TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 7 (MULTI CAMERA)

PENERAPAN MULTI CAMERA DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan dalam merancang karya audio visual itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa di hadapan penonton dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur sebuah cerita film ataupun suguhanprogram acara dari salah satu stasiun televisi.

Di dalam produksi sebuah film ataupun dunia television broadcasting yang selalu bermain dalam gambar-gambar imajinatif maupun realitas kehidupan, aspek pengambilan gambar dalam memproduksi sebuah karya audio visual sering disebut dengan istilah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya dengan kata yang lebih sederhana yaitu memakai sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4 komponen  terkait dimana kedudukannya sama pentingnya seakan-akan tidak bisa saling terpisah, sehingga dalam implementasinya dilapangan harus sinergi dan menyatu dalam menciptakan gambar-gambar menarik hingga penonton bisa merasakan apa yang ada di depan matanya ketika sedang menontonnya, keempat komponen tersebut diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Demikian juga dalam proses pembuatan sebuah film atau sinetron, tak lepas dari peran kamera sebagai unsur perekam dari adegan-adegan sebagai bentuk visualisasi cerita yang telah dirancang dalam suatu skenario. Di dalam produksi sebuah film segala hal yang terkait dengan kamera lebih sering disebutkan dengan istilah Penata Fotografi atau Penata Kamera, sedangkan orang yang berprofesi sebagai pelaksana pengambilan gambar   suatu adegan dalam produksi film disebut sebagai Cameraman atau Director of Photography.

Dalam mengeksekusi naskah atau skenario film ke dalam bentuk gambar-gambar saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya itu disebut juga dengan istilah Shooting. Pada tahap melakukan shooting ini dunia audio visual menyebutkan tahap produksi yaitu tahap melakukan kerja lapangan untuk melakukan perekaman adegan demi adegan berdasarkan scene-scene yang telah dipecah dalam skenario. Tahapan ini merupakan proses kerja yang cukup panjang dan rumit serta melelahkan dalam pengeksekusiannya. Banyak aspek  perlu diperhitungkan secara matang dalam proses kerjanya, dimana pembagian kerja crew produksi sudah dibagi melalui beberapa departemen dengan rincian tanggung jawabnya. Sutradara sebagai pengendali produksi film di lapangan sangat dituntut untuk mesinergikan secara maksimal terhadap seluruh komponen yang terdiri dari beberapa departemen tersebut agar bisa berjalan mulus dan efisien serta tepat sasaran hingga terciptanya rekman pengadegan secara menarik dan mengagumkan sesuai dengan rancangan scene hasil pembedahan skenarionya.

Pembicaraan kali ini difokuskan pada bagaimana teknik perekaman adegan acting dalam menggambarkan isi cerita skenario itu dapat terwujud dengan baik. Tentu saja dalam mewujudkan perekaman adegan shooting itu terdiri dari beberapa teknik baik melalui teknik perekaman dengan menggunakan “single camera” atau menggunakan dengan “multi camera”. Untuk mefokuskan alaur pembicaraan agar lebih terarah dan jelas hasilnya, maka pembahasan diarahkan pada teknik perekaman dengan menggunakan  “multi camera” saja. Berikut ini adalah uraiannya

 

A. Pengertiannya

Istilah teknik “Multi Camera” lebih menegaskan pada metode atau model cara perekaman gambar pengadegan suatu cerita, apakah dengan metode satu kamera sebagai alat perekamannya ataukah dengan menggunakan beberapa kamera. Pernyataan ini menegaskan, jika keputusan perekaman menggunakan “Multi Camera”, maka kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istilah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, direkam dengan  menggunakan beberapa kamera tergantung dari kebutuhan, bisa 2, 3, 4 ataupun 5 kamera dalam waktu bersamaan merekam terjadinya suatu pengadegan.

 

B. Penerapannya

Dalam penerapannya teknik “Multi Camera”, pada umumnya digunakan dalam perekaman gambar yang sifat penayangannya tunda atau dalam format typing. Teknik ini dalam implementasinya merekam adegan-adegan yang telah tersusun dalam deretan scene, hasil pembedahan rancangan skenario film. Satu per satu scene-scene dalam rancangan skenario tersebut direkam baik melalui penggunaan teknik “Single Camera” atau dengan “Multi Camera”. Tidak semua rancangan scene-scene yang ada di dalam skenario film itu, dimonopoli oleh satu teknik perekaman saja, akan tetapi kedua teknik perekaman itu saling mengisi berdasarkan tingkat kategori kesulitan pengadegannya. Secara umum penggunaan “Single Camera”  hanya diperlakukan bersifat kenormalan peristiwa atau kenormalan pengadegannya. Terkadang dalam perekaman kenormalan pengadeganpun masih saja menggunakan 2 kamera hal ini dilakukan supaya tidak terjadi pengulangan pengadegan terlalu banyak atau dituntut oleh producer untuk cepat selesai kerjanya alias produksi “Kejar tayang” yang menjadi hoby dari Production Housenya sinetron televisi Indonesia itu… weleeeh… weleeeh… weleeeh… memang benerkan… ?… kita gak perlu membohongi diri… kalau masih ingin mau maju gitu…!!!. Pada kenyataannya pembuatan sebuah film tidak didominasi dengan menggunakan kamera tunggal saja, akan tetapi  ada beberapa scene yang sifat pengadegannya khusus dan menimbulkan kerumitan dalam menceritakan keadaan atau katakanlah menggambarkan suatu peristiwa spektakuler hingga menimbulkan ketegangan penonton nantinya, maka cara mewujudkan arti ketegangan tersebut dengan menggunakan “Multi Camera” atau kamera yang digunakan dalam perekaman peristiwa tersebut menggunakan banyak kamera . Misalkan suatu contoh penciptaan gambar yang menimbulkan ketegangan atau kegemparan suasana yaitu kejar-kejaran 3 mobil dan salah satu mobil menabrak mobil di depannya hingga melanting terbalik dan meledak serta terbakar dengan nyala api yang dasyat sekali.  Perencanaan setting untuk adegan tersebut adalah rumit dan membahayakan serta besar biayanya dalam proses produksinya. Agar efisien, maka teknik perekamannya hanya dilakukan sekali itu saja, kalau dilakukan secara berulang-ulang dengan menggunakan “Single Camera” jelas mengeluarkan biaya cukup mahal, oleh karena itulah perekamannya harus menggunakan teknik “Multi Camera”, dimana beberapa kamera ditempatkan pada sudut yang berbeda, demikian juga dengan penggunaan Camera Angle dan Type of  Shotnya ataupun Moving Camera antara kamera satu dengan kamera lainnya tidak sama dan kesemuanya itu dilakukan secara serentak perekamannya ketika sang sutradara meneriakkan tanda-tanda perekaman yaitu… Camera…Rolling…Action…!!!. Ketika pengadegan yang membahayakan itu dilakukan, maka dalam keadaan bersamaan telah dihasilkan berbagai macam gambar dengan sudut pandang berbeda yang mengilustrasikan peristiwa tersebut.

 

C. Pemakaian Peralatan

Untuk mengeksekusi perekaman adegan dengan teknik “Multi Camera”, diperlukan peralatan yang cukup rumit dalam pengerjaannya. Peralatan tersebut menyangkut persiapan penyetingan lokasi dimana property terkait dapat  diwujudkan atau dibuat terlebih dahulu dengan sumber daya manusia yang memang profesional dalam menangani proyek tersebut. Juga peralatan pendukung dari kamera seperti Dolly Rel Camera, Jimmy Jip, Portal Jip atau Crane sebagai penopang kamera untuk sudut pandang Top Angle dan High Angle.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Penerapan Teknik “Multi Camera” dalam produksi sebuah film, merupakan langkah pengeksekusian adegan yang dinilai mempunyai tingkat kerumitan dalam setting dan penyiapan property serta memakan pembiayaan tinggi hingga eksekusi perekamannya dilakukan secara serentak dengan menggunakan beberapa kamera di bawa arahan sutradara, hingga hasilnya dalam waktu bersamaan tercipta beberapa gambar menarik dan spektakuler dari keragaman sudut pandang *

 

D. Multi Camera pada Television Broadcasting

Penerapan “Multi Camera” juga dipakai dalam memproduksi materi penyiaran televisi. Produksi materi dari siaran televisi ini, biasanya pada program acara yang sifat penyiarannya berupa siaranlangsung atau live juga disebut On Air. Bentuk acara yang sering menerapkan teknik Multi Camera ini  adalah program acara berita khususnya kategori Paket Berita dan Talk Show. Untuk program Paket Berita yang dibawakan oleh presenternya sebagai pembaca berita itu dalam penyiarannya dilakukan di dalam Studio dengan memakai 3 Kamera yang dihubungkan dengan mixer sebagai pengontrol gambar untuk ditayangkan sebagai outputnya. Pengaturan ini biasanya disebuah ruangan khusus yang lebih dikenal dengan istilah Control Ro0m. Bentuk acara berita lainnya diantaranya model Talk Show, seperti dalam forum dialog dari berbagai macam narasumber dipandu dengan seorang presenter sebagai moderator yang berfungsi mengatur jalannya pembiacaraan atau diskusi.  Penataan Kamera biasanya di taruh sebelah kiri dan kanan serta tengah. dimana ketiga kamera tersebut selama acara berlangsung dalam keadaan on yang dikendalikan oleh kamerawan atas intruksi dari sutradara kamera atau producer camera yang bertugas mengendalikan gambar out putnya acara. Pada Kategori lain bisa juga diterapkan di luar studio dalam bentuk konser musik misalnya di pelataran Parkir sebuah Mall. Pada Konser Musik Penerapan “Multi Camera” jumlah kamera yang dipakai banyak yaitu ada 5-6 Kamera. Teknik settingnya hampir sama seperti di dalam studio televisi dimana setiap kamera terhubung dengan mixer sebagai pengontrolnya. Ke lima Kamera itu ditempatkan 2 kamera berada di kiri kanan panggung dengan tugas membidik semua obyek secara bergantian di atas panggung tersebut tentusaja atas instruksi dari producer kamera. 1 kamera ditempatkan didepan panggung dengan menggunakan Dolly Rel Kamera dalam posisi sejajar dengan panggung, bertugas membidik obyek dipanggung secara dinamis melalui gerakan kamera berjalan di atas rel. 1 Kamera ditempatkan di tengah penonton dalam posisi center ke arah panggung bertugas membidik secara jauh atau Long Shot terhadap obyek yang ada termasuk keseluruhan panggung dapat dijangkau dalam satu frame gambar. Satu lagi adalah Jimmy Jip yang ditaruh sebelah kiri atau kanan, bahkan untuk panggung yang besar bisa memakai 2 Jimmy Jip. Tugas Jimmy Jip ini adalah feksibel merekam segala penjuru bisa ke atas panggung maupun penontonnya dengan gerakan memutar kesana kemari namun kestabilan gambarnya tetap terjaga. Biasanya dalam konser musik ini disiarkan langsung, maka dari mini Control Room biasanya dalam bentuk mobil itu gambar dikirim ke Satelit disebut juga dengan istilah Up Links, Dan dari satelit tersebut Stasiun Pusat mupun Stasiun Relay mendown links untuk kemudian disebar luaskan melalui pemancar di sekitarnya hingga tertangkap antena dari rumah-rumah penduduk. Contoh model acara seperti ini adalah konser yang diselenggarakan oleh SCTV dalam program acaranya bernama INBOX.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Penerapan teknik “Multi Camera” pada television Broadcasting digunakan untuk acara-acara yang sifat penyiarannya langsung atau Live baik yang ada di dalam studio atau di luar studio, dimana penggunaan kamera sebagai perekam gambar biasanya terhubung dengan mixer sebagai pengontrolan gambar outputnya hingga siaran tersebut dapat dinikmati pada waktu bersamaan ketika acara tersebut diselenggarakan dengan tempat yang berbeda lokasinya*

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

Posted in FILM | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply