat menahan nafas dan terbius dalam urian cerita atas berputarnya durasi frame yang menyajikan adegan-adegan spektakuler itu. Walaupun penonton di jebak dalam satu lokasi penyajian, namun karena penyajian yang begitu spektakuler dalam pengadegannya itu, sehingga penonton merasa puas dibuatnya tanpa ada yang protes dalam melokalisir cerita tersebut. Sampai berakhirnya suatu cerita dan keluar dari gedung bioskop… hati saya dibuat rasa kagum yang luar biasa…, baru kali ini saya melihat film Indonesia bergenre action itu … begitu dahsyat dalam menyajikan gambar-gambar dari berbagai macam karakter… hingga saya berani mengulurkan jempol ke atas … “Top Film Indonesia” atas suguhan dari Film “THE RAID” sebagai FilmTerbaik Indonesia yang merambah ke tingkat Dunia International hingga secara tidak langsung menaikkan Citra Indonesia di mata masyarakat dunia… setelah saya membuktikan dengan mata saya sendiri… untuk menyaksikan film tersebut…!.

 

 

* Poster Film “THE RAID”, sebuah Film Produksi lokal dari Merantau Films yang melambungkan dunia Perfilman Indonesia ke Peringkat Dunia International hingga mampu masuk dalam jajaran peringkat 11 Box Office Amerika Serikat dan peringkat 5 Inggris Raya, suatu prestasi dari anak bangsa Indonesia yang sungguh luar biasa hebatnya *

 

1. Film Indonesia yang Menggetarkan Masyarakat Dunia International

Bukan gertak sambal belaka, bahwa Film Indonesia tidak mampu bersaing dengan Film-Film produksi Amerika Serikat yang dikenal dengan teknik pemproduksiannya tidak diragukan, sehingga hasilnya mencerminkan kualitas tinggi yang mampu menyedot milyaran pasang mata di seluruh dunia terhadap karya-karya mereka. Kenyaaan ini telah dibuktikan oleh Karya Anak Bangsa Indonesia lewat Film “THE RAID” produksi dari Merantau Films “ telah mampu bertengger di peringkat 11 Box Office Amerika Serikat,” (VIVA News.Com). Apa yang telah disuguhkan oleh Merantau Films ini, membuktikan bahwa masyarakat Amerika yang jago membuat film itu, telah mampu dipengaruhi oleh kedahsyatan aksi dari film “THE RAID” hingga bisa menembus dan bertengger pada peringkat yang membanggakan. Ini dari suatu hal yang langka bin ajaib bahwa film produksi lokal Indonesia bisa merebut posisi segitu, bahkan bisa mengalahkan film-film produksi Amerika Serikat sendiri,  seperti The Avengers dan Dark Shadows. Setelah kesuksesan menembus Box Office Amerika Serikat  itu,  kini aliran film ini telah berhembus ke daratan Eropa dan “menyabet pasaran Inggris Raya hingga berhasil bertengger diposisi ke 5 Besar” (VIVA News. Com). Tidak hanya itu saja debut film lokal yang menonjolkan seni beladiri pencak silat sebagai salah satu warisan Budaya Asli Indonesia itu mampu menyodot animo penonton buanyaaakkknya… hingga mencapai diseluruh dunia dari Amerika, Eropa, Asia dan Autralia berdasarkan dengan pendistribusian film tersebut pada negara masing-masing.

Di Negara Indonesia itu sendiri pemutaran film ini telah dipenuhi dengan penonton yang berjubel pada gedung bioskop kelas satu negeri ini, untuk menyaksikan film lokal yang mendapat berbagai penghargaan tingkat dunia itu. Tetapi saya juga heran…, mengapa para Pejabat Negeri ini… tidak mau melihat secara simbolis tentang pemutaran khusus dari film tersebut, pada hal keberhasilan Film ini tidak diragukan lagi keberadaannya, bahkan pada peringkat dunia sekalipun bisa ditaklukan …, seperti yang mereka lakukan ramai-ramai pada pemutaran “Film Ayat-Ayat Cinta” dan “Film Laskar Pelangi” pada tahun-tahun sebelumnya… para pejabat negeri ini turut hadir dan melihatnya bersama-sama, tetapi anehnya untuk Film “THE RAID”… Mereka semua lupa atau memang gak mau tahu…!!!. Apakah mereka tidak mengerti bahwa Film produksi anak bangsa ini adalah “Film Kelas Dunia”…!!!, dan keberadaannya telah diakui oleh negara-negara besar di dunia…  Sebagai warga Negara Indonesia yang bai…, kita semua bangga dengan hasil jerih payah dari Merantau Films yang telah melahirkan Film “THE RAID” hingga berhasil menunjukkan bahwa Film Indonesia tidak hanya mengumbar aura dan kesetanan saja yang selama ini meracuni masyarakat, tetapi juga bisa menciptakan sebuah film berkualitas tinggi yang menonjolkan sikap ketegasan aparat penegak hukum dalam memberantas kejahatan… dengan teknik penggarapan begitu dahsyat hingga dunia mengakuinya, bukannya itu suatu hal penyampai pesan yang positif dari makna film tersebut… kepada masyarakat luas dan perlu dukungan moral dari para insan negeri ini yang mengatakan bahwa dirinya adalah asli warga Negara Indonesia termasuk para pejabatnya.

 

 

 

 

* Pengadegan Film “THE RAID” yang begitu luar biasa dengan didominasi koreografi seni beladiri pencak silat itu telah memukau para penonton baik dari dalam negeri maupun manca negara, sehingga secara tidak langsung menaikkan pamor Film Indonesia ke tingkat Dunia International *

 

2. Film Lokal Indonesia Mendapatkan Beragam Penghargaan International

            Saya merasa bangga bahwa Film Indonesia bisa menenmbus pasaran Dunia International seperti yang dilakukan oleh Merantau Films dalam Filmnya “THE RAID” itu, meskipun tidak menutup mata atas prestasi dari para Sineas Indonesia yang mendapatkan penghargaan dalam perfilman dunia baik komersial maupun non komersial yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Apa yang telah dilakukan oleh mereka lewat beberapa karyanya telah sedikit banyak mengharumkan nama bangsa Indonesia lewat profesinya itu di ajang perfilman dunuia. Lahirnya Film “THE RAID” telah membuktikan bahwa kehadiran film ini sebagai jawaban atas keberanian mereka para Crew Poduksi dibawa komando Gareth Evans selaku sutradara untuk meyakinkan producer Ario Sagantoro menciptakan film dengan melawan arus dari nafas Film Indonesia yang telah kesurupan dengan Dinasti Kesetanannya itu. Betapa tidak, bahwa realitas kehidupan dewasa ini dalam dunia Perfilman Indonesia, telah dipenuhi dengan konsep seputar masalah keklenikan, dedemit, kuntil anak, pocong dan sebangsanya dengan dicampur penyedap rasa pengumbaran aura dalam selimut body-body sexy dibalik judul-judul penuh dengan kemaksiatan, kesetanan, kegalamouran telah menguasai pasar dan peredarannya dalam wilayah Indonesia itu sendiri, sehingga telah sedikit banyak mempengaruhi sugesti masyarakat dan sekaligus mengantarkannya ke dalam pintu kesesatan. Apa yang telah dihasilkan oleh Merantau Films beserta seluruh Crew produksinya dalam Film “THE RAID” itu, merupakan suatu jawaban yang kongkrit bahwa masyarakat Indonesia memang menyukai film berkualitas tinggi ini, hal ini telah terbukti bahwa pemutaran film ini telah dipenuhi oleh penonton yang begitu antusiasnya menyaksikan film tersebut, kenyataan ini dikarenakan tidak ada yang berani berspekulasi tinggi untuk memulai penggarapan film berkualitas tinggi,  menyebabkan masyarakat terbius dengan film yang bernalar dan berselerah rendah yang telah disebarkan oleh kelompok-kelopok tertentu untuk menciptakan pasarnya. Jawaban ini juga sekaligus menjadi tamparan yang Superrr Kerassss…!!! pada kelompok-kelompok yang memprovokasi bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya suka dengan film horor plus bumbu manisnya itu, oleh karenanya kita membuatkan mereka bangga bahkan kita rela mendatangkan artis dari luar yang lebih ngehot…gitu…!!!… dasar… Setan Gondullli…!!!.

Sebenarnya banyak Film Indonesia yang mendapat penghargaan di tingkat dunia baik yang berorientasi pada film komersial maupun film non komersial, tetapi hal ini tidak termasuk film setan alas… yang telah menguasai pasar itu. Dikarenakan Film “THE RAID” hasil produksi dari Merantau Films ini telah banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai macam lembaga dunia itu, maka film yang 90 % hasil karya anak bangsa Indonesia itu menjadi Penggebrak Pertama atas keberhasilan FilmKomersial Indonesia yang dapat bertengger di kelompok BOX Office Amerika Serikat dan Inggris Raya. Dari prestasi itulah hingga Film Indonesia itu kondang di berbagai negara di dunia. Beberapa prestasi penghargaan itu adalah seperti diraihnya “The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award” dalam (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011, Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam “Festival FilmSundance 2012” (dalam rangka Ulang Tahun Amerika Serikat), Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam “Festival Film Internasional Dublin Jameson 2012” di Irlandia, Terpilih menjadi penutup sesi “Fright Fest dalam Festival Film Glasgow 2012” di Skotlandia, menyabet “Prix du Public dalam 6ème Festival Mauvais Genre di Tours 2012” di Prancis, Penghargaan “Spits Silver Scream Award  pada  Festival Film Imagine ke-28” di Amsterdam, Belanda , Penghargaan dalam “Festival Film Busan” di Korea Selatan. Dari rentetan prestasi tersebut di atas tidak menutup kemungkian atas bertambahnya penghargaan itu seiring dengan berjalannya berbagai macam kegitan dalam kanca Perfilman Dunia itu. Inilah dalam sejarah Film Indonesia yang mendapat banyak penghargaan dari berbagai macam lembaga Negara yang menganugrahkan pada Film “THE RAID”, hingga melambung tinggi ke berbagai negara dibelahan bumi ini.

Suatu hal yang rumit untuk dipikirkan dan dicari apa akar penyebabnya yang proporsional, bahwa Film “THE RAID” yang sukses mendapatkan penghargaan oleh lembaga perfilman di berbagai negara itu, tetapi anehnya di negerinya sendiri yaitu Republik Indonesia Kok… Gak dapat penghargaan dari Festival Film Indonesia…?. Hal itu sepeleh untuk diungkapkan, disebabkan sutradaranya bukan warga Negara Indonesia itu… ooohhh…kok becik amat sih…, opo olo amat…yo…?, apakah gak ada Kriteria khusus… yang menerangkan atas prestasi dibalik film tersebut… hingga memperoleh “Penghargaan Khusus” dari lembaga di negerinya sendiri…!!!, wong… “Remisi Khusus” untuk Tahanan pada Koruptor saja bisa diwujudkan dengan berbagai macam alasan dan akhirnya nongol juga tuh keputusannya … Dul…Genukkk…!!!, la… wong ini jelas-jelas mengharumkan nama bangsa di dunia international… dan keberadaannya diakui oleh beberapa negara besar di dunia…, kok mala mlongo… gak dapat apa-apa…  di negaranya sendiri…, Jen kebacut tenan kok…!!!. Gimana sih birokrasi … negeri ini…, sungguh hal yang Super bahkan Ultra Ironis Sekali biar muantep…gitu…!. Ya… udah, berhubung lembaga lembaga yang menaungi perfilam tidak memberikan rasa dorongan yang berarti terhadap pestasi anak bangsa lewat karya filmnya itu, Saya wakili untuk masyarakat Indonesia dari aku sendiri yaitu “Indonesia’s Best Action Movie Teguh’s Blog212 Award” sebagai rasa senang saya terhadap film ini… Weee… bebas toh… wong namanya memuji kebaikan…!

 

 

 

 

* Dari pengadegan yang begitu memukau dalam melakukan perkelaian antar personil polisi dengan para gembong pembunuh sadis itu, telah dikemas dalam koreografi laga seni beladiri pencak silat asli Indonesia itu, maka film ini banyak mendapatkan penghargaan darilembaga perfilman dunia termasuk TIFF Toronto International Film Festival *

 

3. Penyempitan Situasi Dalam kemaksimalan Produksi

Sebenarnya Film “THE RAID” ditinjau dari aspek ceritanya, merupakan film biasa saja, karena cerita berkisar tentang narkotika dan bandarnya yang ditumpas oleh petugas kepolisian sudah biasa digarap oleh film-film Amerika Serikat seperti dalam filmnya Steven Seagal dengan beberapa serinya, Film Swat, Die Hard serta yang lainnya. Lalu kalau ceritanya merupakan suatu hal yang biasa, kok Film “THE RAID” mendapat pujian dan penghargaan di Toronto International Film Festival (TIFF) 2011, apa yang menyebabkan mereka memberikan penghargaan itu. Berhasilnya Film ini disebabkan keseriusan para Crew dibawa komando sutradara Gareth Evans untuk menciptakan pengadegan semaksimal mungkin melalui beragam perkelaian beladiri secara brutal dan enerjik dari menit ke menit hingga penghabisan cerita film. Beberapa juri yang melihat pengedegan itu mengatakan bahwa action ini suatu yang benar-benar nekat dan gila… !, weee… benar juga omongan saya pada waktu menonton film ini… uuueeedddaaannn tenan…!. Sehingga mereka semua kagum dengan aksi perkelaian yang mengusung seni beladiri dari pencak silat itu. Film ini kalau disejajarkan dengan Film Amerika… denyutnya waktu menonton film disetarakan dengan Film “Terminator 2”, dimana dari awal anda diantar dengan adegan pengrusakan hingga menimbulkan suatu ketegangan terus menerus sampai berakhirnya film tersebut. Demikian juga dengan Film “THE RAID”, pembedaannya kalau anda melihat denyut Film “Terminator 2” anda di bawa ke berbagai lokasi dengan beragam situasi. Tetapi kalau anda melihat Film “THE RAID” denyutnya film ini akan mengantar ketegangan yang sama hebatnya, hanya saja pikiran anda di bawa ke arah satu lokasi yang membedakan semua itu, yaitu di dalam gedung Apartement kumuh yang dikuasai oleh para penjahat kelas kakap…!. “Cerita ini mirip dengan Cerita Film “Die Hard” pertama yang menjadi inspirasi penciptaan filmnya dan Film “SWAT”, begitu kata Sutradara Gareth Evans” yang dipersepsikan ulang dari sumbernya VIVA News. Com.

Penentuan melokalisir suatu tempat kejadian bisa saja untuk mempermuda penyampaian pesan supaya muda ditangkap oleh penonton, namun jika hal itu tidak dikerjakan secara maksimal bisa menjadi suatu kejenuhan hingga menyebabkan suatu kegagalan produksi. Dari sudut produksi hal ini juga sangat menguntungkan karena tidak perlu mencari tempat-tempat lain yang cukup rumit dari perijiannya dan proses produksinya disamping itu juga dapat bahkan menekan biaya produksi film. Keadaan ini telah dibaca dengan cermat oleh Sutradara Gareth Evans bersama Crew Produksinya, walaupun mengambil satu lokasi shooting, tetapi pengambilan gambar yang memaparkan jalannya suatu cerita diproduksi secara maksimal dengan berbagai macam adegan perkelaian diselingi beragam pengrusakan benda-benda secara beruntun dan terus menerus hingga detik-detik penghabisan film. Keberhasilan film ini sangat dipengaruhi dari kepiawaian perkelaian yang begitu brutal dalam kemasan pengadegan beladiri pencak silat dipandu dengan berbagai macam teknik kamera yang begitu jago layaknya standarisasi produksi film Amerika, hingga penonton di buat tegang dan melotot matanya untuk menyaksikan adegan itu dari menit ke menit sampai berakhirnya film. Penerapan Special Effect seperti ledakan gedung secara dahsyatpun tidak direncanakan, jadi keberhasilan film ini hanya pemaksimalan laga yang begitu brutal dengan koreografi laga sangat ciamis serta beberapa make-up karakter yang cukup realistis.  Saya percaya bahwa orang-orang yang ada di balik layar dalam memproduksi film ini adalah berreferensi gaya produksi film Amerika Serikat, sehingga cerminan karyanya dapat memenuhi Film Standard Hollywood. Kita bangga mempunyai sumberdaya manusia yang mau belajar dari kesuksesan bangsa lain untuk menguasai berbagai macam literatur keilmuan film dan penguasaan teknologi perfilman untuk kemudian diterapkan menjadi suatu karya gaya kita sendiri hingga dapat menunjukkan kemampuan kita ke tingkat Dunia International. Salut kepada semua para pendukung Producer, Sutradara, aktor dan para Crew produksi dari Merantau Films atas prestasinya dalam mengangkat Citra Perfilman Indonesia Ke Tingkat Dunia International… dengan sederetan penghargaan atas eksisnya Fim “THE RAID”.

 

 

 

 

* Ketegangan yang dihadirkan dalam Film THE RAID merupakan adegan yang dilakukan dalam suatu kelokalan tempat dimana difokuskan pada Apartement kumuh yang dikuasai oleh para bandit narkotika *

 

4. Lemparan Sambal Pedas Buat Pemanis

Kita semua mengakui bahwa karya Film “THE RAID” dari aspek pengadegannya sungguh luar biasa hebatnya. Berbagai macam jurus perkelaia yang di dominasi dengan kemaksimalan perkelaian dengan beladiri pencak silat itu telah mengantarkan ketegangan dari menit-ke menit hingga penonton menahan nafas untuk menyaksikan agegan yang benar-benar nekat dari para actor yang berperan. Tetapi kita semua mengakui dan percaya dengan sebuah pribahasa “Tiada Gading Yang Tak Retak”, ini berarti tidak ada sebuah karya yang benar-benar sempurna, pasti ada beberapa kekurangan, hal itu bisa saja muncul dikarenakan tak terbayangkan sebelumnya ketika memasuki proses perencanaan atau memasuki proses produksi atau bisa juga dengan faktor X, hingga kekurangan itu terpaksa dimunculkan karena tidak ada jalan lain. Demikian juga dengan karya Film “THE RAID”, kalau dilihat dari aspek Artistik dalam penciptaan cinematografinya, ada beberapa rasa kejanggalan yang ada dalam benak saya terhadap karya film ini. Tanpa mengurangi rasa hormat dari para Crew Produksi, ungkapan ini bukanlah suatu hal yang mencelah pada karya yang saya kagumi, tetapi sebagai masukan yang perlu dikaji kebenarannya agar Karya-karya dari Merantau Films di masa mendatang lebih jelih melihatnya dari berbagai macam aspek, hingga nantinya kesalahan dapat diminimalisir sedikit mungkin, syukur tidak ada sama sekalai. Dalam kaitannya itu ada beberapa kajian yang perlu saya lontarkan dalam kesempatan ini diantaranya sebagai berikut :

  • Dalam Satuan Unit Kepolisian atau kemiliteran, entah berbentuk Brigade, Batalyon atau Detasemen, hingga melahirkan nama seperti Brigade Mobile (Brimob) telah membentuk satuan kecil semacam  “Detasemen GEGANA” sebagai Satuan Penjinak Bom, “Detasemen Khusus 88” (DENSUS 88) Mabes Polri sebagai Satuan Antari Teror serta satuan-satuan milik dari TNI lainnya. Dalam suatu operasi menyiapkan suatu penyerangan pada target sasaran yang dituju selalu mengikuti prosedur yang berlaku, sehingga tidak begitu saja seenaknya dilaksanakan tanpa ada aturan yang berlaku. Dalam realitasnya detasemen manapun sebelum melakukan menyerbuan terhadap target sasaran, perlu adanya rapat strategi penyerangan yang dilakukan di markas komando. Dari rapat itu telah ditentukan posisi dan tanggung jawab dari masing-masing personel dimana arah pergerakan pasukan dimulai dengan menunjukkan peta lokasi. Sesudahnya baru mulai mengambil dan memasang peluru senjatanya serta membawanya  menuju kendaraan kemudian melesat keluar area markas komando. Kasus dalam Film “THE RAID” Rapat komando strategi penyergapan tidak dilakukan di sebuah markas, tetapi koordinasi dilakukan langsung  di dalam mobil yang lagi berjalan, sehingga penggambarannya tidak mencerminkan suatu kerealistisan layaknya sebuah  Kesatuan Khusus yang akan mengadakan penyerbuan pada target sasaran.
  • Kendaraan yang membawa pasukan khusus itu, tidak diambil secara maksimal dari berbagai macam teknik kamera baik Camera Angle, Type of Shot, Type of Character maupun Moving Camera. Kenyataan banyak divisualisasikan di dalam mobil untuk mengisi rapat komando, sehingga gambar terlihat monoton tanpa ada kedinamisan kendaraan yang lagi melesat menuju lokasi sasaran. Demikian juga keluarnya kendaraan tidak menggambarkan bahwa kendaraan tersebut keluar dari markas komando yang akan melakukan penyerbuan. Sebenarnya visualisasi seperti ini pernah digambarkan pada Film Indonesia yang diproduksi oleh PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dalam Film Penumpasan G 30 S/PKI dimana Pasukan Khusus yang diwakili oleh RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) dengan gagahnya para pasukan elit dari Angkatan Darat itu, setelah mendapat pengarahan dari komandannya dan setelah selesai langsung mengambil senjata dan memasang pelurunya, secara cepat kemudian lari dan loncat di kendaraan untuk  berdiri tegak lengkap dengan segala macam atributnya di atas beberapa TRUCK yang bertuliskan RPKAD keluar dari markas komando dengan menonjolkan papan nama kesatuannya di akhir frame. Demikian juga kalau kita melihat adegan film SWAT, kedinamisan kendaraannya terjaga dan begitu lincahnya pengadegan gambar-gambar yang diambil dari berbagai macam teknik kameranya, bahkan pengambilan “High Angle” dan “Top Angle”pun bisa dilakukan sambil mengikuti arah pergerakan mobil yang melesat, tentunya pengambilannya bisa dilakukan di atas gedung dan Moving Camera terjaga dengan menggunakan Helicopter ketika mengikuti arah mobil tersebut bergerak menuju sasaran penyerbuan.
  • Penembakan yang dilakukan oleh para sniper  di atas gedung oleh para gerombolan yang ditugaskan menembak pasukan di luar gedung tersebut, tidak divisualisasikan terlebih dahulu aktifitas obyek sasarannya, aksi langsung main tembak saja… !. Visualisasi ini akan lebih mengena dan menarik…, jika obyek ditampilkan terlebih dahulu dengan pengadegannya, baru obyek ssaran masuk dalam bidikan para sniper yang ditugaskan untuk menembak itu, tentunya obyek sasaran dalam keadaan terbidik dengan zoom pada tele senjatanya yang ditandai dengan tanda plus (+) pada obyeknya…, setelah obyek dalam bidikan,  maka view camera diarahkan pada penarikan pelatuk senjata hingga peluru keluar dari sarang senapan melesat mengenai sasaran obyek yang dituju langsung kena peluru dan tumbang di tempat. Teknik peluru melesat dengan kencang sebenarnya bisa diaplikasikan  menggunakan teknik animasi komputer 3D dengan memakai program aplikasi 3D Max atau Alias Maya, kemudian diterapkan dengan penggabungan dua video melalui teknik Green Screen atau Blue Screen pada proses editingnya, sehingga suasana dramatik gambar akan lebih didapatkan.Teknik semacam ini sudah lazim dilakukan oleh film-film produksi Amerika Serikat yang bergenre action. Karena kurangnya perencanaan yang baik, maka pada pengadegan untuk scene pada film ini terasa janggal kurang gereget dan minim dengan visualisasi detail obyek dari pengadegan yang seharusnya dilakukan.
  • Seragam Pasukan Khusus yang ditampilkan dalam Film ini terlihat melompong tidak ada tanda kepangkatan dan penghargaan khusus yang melekat didada serta yang lebih penting lagi adalah logo dari kesatuan mana bertengger di legan kiri dan kanan para pasukan elit tersebut. Yang terlihat di film ini segala macam atribut dari seragam pasukan yang menjadi identitasnya itu melompong kayak seragam baru dijahit dari tukang jahit dan identitas pasukan hanyalah diwakili oleh nama personilnya saja…!. Orang yang jeli matanya akan bertanya-tanya… ini pasukan dari kesatuan mana…  ya… Brimob, Marinir, Paskhas, Kopassus atau Satpam Pertokoan …?, wong pasukannya dari pemuda partai saja ada atributnya…kok…, ini mala pasukan resmi dari negara kok mala serba gak jelas…!. Padahal di dalam sinopsis yang saya baca adalah Kesatuan Dari Kepolisian Republik Indonesia yang diwakili oleh Brimob tentunya…!. Penerapan ini adalah penting sekali sebagai penjelas yang kongkrit atas cerita melalui sinopsis yang dirancang. Penerapan ini tidak bisa diterapkan seenaknya bedasarkan imajinatif belaka, karena yang diacukan adalah lembaga resmi atau nyata bukan rekayasa yang sifatnya imajinatif belaka. Kenyataan ini telah diterapkan oleh film-film produksi dari Amerika Serikat seperti dalam film SWAT…, pada hal lahirnya Film ini mengambil inspirasi dari Film SWAT… itu sendiri… la… lo… gimana nih…!, sudah tahu jadi referensi… kok gambar pasukan seragamnya melompong dari atribut yang menjadi identitasnya…!

Coba kita lihat seragam yang dipenuhi dengan atribut dan telah menjadi identitasnya itu dari pasukan resmi Kesatuan Brimob , Gegana, Densus 88 milik Kepolisian Republik Indonesia. Perhatikan gambar berikut ini…

 

 

 

 

 

Dan sekarang perhatikan Pasukan elit dari Film “THE RAID” yang katanya dari Kepolisian Republik Indonesia itu… seragamnya melompong dari atribut… seperti seragam baru beli dan baru selesai  dijahit lagi. Perhatikan gambar berikut ini…

 

 

 

 

*Pasukan Dari Brimob, Gegana, Densus 88 milik Kepolisian Republik Indonesia pada kenyataannya Seragam penuh dengan atribut dari kesatuan yang menjadi identitas dari kesatuannya (foto 1-4). Pasukan dari Film “THE RAID” yang seragamnya melompong dari atribut (foto 5-7). Oleh karena itu ketepatan perencanaan artistik yang mendekati dengan keasliannya akan menciptakan suatu penggambaran yang nyata atas kejadian tersebut seperti adanya hingga gambar realistis akan tercipta, guna menerapkan hal itu,  maka diperlukan kerjasama pada instansi terkait yang menjadi obyek dalam visualisasinya *

 

Kita bandingkan dengan Pasukan Khusus dari Amerika Serikat yang diwakili oleh  SWAT Team, Atribut selalu ada dalam seragam yang dikenakan oleh pasukan tersebut, dan ketika Pasukan tersebut diangkat dalam cerita film keberadaan seragam pasukan sama persis. Berikut ini adalah gambarnya buat menganalisa pernyataan ini…

 

 

 

 

 

* Pasukan Khusus dari Kepolisian Amerika Sekiat yang diwakili oleh  SWAT Team sama juga dipenuhi atribut yang menjadi identitas dari pasukannya. Oleh para Crwe Produksi dalam Film SWAT itu, Seragam Pasukannya tetap terjaga seperti keasliannya, perhatikan foto diatas 1 dan 2 adalah  SWAT Team asli dari Kepolisian Amerika Serikat sedangkan 3,4,5 adalah SWAT Team dari Film yang diperankan oleh aktor bukan pasukan asli. Apa yang ditampilkan di Film SWAT… keberadaan Seragamnya sama persis dengan aslinya…?

 

Untuk menggunakan atribut di atas dalam proses pembuatan film tentunya harus mendapatkan ijin resmi dari Instansi terkaiat dan berkaitan dengan kasus diatas, maka perlu adanya pendekatan dari Merantau Films kepada Instansi Pemerintah terutama Polri dan TNI melalui kerjasama yang baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak demi kemajuan bangsa di mata dunia melalui karya film berkualitas tingkat dunia tentunya. Semoga ini menjadi sambal pedas sebagai pemanis buat para Crew Produksi dari Merantau Films untuk memoles lebih dalam lagi tentang segala sesuatunya berkaitan dengan produksi sebuah film , agar apa yang akan diciptakan di masa mendatang lebih BAIK LAGI dari sebelumnya… dan yang telah saya dengar… adalah para BERANDAL…, saya akan selalu menunggu karya-karyamu berikutnya…!

 

5. Dukungan Penuh Dari Pemerintah, Terutama Polri dan TNI

Film “THE RAID” hasil produksi film lokal Indonesia dari Merantau Films telah banyak mendapatkan penghargaan di ajang perfilman tingkat dunia, sehingga secara tidak langsung nama Negara Indonesia tercinta ini bisa terangkat keberadaannya lewat film tersebut. Film yang menceritakan tentang pasukan elit, dimana menurut sinopsisnya adalah Kepolisian Republik Indonesia telah menumpas gerombolan jaringan narkoba dan kelompok pembunuh di tempat sarangnya sebuah apartement kumuh di kawasan Jakarta. Tetapi dalam penggambarannya pasukan yang katanya dari Kepolisian Republik Indonesia itu menjadi tanda tanya…?, disebabkan karena seragamnya yang terlihat janggal, tidak mencerminkan suatu Pasukan Khusus dari Kepolisian Republik Indonesia seperti dalam sinopsisnya itu. Sungguh amat disayangkan, sebuah pengadegan yang begitu spektakuler itu tanpa diimbangi dengan seragam yang menjadi ciri khasnya dan idntitas dari pasukan tersebut secara nyata. Kita semua sebagai warga Negara Indonesia berharap produksi dari Merantau Films untuk periode produksi berikutnya dengan topik serupa yang mengangkat pasukan elit itu, harus melebihi dari yang sekarang telah diciptakan. Untuk itulah dari Pihak Kepolisian Republik Indonesia bisa memfasilitasi dari sarana yang diperlukan melalui kerjasama yang baik. Karena kalau bentuk kerjasama ini dilakukan dengan baik, maka pada proses produksinya Film mendatang dengan menyuguhkan peran dari Pasukan Khusus Kepolisian Republik Indonesia lewat Pasukan elitnya Brimob itu… akan tercipta suatu film yang “Super Dahsyat” baik dari aksi pengadegannya maupun dari penampilannya lewat Uniform Pasukan tersebut secara lengkap. Dengan demikian Pencitraan Kepolisian Republik Indonesia semakin terlihat jelas di Dunia International, sebagaimana Film Amerika Serikat menampilkan SWATnya hingga seluruh dunia memahaminya. Bentuk Ide Film juga bisa dilahirkan dari pihak TNI tentang perjuangan bangsa atau nasip para pasukan di wilayah perbatasan, kalau hal ini dikemas dengan baik,  juga akan mengangkat pencitraan dari TNI itu sendiri. Kemampuan para Crew Produksi dari Merantau Films dimana 90 % adalah anak bangsa Indonesia dengan penguasaan penciptaan pengambilan gambar sudah tidak diragukan lagi, cuma dukungan sarana dan prasaran yang terkait dengan peralatan militer sebagai penjelas pesan yang akan ditampilkan agar terlihat begitu realistisnya hingga pada akhirnya menarik minat penontonnya. Jika Film mendatang yang mengangkat Pasukan Elit Indonesia didukung dengan penuh oleh pihak Kepolisian maupun TNI, bukan tidak mungkin 5 besar Box Office Amerika Serikat itu direbutnya… Weee… Indonesia memasuki rekor yang luar biasa dari sekarang ini di posisi ke 11 Box Office Amerika Serikat.

Sebenarnya kerjasama ini sudah pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya ketika pemerintahan orde baru berkuasa, Beberapa pembuatan film tersebut melibatkan dari pihak TNI dan Polri untuk dukungan sarana dan prasarana termasuk beberapa pasukannya, guna menjamin realistisnya sebuah peristiwa. Mengapa kerjasama ini tidak dilakukan pada era sekarang ini ?. Film-film yang mevisualisasikan pasukan Kepolisian dan TNI pada masa terdahulu telah tercipta dengan fasilitas dari institusi tersebut seperti pada Film  “Menumpas Teroris” yang diperankan oleh Berry Prima Sebagai Anggota Satuan Pelopor Brimob, lemgkap dengan seragam dan senjata automatis serta baret dengan logo kesatuannya. Pengambilan gambar semakin memukau ketika memakai hellycopter… untuk membidik pengdegan dari atas serta turunnya pasukan ke tempat penyerbuannya… weee… hebatkan…! . Demikian juga dengan Film berjudul “Perwira dan Ksatria” bercerita tentang keberanian para Pilot F16…ini sungguh luar biasa karena mengunakan pesawat tempur beneran milik TNI AU…weee… kayak film TOP GUNnya Hollywood…!. Film yang banyak pengadegannya dari TNI adalah Produksi PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dalam Film “Pengkhianatan G30S/PKI”, film ini benar-benar didukung penuh oleh pihak TNI, sampai melibatkan pasukan,  peralatan militer semacam truck, mobil dan  pansernya… Luar biasa… hebatnya. Dari latar belakang inilah … mengapa hal ini tidak dilanjutkan di masa sekarangi…?. Saya percaya Jika sarana ini diterapkan dengan bekerjasama antara Pihak Polri dan TNI dengan Merantau Films dimasa mendatang, maka Film yang menonjolkan keeksistensian Pasukan Elit baik Polri maupun TNI akan lebih dahsyat lagi keberadaanya di mata dunia…!. Semoga tulisan ini membuka jambatan baru antara pihak Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia untuk mau bekerjasama dengan pihak-pihak Pembuat Film yang mempunyai kualitas tinggi, sehingga nantinya akan tercipta Film Indonesia Berkulaitas International…sehingga citra Indonesia semakin berkibar di Dunia International dalam bidang Perfilman…weee…senang juga saya mendengarnya…!.

 

 

 

* Perlu adanya dukungan dari Instansi terkait seperti Pemerintah, Polri Dan TNI untuk bekerjasama dengan orang-orang film guna memproduksi sebuah film besar dan berkualitas yang menonjolkan Pasukan kKhusus Indonesia dalam memerangi kejahatan atau tema-tema yang berhubungan dengan perjuangan bangsa, seperti yang telah dilakukan pada masa-masa sebelumnya untuk dibangunkan kembali dengan semangat baru demi menaikkan citra bangsa Indonesia di di Dunia International *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

VIVA News. Com

Antara News. Com

Metro TV News.Com

Pengamatan langsung melihat pemutaran  Film “THE RAID”

Pengamatan langsung melihat pemutaran  Film Menumpas Teroris, Film   Perwira dan Ksatria serta Film G 30 S/PKI

 

Posted in FILM | Tagged , , | 5 Comments

Leave a Reply