TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 3 (TYPE OF CHARACTER))

PENERAPAN TYPE OF CHARACTER DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan dalam merancang karya audio visual itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur cerita film ataupun suguhan program acara dari salah satu stasiun televisi.

Di dunia television broadcasting, aspek pengambilan gambar dalam karya audio visual sering disebut dengan istlah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya kata yang lebih sederhana yaitu memakai sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4 komponen yang terkait diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Untuk memaksimalkan penjelasan lebih detil, kali ini akan dibahas hanya Type of Shot saja. Dan penjelasan secara lengkap akan diuraikan sebagai berikut :

A. Pengertiannya
Type of  Character dalam pengertian karya audio visual berati bentuk penciptaan frame berdasarkan karakter obyek dalam menceritakan suasana atau suatu peristiwa dalam alur cerita. Pernyataan ini menegaskan, bahwa kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istlah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, menghasilkan karakter kondisi, situasi maupun gaya yang mencerminkan efek pengadegan dariobyek yang ingin divisualisasikan kepada pemirsa. Pemakaian Type of Character ini diharapkan dapat menghasilkan suatu rekman peristiwa dengan berbagai macam karakter gambar terhadap pemeranan tokoh. Setiap hasil bidikan dalam bentuk frame atau ukuran frame selalu mempunyai  kandungan makna dan nilai tertentu dari jenis Type of Character yang dipakainya.

 

B. Jenisnya

Secara lengkap tentang jenis-jenis Type of Character tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. Back Light Shot
Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan penyinaran obyek dari arah belakang sehingga keberadaan karakter obyek seolah-olah sengaja disembunyikan dari pandangan. Teknik ini memberikan illustrasi bahwa sebagian dari keseluruhan obyek dalam keadaan tersebunyi atau terlihat samar-samar, sehingga sulit dikenali identitasnya. contohnya semacam seekor rusa yang berada ditengah hutan dalam suasana senja hari, karena cahaya senja berada dalam posisi di belakang obyek, maka rusa dalam kedaan samar tenik ini juga dikenal dengan nama siluet.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam keadaan tersembunyi sehingga sulit dikenali keberadaannya. Teknik ini dalam program acara berita sering ditampilkan nara sumber yang disembunyikan identitasnya, misalkan wawancara dengan para psk terselubung.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keadaan yang diperlukan berdasarkan alaur cerita yang dipakai tentu dari arahan sutradara dengan penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar yang lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, seperti film-film produksi Amerika yang serba dinamis dalam mengikuti alur ceritanya, sehingga penonton dibuat puas untuk melihatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Pemberian sinar dari arah belakang obyek membuat keberadaan obyek terlihat lebih menarik dan dramatik, apalagi kalau dilakukan dengan menambahkan teknik Moving Camera di dalamnya, hingga nantinya dapat menghasilkan deretan frame dalam kedinamisan alur ceritanya *

 

2. Reflection Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan efek pencerminan pada obyek .  Pengeksekusiannya bisa melalui pencerminan pada cermin atau air. Teknik ini memberikan illustrasi bahwa obyek yang dibidik tidak dilakukan secara lang pada obyeknya akan tetapi pembidikan diarahkan pada hasil cerminan dari beraksinya para aktor di depan cermin itu. contohnya semacam ketika seorang berada di dalam mobil sedang duduk santai sambil merokok itu, tiba-tiba dikejutkan kedatang seseorang dari arah belakang dalam view samping mobil. Pengambilan gambarnya tidak diarahkan pada seseorang yang mau penghampiri itu secara langsung pada obyeknya akan tetapi melalui pencerminan pada spion bobil disebelah kanannya.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam keadaan tidak langsung pada obyeknya. Teknik ini sangat cocok untuk film-film bergenre action misalnya kejar-kejaran mobil dimana viewnya di arahkan pada spion mobil yang berada di belah kiri, kanan maupudi atas kepalanya itu.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keadaan yang diperlukan berdasarkan alaur cerita yang dipakai tentu dari arahan sutradara pada penata kamera. Demikian juga alat pencerminan tidak hanya kaca cermin saja, namun benda lain semacam kaleng, air juga bisa dimainkan dalam pencerminan obyek dalam bidikan kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar yang lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan shooting di kolam renang atau perjalan melali sungai dengan perahu dimana dalam pengeksekusian dilapangan memakai Crane yang diletakkan di atas kapal dalam posisi dibelakang , di damping ataupun di depan terhadap perahu yang menjadi sasaran pembidikan kamera. Lihatlah film-film produksi Amerika yang serba dinamis dalam mengikuti alur alur gerakdari aktornya sehingga penonton di buat gerah untuk mengikuti  ceritanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Reflection Shot dengan keragaman benda yang dijadikan bahan pencerminan pada obyek, semata-mata untuk mendramtisir suasana pengadegan dari beracktingnya para aktor dalam alur suatu cerita film *

 

3. Door Frame  Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera perekam berada diluar lokasi obyek berackting.  Pengeksekusiannya misalnya pengadegan dilakukan di dalam ruang tamu dimana menceritakan tentang suatu keribuatan keluarga, maka kamera merekamnya secara tidak langsung di dalam rumah tetapi di lakukan di luar rumah kamera dibidikan pada pintu rumah sehingga obyek tersenbunyi dengan sendirinya. Teknik ini memberikan illustrasi bahwa obyek yang dibidik tidak dilakukan secara  terang terangan, akan tetapi di kelabui dengan harapan penonton nanti bisa dibuat menjadi penasaran dalam menyaksikan adegan tersebut.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam keadaan tidak langsung pada obyeknya. Teknik ini sangat cocok untuk menceritakan adegan keributan, misalnya pertengkaran suami istri di dalam rumah hingga piring dan rantang secara spontan keluar dari pintu atau cendela serta hampir mengenai orang yang sedang lewat disitu.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alaur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar yang lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan alat crane sehingga kamera sebagai perekam adegan lebih dinamis pergerakannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Door Frame  Shot dengan keragaman situasi pengadegannya, semata-mata untuk mendramtisir suasana pengadegan dari beracktingnya para aktor dalam alur suatu cerita film *

 

4. Profile  Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera perekam berada sangat dekat dengan keberadaan obyek.  Pengeksekusiannya misalnya pengadegan dilakukan pada seseorang dengan kamera membidik pada situasi ekspresi wajah seseorang dengan sudut kemiringan tertentu. Teknik ini biasanya diambil dalam posisi miring dengan obyek entah sebelah kiri atau sebelah kanan di mana obyek tersebut dibidik. Teknik ini memberikan illustrasi bahwa obyek yang dibidik memberikan kesan tertekan misalnya murung, sedih, tertawa, takut dengan karakter pengekspresiannya.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam keadaan situasi tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Teknik ini sangat cocok untuk menceritakan adegan pada situasi tertentu obyek terkena dampaknya hingga menimbulkan sedih, takut, marah, kecewa, ceriah serta siatuasi lainnya dan biasanya pengadegannya untuk satu orang dengan maksud untuk mengetahui karakter dari seseorang yang berperan.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar yang lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan alat crane sehingga kamera sebagai perekam adegan lebih dinamis pergerakannya hingga dapat menciptakan dinamisasi frame dari runutan cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Profile Shot dengan keragaman situasi pengadegannya, semata-mata untuk mendramtisir suasana pengadegan dari beracktingnya para aktor guna mengetahui kepribadiannya dalam alur suatu cerita film *

 

5. Over Shoulder  Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera sedang merekam adegan dari dua orang yang saling berhadapan dalam suatu pembicaraan.  Pengeksekusiannya mengambil secara penuh terhadap obyek lawan bicara sedangkan pembicara divisualisasikan separuh dan lebih dekat dengan kamera pembidik. Teknik ini biasanya diambil dalam posisi dibelakang obyek bicara dengan menampilkan sedikit bahunya.Dalam perekamannya selalu dilakukan secara bergantian dalam posisi searah. Teknik ini memberikan illustrasi bahwa obyek yang diajak bicara ukurannya lebih kecil dan jauh dari kamera.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam  situasi pembicaraan tentang suatu masalah dari dua orang tokoh. Biasanya bentuk atau ukuran frame shot terdiri dari meuim shot untuk menandakan kesan kenormalan situasi dan Camera Angle yang dipakai kebanyakan adalah Eye Level Angle atau  posisi sejajar dengan mata berdiri. Pada kesempatan laian teknik ini juga bisa dipakai dalam adegan berantam atau sedangmelakukan pertempuran dengan beberapa bentuk frame shot yang ditampilkan.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar terkesan lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan alat crane atau jimy jeep sehingga kamera sebagai perekam adegan lebih dinamis pergerakannya hingga dapat menciptakan dinamisasi frame dari runutan cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Over Shoulder  Shot dengan keragaman situasi pengadegannya, semata-mata untuk mendramtisir suasana pengadegan dari beracktingnya para aktor guna menciptakan kesan dramatik dalam kenormalan aktifitas *

 

6. Artificial  Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera sedang merekam adegan namun sengaja dihalang-halangi suatu benda di  depan kamera. Pengeksekusiannya teknik ini bisa saja memakai penghalang semacam pagar atau rumput dan juga bisa semacam segerombol tanaman bunga warna warni dikeun bunga,  dimana penempatannya didekatkan pada depan lensa kamera pembidik.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam  situasi lebih menarik suasana sehingga menghasilkan gambar lebih dramatik dan fantastik. Pada kesempatan lain obyek menjadi terhambat pergerakannya, hal ini dapat disaksikan ketika para demonstran itu ramai-ramai menyerbu kantor DPR untukmenyuarakan aspirasi, namun gerakannya terhalang pagar pembatas kawat berduri. Hal inilah oleh para kamerawan dengan kejeliannya membidik di balik kawat berduri atau pagar yang menjadi penghalang itu.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar terkesan lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan alat crane atau jimy jeep sehingga kamera sebagai perekam adegan lebih dinamis pergerakannya hingga dapat menciptakan dinamisasi frame dari runutan cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Artificial  Shot dengan keragaman situasi pengadegannya,  semata-mata untuk mendramtisir suasana pengadegan dari beracktingnya para aktor guna mengetahui kepribadiannya dalam alur suatu cerita film *

 

7. Fast Road Effect Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera sedang merekam adeganpada seseorang lagi bekerja di suatu tempat tertentu. Pengeksekusiannya teknik dimaksudkan untuk mendramatisir suasana. misalkan pekerjaan seorang penyapu jalan raya.

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam  situasi lebih menarik suasana sehingga menghasilkan gambar lebih dramatik terhadap apa yang telah dilakukannya. Pada kesempatan lain obyek menjadi lincah pergerakannya, hal ini dapat disaksikan ketika orang sedang melakukan lari karena dikejar anjing galak. Juga kendaraan bajaj dengan seenaknya nyelonong begitu saja samapai motor orang yang disalipnya itu hampir jauh dan secara spontan pengendara itu teriak diamput…koen iku…

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar terkesan lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan teknik panning di mana kamera mengikuti pergerakan obyek.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Fast Road Effect Shot dengan keragaman situasi pengadegannya, semata-mata untuk mendramtisir suasana untuk menghasilkan kesan pergerakan dalam pengadegan dari beracktingnya para aktor guna menciptakan gambar-gambar dramatik dalam runutan ceritanya *

 

8. Walking  Shot

Teknik pengambilan gambar yang menunjukkan kamera sedang merekam adeganpada seseorang lagi bekerja di suatu tempat tertentu, namun dalam pengeksekusiannya dilakukan secara dinamis dimulai dari kakinya terus berjalan sampai kamera menunjuk pada seseorang. Pengeksekusiannya teknik dimaksudkan untuk mendramatisir suasana. seseorang yang baru saja turun dari mobilnya .

* Fungsi dari teknik ini adalah ingin menyampaikan karakter obyek, dalam  situasi lebih menarik suasana sehingga gambar diambil secara pelahan-lahan pada bagian yang menarik hingga mengenai ke seluruhan badan. Pada kesempatan lain obyek menjadi perhatian dikarenakan ada sesuatu keganjilan dari pekerjaannya . Ketika seorang tentara yang sedang bertempur, tiba-tiba peluruhnya habis, maka dia mengambil peluruh dari sakunya dan ketika dipasangkan ke senjatanya peluruh tersebut jatuh, maka kamera mengfokus pada peluruh yang jatuh itu untuk kemudian bergerak ke atas sampai sang serdadu itu memasangkannya dengan sempurna.

* Dalam implementasinya teknik ini selalu dipadu dengan Type of  Shot dan Camera Angle sesuai dengan keperluan berdasarkan alur cerita yang dipakai, tentunya dari arahan sutradara pada penata kamera.

* Teknik ini akan mencerminkan gambar terkesan lebih dramatik ketika digabungkan juga dengan teknik Moving Camera, misalkan pembuatan adegan tersebut menggunakan teknik Tilt-Up di mana kamera mengikuti pergerakan obyek dari bawah ke atas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Berbagai macam contoh penerapan Walking  Shot dengan keragaman situasi pengadegannya, semata-mata untuk mendramtisir suasanaagar dapat menghasilkan kesan pergerakan dalam pengadegan dari beracktingnya para aktor guna menciptakan gambar-gambar dramatik dalam runutan ceritanya *

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

2 Comments

Leave a Reply