TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 5 (MOVING CAMERA)

PENERAPAN MOVING CAMERA DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan dalam merancang karya audio visual itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur cerita film ataupun suguhanprogram acara dari salah satu stasiun televisi.

Di dunia television broadcasting, aspek pengambilan gambar dalam karya audio visual sering disebut dengan istlah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya dengan kata yang lebih sederhana yaitu memakai sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4 komponen yang terkait diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Guna terfokusnya pembahasan secara mendetil tentang hal ini, maka pembahasan di arahkan pada teknik Moving Camera saja.

A. Pengertiannya
Moving Camera dalam pengertian karya audio visual berati suatu usaha menciptakan gambar-gambar menarik dengan disertai pergerakan kamera sebagai perekam obyek dalam bidikan, agar hasilnya terlihat lebih menarik dan menimbulkan kesan dramatik dari obyeknya.  Pernyataan ini menegaskan, bahwa kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istlah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, memakai peralatan khusus guna menggerakkan kamera ke arah sudut tertentu dengan harapan dapat menghasilkan karakter pergerakan dari gambar yang menceritakan suatu peristiwa tertentu atau semacam pergerakan gambar dalam suatu scene tertentu.

 

B Jenisnya

Ada beberapa jenis tentang Moving Camera diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. Panning

Teknik pengambilan gambar dengan cara menggerakkan kamera mengikuti arah obyek melakukan pergerakan, jika arah pergerakan obyek dari kanan ke kiri maka disebut (Pan Left) dan sebaliknya, jika arah pergerakan obyek dari kiri ke kanan disebut (Pan Right).

* Fungsi teknik ini memberikan kesan dramatik ketika obyek melakukan gerakan lari, dalam implementasi di film obyek bisa diperankan tokoh utamanya yaitu jagoannya (protagonis) atau bisa juga musuhnya (antogonis) ketika dikejar sekelompok massa hingga lari terbirit-birit. Dalam pengeditannya nanti adegan ini akan lebih didramatisir lagi dengan gerakan ( Slow Motion), yaitu lari pelan-pelan mirip gaya film jagoan TVRI era tahun 80-an dalam The Six Million Dolarman.

* Teknik penerapan ini tidak berlaku hanya orang lari saja, juga diperlakukan  untuk binatang, misalkan ada orang yang sedang berjalan santai di sebuah jalanan tepi hutan, eee… tiba-tiba ada seekor kudanil lagi bete… gara-gara betinanya hilang turus ketemu orang… yang sedang berjalan itu, maka marahlah dia dan mengejarnya… karena kaget orang tersebutpun lari… sambil teriak diamput… opo iki… aaaahhhhh…. Termasuk pergerakan dari kendaraan motor atau mobil yang ada di jalan raya seperti salah seorang pengendara motor lagi ngebut gara-gara dikejar Polisi karena kabur dari operasi Satlantas.

* Teknik penerapannya adalah kamera harus diletakkan di atas tripod dengan tujuan supaya ketika digerakkan tidak mengalami guncangan atau goyang. Bisa juga menggunakan Softer Shot dengan dipanggul di dada kamerawan, sehingga kalau kamerawan lagi bergerak mengikuti obyek bidikannya itu kamera tetap stabil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Teknik Panning dalam pengambilan gambar bertujuan untuk mendramatisir suasana ketika obyek bidikan mengalami tekanan hingga menghindar sejauh mungkin dari lokasi kejadian. Dalam pengambilannya teknik ini berlaku untuk benda seperti kendaraan, binatang dan orang *

 

2. Tilting

Teknik pengambilan gambar dengan cara menggerakkan kamera mengikuti arah obyek melakukan pergerakan dari atas ke bawah disebut (Tilt-Down) atau sebaliknya dari bawah ke atas disebut (Tilt-Up). Teknik ini tidak hanya orang saja benda-benda lain atau apapun bisa dilakukan dengan maksud untuk mendaratisir suasana agar pemirsa atau penonton dibuat penasaran.

* Fungsi teknik ini memberikan kesan dramatik ketika obyek melakukan gerakan jatuh dari gedung atau dari pohon dan bisa juga benda tertentu dilempar oleh orang. Juga bisa membuat suasana tegang atau semacam penasaran orang yang melihatnya. Misalkan ada orang yang baru saja turun dari mobil mercy warna coklat kehitaman. Supaya penonton penasaran…sebenarnya siapa sih dia, maka kamera diarahkan ke bawah untuk membidik keluarnya kaki dari cewek tersebut, setelah ceweknya keluar dari mobil secara pelahan-lahan kamera digerakkan ke atas sampai ketemu wajah si cewek tersebut…eeee gak tahunya si nenek-nenek narsis…uuueeeedddaaannnn tenan…!!!.

* Teknik penerapan ini tidak berlaku hanya orang  saja, juga diperlakukan  untuk binatang, termasuk benda-benda yang mengalami pergerakan karena ada penyebabnya, misalkan Establishing Camera, dimana kamera dibidikkan ke arah awan kemudian secara pelahan-lahan kamera turun pada seseorang yang lagi penunggu kendaraan umum di depan kantor pegadaian.

* Teknik penerapannya adalah kamera harus diletakkan di atas tripod dengan tujuan supaya ketika digerakkan tidak mengalami guncangan atau goyang. Bisa juga menggunakan Softer Shot dengan dipanggul di dada kamerawan, sehingga kalau kamerawan lagi bergerak mengikuti obyek bidikannya itu kamera tetap stabil. Pada karakter tertentu dipakai juga sebuah alat  Mobile Crane untuk pengambilan gambar teknik ini agar hasil rekaman terlihat dinamis bisa bergerak kesana kemari dengan kestabilan gambar terjaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Teknik Tilting dalam pengambilan gambarnya dilapangan bertujuan untuk mendramatisir suasana ketika obyek bidikan mengalami pergerakan khusus karena ada tujuan dan penyebabnya.  Dalam implementasinya teknik ini berlaku untuk benda seperti kendaraan, binatang dan orang dan juga diperlukan alat bantu seperti Mobile Crane *

 

3. Tracking

Teknik pengambilan gambar dengan cara menggerakkan kamera pada arah obyek berada, jika arah pergerakan kamera ke depan menuju obyek disebut (Track-in) dan sebaliknya jika arah pergerakan kamera ke belakang meninggalkan obyek disebut (Track-Out) . Pergerakan kamera bisa menuju obyek bidikan atau melewati disampingnya. Teknik ini biasanya dilakukan untuk benda-benda bernyawa semacam orang atau binatang, tetapi tidak dilarang juga untuk benda-benda lainnya tergantung kebutuhan, tentunya harus ijin dengan sutradara.

* Fungsi teknik ini memberikan kesan dramatik ketika obyek melakukan suatu percakapan atau katakanlah semacam lagi pacaran di sebuah cafe dengan lampu redup disertai cahaya lilin mengesankan kesan romantis gitu deh… Dengan melakukan teknik Tracking yang diambil gari bebarapa sudut pandang itu,maka suasana akan terlihat dramatis sekali, lebih-lebih dipadu dengan Type of Character semacam artificial shot yang memberikan penghalang dedepan kamera katakanlag sebuah vas bunga di atas meja depan kamera berjalan…asyik tenan,,,kuwi…!

* Teknik penerapan ini tidak berlaku hanya orang  saja, juga diperlakukan  untuk binatang, termasuk benda-benda yang mengalami pergerakan karena ada penyebabnya, misalkan seseorang yang lagi dikejar-kejar massa pada pertigaan jalan dia bingung harus berjapilih jalan mana, pada saat kebingungan itulah kamera yang berada dalam posisi berlawanan dengan menggunakan rel dolly camera digerakan secara cepat menuju ke arah dia.

* Teknik penerapannya adalah kamera harus diletakkan di atas tripod dimana tripod tersebut terhubung dengan dolly rel Camera dengan tujuan supaya ketika digerakkan tidak mengalami guncangan atau goyang. Bisa juga menggunakan Softer Shot yang dipanggul di dada kamerawan, sehingga kalau kamerawan lagi bergerak mengikuti obyek bidikannya itu kamera tetap stabil. Pada karakter tertentu dipakai juga sebuah alat   Crane untuk pengambilan gambar teknik ini agar hasil rekaman terlihat dinamis bisa bergerak kesana kemari dengan kestabilan gambar terjaga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* TeknikTracking dalam pengambilan gambarnya dilapangan bertujuan untuk mendramatisir suasana ketika obyek bidikan dalam keadaan romantis atau sedang melakukan suatu pekerjaan, sehingga perlu dibuatkan suasana agar gambar terlihat lebih menarik dengan menerapka kamera bergerak disekitar obyek dimana berada *

 

4. Following Shot

Teknik pengambilan gambar dengan cara kamera mengikuti kemana obyek bergerak. Perekaman bisa diikuti dari belakang, dari samping kiri atau kanan maupu dai depan obyek itu sendiri.

* Fungsi teknik ini memberikan kesan seolah-olah obyek dalam keadaan bahaya, gerak geriknya ada yang mengikutinya, misalkan si tokoh sedang berjalan-jalan sendirian di keramaian pasar, tanpa sadar di diikuti oleh dua orang menjahat di belakangnya. Kaadaan laian juga bisa ketika sedang terjadi kejar-kejaran di keraian kota, karena panik akhirnya menyusup ke dalam sebuah pasar tradisional yang becek dan tak sengaja akhirnya terpeleset kulit pisang yang baru saja dilempar orang dan akhirnya si tokoh tersungkur di tanah becek…!. Dalam keadaan seperti itu kamera akan terus mengikuti kemana obyek bergerak.

* Adegan lain juga bisa seorang lagi berada di atas kendaran baik itu motor atau mobil, katakanlah mobil itu dikejar oleh polisi karena menyerobot lampu merah, Maka perekaman akan mengikuti kendaraan tersebut bergerak tentu saja kamera harus diletakkan di atas mobil juga mengikti kemana mobil itu melaju. Perekaman saling menyatu mulai dari belakang dari samping dan dari depan termasuk adegan detil dari ekspresi wajah yang sedang ketakutan itu.

* Teknik penerapannya adalah kamera harus diletakkan di atas dada dari kamerawan dengan menggunakan Softer Shot untuk yang berjalan kaki sedangkan untuk kendaraan baik motor maupun mobil, alat perekamannya menggunakan bantuan Mobile Crane. dengan menggunakan peralatan tersebut walaupun obyek bergerak secara cepat, gambar akan tetap terjaga kestabilannya dikarenakan ada alat yang bisa menahan dari guncangan tersebut yaitu Mobile Crane dan Softer Shot.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Teknik Following Shot dalam pengambilan gambarnya dilapangan bertujuan untuk mendramatisir suasana ketika obyek bidikan dalam keadaan tertekan atau sedang melakukan suatu pekerjaan, sehingga perlu dibuatkan suasana khusus agar gambar terlihat lebih menarik dengan menerapkan kamera mengikuti kemana arah obyek bergerak. Karena obyek mengalami pergerakan cepat, maka alat perekam harus memakai alat khusus yang berfungsi menjaga guncangan agar gambar terlihat stabil *

 

5. Zoming

Teknik pengambilan gambar dengan cara memutar zoom ke kiri dan ke kanan pada lensa kamera ke arah obyek berada, jika arah pemutarannya ke kanan berarti mendekatkan obyek pada kamera disebut ( Zoom-in) dan sebaliknya  jika arah pemutarannya ke kiri berarti menjauh dari obyek disebut (Zoom-Out).  Teknik ini biasanya dipakai untuk adegan-adegan yang menimbulkan ketegangan pada aktor yang bermaian, terutama pada obyek yang kaget atau terkejut. Juga bisa diterapkan pada adegan-adegan dialog dua orang dengan memainkan zoom serta fokus antara keduanya, hingga menimbulkan kekaburan dari salah satu lawan bicaranya.

* Fungsi teknik ini memberikan kesan dramatik ketika obyek terkejut dengan katakanlah berita tentang kecelakaan saudaranya itu. dan untuk mendramatisir ekspresinya maka teknik zoo-in diterapkan dengan maksud mengekspos wajahnya dengan karakter yang ditimbulkannya. Atau juga bisa dipakai untuk menciptakan efek pergerakan. Selain juga sebagai tanda pergerakan aktor atau musuh dalam sebuah cerita film. Seperti film Anaconda produksi dari Amerika, dimana digambarkan seolah-olah Anaconda bergerak mencari mangsa, maka kamera dirancang bergerak kesana kemari dengan efek zooming sebagai tanda mata dari Anaconda yang lagi bergerak.

* Teknik penerapannya adalah kamera harus diletakkan di atas tripod, hal ini untuk menjaga kestabilan gambar nanti pada saat memutar lensanya ke kiri atau ke kanan sehingga kamera bebas dari gaguan goncangan. Alat lain semacam Crane atau Jimy jip sangat membantu dalam menramtitisasi suasana terutama untuk pengambilan gambar multi kamera katakanlah seperti contoh pementasan pangung dangdut di depan halaman PD Pasar Jaya dalam rangka merayakan hari ulang tahunnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Teknik Zo0ming dalam pengambilan gambarnya dilapangan bertujuan untuk mendramatisir suasana ketika obyek bidikan dalam keadaan tertekan atau sedang melakukan suatu pekerjaan. Dalam penerapannya teknik ini harus menggunakan tripod guna menjaga kestabilan gambar *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

Posted in FILM | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply