TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 4 (GROUP SHOT)

PENERAPAN GROUP SHOT DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan dalam merancang karya audio visual itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur cerita film ataupun suguhanprogram acara dari salah satu stasiun televisi.

Di dunia television broadcasting, aspek pengambilan gambar dalam karya audio visual sering disebut dengan istlah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya dengan kata yang lebih sederhana yaitu memakai sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4 komponen yang terkait diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Untuk pengaplikasian beberapa teknik di atas perlu adanya pengkategorian dari obyek yang akan dibidik atau akan diambil gambarnya, apakah obyek dalam keadaan tunggal atau sendiri, obyek terdiri dari dua orang, tiga orang atau kah lebih terhitung dari empat orang ke atas. klasifikasi ini sering dinamakan Group shot. pada pengembangannya teknik group ini tidak hanya untuk orang benda bernyawa termasuk hewan juga dapat disetarakan layaknya obyek manusia.

A. Pengertiannya
Group Shot dalam pengertian karya audio visual berati jumlah obyek dalam pengadegan suatu peristiwa atau juga disetarakan dengan jumlah obyek yang dibidik gambarnya dalam melakukan pengadegan suatu scene.  jumlah obyek pengadegan tentunya jumlahnya berfariatif, tergantung dari naskah atau sekenario film. Pernyataan ini menegaskan, bahwa kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istlah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, menghasilkan karakter gambar dengan jumlah obyek yang berperan bermacam-macam jumlahnya, hal ini dapat dikenali di dalam rancangan skenario film. Sutradara akan membelah skenario tersebut dengan penata kamera berdasarkan setiap scene sebagai pegangan atau acuan dalam melakukan shooting dilapangan.

 

B. Jenisnya

Secara lengkap tentang jenis-jenis Group Shot tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. One Shot

Teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh penata kamera dengan fokus obyek terdiri dari satu obyek atau satu orang dan juga bisa disetarakan dengan satu binatang. Segala aturan tentang keartistikan dalam pengambilan gambarnya tetap mengacu pada Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera.

* Fungsi dari teknik ini adalah biasanya digunakan untuk mengenal secara detil tentang kepribadian dari obyek bidikan. biasanya banyak difokuskan pada pemeranan tokoh utama atau dapat juga dikatakan dengan sang jagoannya, peran antagonis sebagai musuhnyapun tak lepas dari bidikan karakter One Shot. Contoh dari hal ini dapat dilihat di film-film produksi Amerika Serikat yang terkenal dengan pengaplikasian teknologi di dalam pembuatan filmnya itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam karakter gambar dengan dengan satu obyek obyek bidikan atau dengan istilah One Shot dalam ramuan beraneka Camera Angle, Type of Shot, Type of Character dan Moving Camera untuk menciptakan suatu gambar menarik hingga nantinya penonton di buat kagum hal ini dapat dilihat dari karya-karya film produksi Amerika Serikat yang begitu spektakuler *

 

2. Two Shot

Teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh penata kamera dengan fokus obyek terdiri dari dua obyek atau dua orang dan juga bisa disetarakan dengan dua binatang.  Segala aturan tentang keartistikan dalam pengambilan gambarnya tetap mengacu pada Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera.

* Fungsi dari teknik ini adalah biasanya digunakan untuk mevisualisasikan keakraban teman. biasanya banyak difokuskan pada pemeranan tokoh utama atau dapat juga dikatakan dengan sang jagoannya sedang berjalan jalan dengan temannya atau bahkan kekasihnya. penceritaan juga dipakai dalam adegan percakapan baik itu bersifat biasa atau semacam bercanda antar teman atau orang lain, namun juga berlaku pada pengadegan pertengkaran atau keributan. Contoh dari hal ini dapat dilihat di film-film produksi Amerika Serikat yang terkenal dengan keseriusannya dalam memproduksi sebuah film.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam karakter gambar dengan dengan dua obyek bidikan atau dengan istilah Two Shot dalam ramuan beraneka Camera Angle, Type of Shot, Type of Character dan Moving Camera untuk menciptakan suatu gambar menarik hingga nantinya penonton di buat kagum untuk melihatnya, seperti anda lihat sendiri dari karya-karya film produksi Amerika Serikat yang tahu betul teknik membuat film disenang oleh orang sejagat ini.

 

3. Three  Shot

Teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh penata kamera dengan fokus obyek terdiri dari tiga obyek atau tiga orang dan juga bisa disetarakan dengan tiga binatang.  Segala aturan tentang keartistikan dalam pengambilan gambarnya tetap mengacu pada Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera.

* Fungsi dari teknik ini adalah biasanya digunakan untuk mevisualisasikan keakraban teman dimana temannya terdiri dari dua orang. biasanya banyak difokuskan pada pemeranan tokoh utama atau dapat juga dikatakan dengan sang jagoannya sedang berjalan jalan dengan dua orang temannya atau bahkan dua orang yang sedang memadu kasih itu ketahuan berselingkuh dengan pacarnya hingga bertiga ribut di warung tegal sumarno. penceritaan juga dipakai dalam adegan percakapan baik itu bersifat biasa atau semacam bercanda antar teman atau orang lain, namun juga berlaku padapada pengadegan pertengkaran atau keribuatn. Contoh dari hal ini dapat dilihat di film-film produksi Hollywood USA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam karakter gambar dengan dengan tiga obyek bidikan atau dengan istilah Three  Shot dalam ramuan beraneka Camera Angle, Type of Shot, Type of Character dan Moving Camera untuk menciptakan suatu gambar menarik hingga nantinya penonton penasaran dibuatnya *

 

4. Group  Shot

Teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh penata kamera dengan fokus obyek terdiri lima orang, bahkan sampai jumlahnya puluan orang.ketentuan ini berlaku pada obyek yang digolongkan lebih dari 4 orang. Pengertian group juga berlaku pada kelompok-kelompok, seperti film perang yang mengilustrasikan beberapa batalyon lagi bertempur.  Segala aturan tentang keartistikan dalam pengambilan gambarnya tetap mengacu pada Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera.

* Fungsi dari teknik ini adalah biasanya digunakan untuk mevisualisasikan sekelompok orang lagi beraksi misalkan anggota geng motor yang berkonvoi dengan motornya keliling kota. Pengadegan biasanya banyak difokuskan pada pemeranan tokoh utama atau dapat juga dikatakan dengan sang jagoannya beserta dengan anak buahnya sedang berpatroli.  Pengilustrasian adegan juga dapat digambarkan dengan keributan dari sekelompok orang menyerang anggota kelompok lain hingga terjadi keributan. Orang-orang yang sedang lewat disitu pada ikut kabur menyelamatkan diri, karena terburu-buru eee… kakinya menginjak atau terpelesat tumpahan bubur ayam yang juga turut panik di tempat itu.  Contoh dari hal ini lagi-lagi film Amerika Serikat yangmenjadi acuan, karena menurut penulis itulah yang terbaik…Apa salahnya kalau kita mencontoh teknologi perfilmannya demi kemajuan perfilman yang kembang kempis ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam karakter gambar dengan dengan banyak obyek bidikan atau dengan istilah Group Shot dalam ramuan beraneka Camera Angle, Type of Shot, Type of Character dan Moving Camera untuk menciptakan suatu gambar menarik hingga nantinya penonton bisa terbuai melihatnya*

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

Posted in FILM | Tagged , , | Leave a comment

Leave a Reply