TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 6 (SINGLE CAMERA)

PENERAPAN SINGLE CAMERA DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan dalam merancang karya audio visual itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur cerita film ataupun suguhanprogram acara dari salah satu stasiun televisi.

Di dunia television broadcasting, aspek pengambilan gambar dalam karya audio visual sering disebut dengan istilah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya dengan kata yang lebih sederhana yaitu memakai sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4 komponen yang terkait diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Demikian juga dalam proses pembuatan sebuah film, tak lepas dari peran kamera sebagai unsur perekam adegan-adegan sebagai bentuk visualisasi cerita yang telah dirancang dalam suatu skenario. Di dalam produksi sebuah film lebih sering disebutkan dengan istilah Penata Fotografi atau Penata Kamera, sedangkan orang yang berprofesi sebagai pengambilan gambar dalam produksi film disebut sebagai Cameraman atau Director of Photography.

Dalam mengeksekusi naskah atau skenario film ke dalam bentuk gambar-gambar saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya itu disebut juga dengan istilah Shooting. Pada tahap melakukan shooting ini dunia audio visual menyebutkan tahap produksi yaitu tahap melakukan kerja lapangan untuk melakukan perekaman adegan demi adegan berdasarkan scene-scene yang telah dipecah dalam skenario. Tahapan ini merupakan proses kerja yang cukup panjang dan rumit serta melelahkan dalam pengeksekusiannya. Banyak aspek  perlu diperhitungkan dalam proses kerjanya, dimana pembagian kerja sudah dibagi melalui beberapa departemen dengan rincian tanggung jawabnya. Sutradara sebagai pengendali produksi film di lapangan sangat dituntut untuk mesinergikan secara maksimal terhadap seluruh komponen yang terdiri dari beberapa departemen tersebut agar bisa berjalan mulus dan efisien serta tepat sasaran hingga terciptanya rekman adegan menarik dan mengagumkan sesuai dengan rancangan skenarionya.

Pembicaraan kali ini difokuskan pada bagaimana teknik perekaman adegan acting dalam menggambarkan isi cerita skenario itu dapat terwujud. Tentu saja dalam mewujudkan perekaman adegan shooting itu terdiri dari beberapa teknik baik melalui teknik perekaman dengan menggunakan single camera atau menggunakan dengan multi camera. Untuk mefokuskan alaur pembicaraan, maka pembahasan diarahkan pada teknik perekaman dengan menggunakan  single camera saja. Berikut ini adalah uraiannya

 

A. Pengertiannya
Istilah teknik “Single Camera” lebih menegaskan pada metode atau model cara perekaman gambar penggadegan suatu cerita, apakah dengan metode satu kamera sebagai alat perekamannya ataukah dengan menggunakan beberapa kamera. Pernyataan ini menegaskan, jika keputusan perekaman menggunakan Single Camera atau satu kamera, maka kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istilah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, direkam dengan hanya menggunakan satu kamera saja.

 

B. Penerapannya

Penerapan Single Camera pada umumnya digunakan dalam perekaman gambar yang sifat penayangannya tunda atau typing. Teknik ini dalam implementasinya merekam adegan-adegan yang telah tersusun dalam deretan scene, hasil pembedahan rancangan skenario film. Satu per satu scene-scene dalam rancangan skenario tersebut direkam melalui kamera tunggal yang menjadi pilihan eksekusinya. Penggunaan Single Camera biasanya digunakan untuk perekaman adegan-adegan biasa atau dalam keadaan normal misalnya adegan pembicaraan di ruangan, adegan jalan-jalan atau adegan lain yang sifatnya menceritakan keadaan sewajarnya. Pada kenyataannya pembuatan sebuah film tidak didominasi dengan menggunakan kamera tunggal saja, akan tetapi  ada beberapa scene yang sifat pengadegannya khusus dan menimbulkan kerumitan dalam menceritakan keadaan atau katakanlah menggambarkan keadaan spektakuler hingga menegangkan tetap menggunakan multi kamera atau kamera ganda dimana pengadegan cerita yang dilakukan oleh para aktor lagi beracting itu direkam dengan menggunakan lebih dari satu kamera. Misalkan pengambilan gambar untuk adegan peledakan sebuah mobil yang terbalik disebabkan penyerangan senjata bertubi-tubi atas kendaraan tersebut hingga mengakibatkan kendaraan itu terjungkal dan terbalik serta meledak dengan mengeluarkan cahaya api besar serta kepulan asap membubung tinggi. Perencanaan setting untuk adegan tersebut adalah rumit dan membahayakan serta besar biayanya dalam proses produksinya. Agar efisien, maka teknik perekamannya hanya dilakukan sekali itu saja, kalau dilakukan secara berulang-ulang jelas mengeluarkan biaya cukup mahal, oleh karena itulah perekamannya harus menggunakan kamera banyak ditempatkan pada sudut yang berbeda, demikian juga dengan penggunaan Camera Angle dan Type of  Shotnya antara kamera satu dengan kamera lainnya tidak sama dak kesemuanya itu dilakukan secara serentak perekamannya ketika sang sutradara meneriakkan tanda-tanda perekaman yaitu… Camera…Rolling…Action…!!!. Ketika pengadegan yang membahayakan itu dilakukan, maka dalam keadaan bersamaan telah dihasilkan berbagai macam gambar dengan sudut pandang berbeda yang mengilustrasikan peristiwa tersebut.

 

 

 

 

 

* Shooting yang dilakukan dengan kamera tunggal atau dengan istilah Single Camera merupakan proses pengambilan gambar dengan menggunakan satu kamera untuk pengadegan yang sifatnya biasa atau menimbulkan sifat kenormalan peristiwa *

 

C. Single Camera pada Television Broadcasting

Penerapan Single Camera juga dipakai dalam memproduksi materi penyiaran televisi. Produksi materi itu biasanya pada program acara yang sifatnya berupa siaran tunda atau dalam format Typing. Bentuk acara yang sering menerapkan teknik single camera ini adalah program acara berita program acara non fiksi maupun program acara fiksi. Untuk program acara berita pemproduksiannya adalah yang dilakukan oleh kaum jurnalis dalam pencarian berita di lapangan. biasanya dilakukan oleh reporter dan juru kamera. Pada kategori ini teknik single camera merupakan senjata juru kamera atau kamerawan dalam mengabadikan suatu peristiwa penting yang terjadi dilapangan dengan melakukan proces edit by camera. Pada kategori program acara non fiksi biasanya untuk program reality show yang pengadegannya dilakukan berdasarkan naskah membentuk alur cerita baik pengadegannya di luar luar gedung atau di dalam gedung. Demikian juga untuk produksi program acara fiksi berupa tayangan sinetron, dimana dalam produksinya selalu menggunakan format typing.

 

 

 

 

 

 

 

* Program-program acara televisi juga menggunakan teknik pengambilan gambar dengan penerapan rekaman peristiwa melaui single camera. Perekaman kamera tungga sering dilakukan oleh kaum jurnalis dalam mencari berita dilapangan dengan reporternya. Penerapan lain juga melakukan hal yang sama selama program acara tersebut berformat typing *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

Posted in FILM | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply