TEKNIK KAMERA ELEKTRONIK 1 (CAMERA ANGLE)

PENERAPAN CAMERA ANGLE DALAM KARYA AUDIO VISUAL

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Sebuah karya Audio visual dalam format apapun, selalu direncanakan dari berbagai macam aspek agar segala apa yang diciptakan dapat menggiring penonton atau pemirsa ke arah penghayatan terhadap rangkaian gambar-gambar dalam dinamisasi frame, dimana pada akhirnya nanti pemirsa melalui proses imajinasi alam pikiranya itu dapat merasakan arti ketegangan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, keharuan, dibalik alur cerita yang ditontonnya. Dari banyakanya aspek perencanaan itu, salah satu kunci utama daya tarik dalam karya audio visual entah itu format film, sinetron, video clip, konser musik atau format apapun juga namanya, adalah dari aspek pengambilan gambar meskipun tanpa menyepelehkan aspek ceritanya. Ada sebuah istilah yang sering kita dengar dan mungkin para pembaca sudah pernah mendengarnya, yaitu dengan kata “Sebuah Gambar lebih banyak bercerita dari pada Seribu Bahasa”. Pernyataan ini lebih menegaskan pada aspek visualisasinya bahwa sebuah gambar lebih banyak menceritakan atau mengilustrasikan suatu peristiwa dari pada harus menceritakan dengan seribu kata-kata ataupun kalimat. Deri penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan,bahwa gambarlah yang akan menggiring persepsi pemirsa terhadap tersajinya suatu realita imajinasi dalam alur cerita film ataupun suguhan program acara dari salah satu stasiun televisi.

Dalam penerapan di lapangan, pengambilan gambar dalam karya audio visual sering disebut dengan istlah Teknik Kamera Elektronik atau dengan menyingkatnya kata yang lebih sederhana dengan sebutan Teknik Kamera. Dalam membahas Teknik Kamera Elektronik terdapat 4  komponen yang terkait diantaranya Camera Angle, Type of  Shot, Type of Character dan Moving Camera. Untuk memaksimalkan penjelasan lebih detil, kali ini akan dibahas hanya Camera Angel saja. Dan penjelasan secara lengkap akan diuraikan sebagai berikut :

A. Pengertiannya
Camera Angle dalam pengertian karya audio visual berati Sudut pengambilan gambar yang menekankan tentang posisi kamera berada pada situasi tertentu dalam membidik obyek. Pernyataan ini menegaskan, bahwa kamera yang dipakai dalam membidik obyel atau dengan istlah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu,menggambarkan tentang keberadaan kamera berada diposisi mana dalam keadaan seperti apa. Pemakaian Camera Angle ini diharapkan dapat menghasilkan suatu peristiwa atau keadaan obyek dalam bidikan kamera agar lebih terlihat menarik dan mampu mengilustrasikan kedinamisan suatu keadaan. Setiap hasil bidikan dalam pandangan kamera mempunyai kandungan makna dan nilai tertentu dari jenis angle yang dipakainya. Secara lengkap tentang jenis-jenis Camera Angle tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

B. Jenis Camera Angle
Berikut ini akan dijelaskan secara rinci tentang teknik Camera Angle diantaranya :

1. Top Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi tepat di atas obyek bidikan, atau setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 12.00.

* Fungsi teknik ini menjelaskan tentang obyek yang dibidik itu dalam keadaan tertekan, misalkan untuk pengadegan obyek dalam keadaan sedih, karena sedang dimarahi oleh ayahnya atau juga seseorang yang lagi diputusin hubungan dengan ceweknya. Pada keadaan yang ramai dimana obyek bidikan banyak akan mengisyaratkan suatu obyek terlihat lebih kecil dan menunjukkan kesan perspektif menurun

* Teknik Top Angle hanya digunakan dalam keadaan tertentu, dan hanya dipakai beberapa kali saja dalam suatu alur cerita. Teknik ini tidak boleh digunakan terlaluu mendominasi dalam suatu babak alur cerita, namun hanya sebagai aksen saja agar gambar yang dihasilkan itu lebih menarik dan terkesan dramatik.

* Teknik Top Agle lebih menarik lagi hasilnya jika dipandu dengan teknik Moving Camera. Misalkan penerapan scene pada pengdegan kejar-kejaran 3 buah pesawat tempur yang saling naik dan turun dalam view antar pesawat, ketika pesawat tertembak sayapnya maka pesawat berputar-putar jatuh ke bawah, saat itulah pengambilan gambar Top Angle dilakukan dengan view penerbang yang berteriak ketakutan dan bumi secara bergantian seperti adegan dalam film “TOP GUN” atau “IRON EAGLE”.

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian TOP ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, baik shhoting di dalam ruangan (INT) maupun di luar ruangan (EXT) *

 

2. High Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi di atas obyek bidikan, atau setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 12.05. sampai 15.00, atau sudut 5 derajat samap 90 derajat. Pengertian lain menyamakan dengan istlah Bird View Angle dengan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera berada diatas obyek dengan kemiringan tertentu dan posisinya bisa berada disekitar atas obyek, bisa kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan sutradara yang mendirectnya.

* Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi tertekan, dan pandangan obyek dalam bidikan kamera terlihat lebih kecil. Teknik ini juga cocok dipakai untuk menerangkan kesan luas seperti menceritakan tentang pemandangan alam misalnya suasana pedesaan dengan kesegaran pepohonannya atau suasana perkotaan yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencangkar langit.

* Penggunaan teknik ini juga hanya sebagai aksen saja dalam menciptakan gambar agar lebih terlihat menarik dan dramatik. Prosentase penggunaan tak lebih dari 5 % saja dari keseluruhan total pengambilan gambar dalam suatu cerita.

* Teknik ini akan menciptakan gambar lebih baik lagi jika digabungan dengan Moving Kamera sehingga obyek terlihat lebih hidup dalam memerankan karakter yang diperankannya. Pemakaian alat untuk menerapkannyapun bermacam macam bisa mengunakan tangga, naik gedung bertingkat, pakai jimyjeep atau Camera Cranes dan juga bisa menggunakan helycopter seperti film-film produksi Amerika yang teknik pengambilan gambarnya sungguh mengagumkan.

 

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian HIG ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana perkotaan dengan gedung-gedung pencangkar langit yang terlihat kecil dan meluas serta kerumunan penonton yang berjubel mencerminkan detil obyek dalam bidikan kamera *

 

3. Eye Level Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi di sejajar dengan pandangan mata, baik berdiri maupun ketika duduk antara obyek dan kamera dkedudukannya sejajar, atau setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 03.00/15.00 bisa juga dengan pukul 09.00/21.00. Pengertian lain menyamakan dengan istlah sudut 90 derajat dengan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera berada sejajar dengan obyek dalam pandangan mata secara horizontal, dimana dalam praktek pengambilannya bisa berada di kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan sutradara yang mendirecnya.

* Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi dalam keadaan normal atau kegiatan seperti sehari-hari dilakukan. Teknik ini juga cocok dipakai untuk menerangkan kegiatan apa saja dalam dari obyek yang dibidiknya, misalnya orang yang lagi menatap sesuatu, orang yang lagi melakukan penjamuan makan malam serta kegiatan-kegiatan sehari-hari lainnya.

* Dalam implementasinya, penggunaan teknik ini sangat mendominasi dalam deretan freme yang mengilustrasikan suatu cerita. Prosentase penggunaannya lebih dari 80 % dari total durasi yang diceritakan, dengan berbagai macam bentuk frame yang ditampilkan. Pada kepentingan lain, penggunaan teknik ini juga bisa dipadukan dengan teknik moving camera entah dari Top Angle maupun dari Low Angle bergerak secara perlahan hingga kamera berhenti tepat sejar dengan pandangan mata obyek.

 

 

 

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian EYE LEVEL ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana pemandangan perumahan, orang menatap sesuatu serta obrolan dimeja makan adalah cerminan kegiatn normal dalam kehidupan sehari-hari *

 

4. Low Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi di bawah obyek bidikan, atau setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 15.05. sampai 17.50, atau sudut 95 derajat samap 170 derajat. Pengertian lain memberikan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera berada dibawah obyek dengan sudut kemiringan tertentu ke arah bawah dan posisinya bisa berada disekitar bawah obyek, bisa kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan sutradara yang mendirectnya.

* Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi berkekuatan tinggi terlihat perkasa, dan pandangan obyek dalam bidikan kamera terlihat perspektif yang meninggi hingga sang obyek seperti sorang jagoan yang macho. Teknik ini juga cocok dipakai untuk menerangkan genre film atau sinetron/FTV horor, action dimana pengaplikasiannya menunjukkan detil obyek secara jelas dengan karakter yang dibawahnya. misalnya suasana Suasana yang menceritakan 2 orang lagi bertengkar, dan si tokoh yang menjadi jagoan akan lebih kuat kika ekspresi kemarahannya diambil secara jelas dengan teknik Low Angle.

* Penggunaan teknik ini juga hanya sebagai aksen saja dalam menciptakan gambar agar lebih terlihat menarik dan dramatik dilhatnya. Prosentase penggunaan tak lebih dari 5 % saja dari keseluruhan total pengambilan gambar dalam suatu alur cerita yang difilmkan *

* Teknik ini akan menciptakan gambar lebih baik lagi jika digabungan dengan Moving Camera sehingga obyek terlihat lebih hidup dalam memerankan karakter yang diperankannya. Pemakaian alat untuk menerapkannyapun bermacam macam bisa mengunakan tangan sambil jangkok, atau dengan menggunakan dolly Rell Camera,jimyjeep atau Camera Cranes seperti film-film produksi Amerika yang teknik pengambilan gambarnya sungguh mengagumkan.

 

 

 

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian LOW ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti terlihat salah satu seorang juru kamera yang sedang melakukan pengambilan gambar. Film Coboy produksi dari Amerika mengilustrasikan dua orang yang siap tempur dalam suatu arena *

 

5. Frog Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi di sejajar dengan alas dimana posisi kamera berdiri dalam ketingihan kurang lebih 30 cm. Pengertian lain menyamakan dengan penjelasan bahwa pengambilan teknik ini dilakukan dengan posisi kamera berada sejajar alas kamerah misalnya tanah, lantai ataupun meja dimana obyek yang di bidik berada diatasnya. Dalam praktek pengambilannya teknik ini bisa berada di kiri, kanan, depan maupun dibelakang obyek tergantung dari permintaan sutradara yang mendirectnya.

* Fungsi teknik ini adalah untuk menciptakan karakter obyek menjadi dalam keadaan lebih jelas. Teknik ini juga cocok dipakai untuk menerangkan kegiatan apa saja dalam dari obyek yang dibidiknya, misalnya mobil yang melesat di jalan raya, Tampilan binatang dengan menunjukkan detil karakter dari obyek yang dibidik agar terlihat dramatis.

* Dalam implementasinya, penggunaan teknik ini hanya sebagai pelengkap untuk mevisualisasikan obyek, sehingga pengambilan gambarnya hanya sebagian kecil saja dan prosentase penggunaannya tak lebih dari 3 % dari total durasi yang diceritakan, dengan berbagai macam bentuk frame yang ditampilkan. Pada kepentingan lain, penggunaan teknik ini juga bisa dipadukan dengan teknik moving camera entah dengan menggunakan doly rell camera dengan istilahnya Track In, dari kejauhan menuju kedekatan obyek.

 

 

 

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian FROG ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti suasana keceriahan seorang ayah kepada anaknya yang lagi bersenang-senang di depan halaman rumahnya. Pandangan rendah adegan mobil yang melesat di jalan raya atau suasana sepi jalan raya serta tampang dari seekor anjing penjaga rumah yang sedang melet-melet itu *

 

6. Bottom Angle
Teknik pengambilan gambar oleh juru kamera yang memposisikan kamera berada dalam posisi tepat di bawah obyek bidikan, atau setara dengan arah jarum jam menunjuk angka pukul 06.00. atau 18.00.

* Fungsi teknik ini menjelaskan tentang obyek yang dibidik itu dalam keadaan diatas, misalkan untuk pengadegan obyek dalam perjalanan di sebuah hutan disampingnya terdapat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Untuk mendapatkan gambar yang dramatik maka perlu adanya visualisasi pohon yang dilihat oleh tokoh karena ada kapal terbang yang melewati di atas kepalanya, sehingga secara otomatis tokoh akan melihat ke atas. Pada keadaan tertentu bidikan dari teknik ini akan berkesan menimbilkan perspektif yang dalam dengan suasana meninggi.

* Teknik Bottom Angle hanya digunakan dalam keadaan tertentu, dan hanya dipakai beberapa kali saja dalam suatu alur cerita. Teknik ini tidak boleh digunakan terlaluu mendominasi dalam suatu babak alur cerita, namun hanya sebagai aksen saja agar gambar yang dihasilkan itu lebih menarik dan terkesan dramatik.

* Teknik Bottom Agle lebih menarik lagi hasilnya jika dipandu dengan teknik Moving Camera. Misalkan penerapan scene pada pengadegan kejar-kejaran 3 buah pesawat tempur yang saling naik dan turun dalam view antar pesawat,dalam misisnya membom musuh yang terdampar di dalam hutan, ketika pesawat berada di atas, maka obyek yang juga seorang tentara itu akan menembakinya secara memberondong dengan memutar badannya mengikuti pergerakan pesawat tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

* Pengadegan yang menunjukkan pemakaian BOTTOM ANGLE dalam beberapa frame pada saat melakukan shooting dilapangan, seperti terlihat salah satu pesawat tempur yang melesat di atas awan, pepohonan yang terlihat mengecil membentuk perspektif yang meninggi dalam view orang yang melihat pohon tersebut di bawahnya, ini semua dapat dilihat pada film-film hasil produksi dari Amerika yang menggunakan teknologi tinggi itu.

 

* TINGGALKAN KOMENTAR ANDA…

Silakan utarakan opini Anda terhadap tulisan ini, guna melatih dan merangsang pemikiran hingga melahirkan suatu pendapat. Komentar yang akan disampaikan hendaknya berkaitan dengan topik permasalahan yang diulas… dan terima kasih sebelumnya… atas kunjungan Anda di Blog ini serta menggoreskan opini lewat komentar…

 

Daftar Pustaka :

* Beberapa foto diunduh dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

Mamer, Bruce. 2009. Film Production Technique : Creating Accomplished Image. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Zettl, Herbert. 2004. Television Production Handbook. Belmont, California : Wadsworth Cengage Learning.

Ward, Peter. 2000. Digital Video Camerawork. Jordan Hill, Qxford : Focal Press An Imprint Butterworth-Heinemann.

Jacobson, Mitch. 2010. Mastering Multi Camera Techniques  : From Pre Production to Editing and Deliverables. Kidlington, Oxford : Focal Press is an imprint of Elsevier.

Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York : Arno Press Fourt edition.

Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press, revised edition

Sumarno, Marselli. 1996. Apresiasi Film. Jakarta : Grasindo

Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film. Jakarta, Konfiden

Atmaja, Tony. 2002. Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era. Jakarta

Baksin, Askurifal. 2003. Membuat Film Idie itu gampang. Bandung : Kartasis

Sugiarto, Atok. 2006. Indah Itu Mudah, Buku Paduan Fotografi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Bayu Tapa Brata, Vicent. 2007. Videografi dan Cinematografi Praktis. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo.

TM, Handry. 2006. Yok Bikin Film Gito Loh. Jakarta : Laba-Laba Publisher.

 

 

Posted in FILM | Tagged , , | 1 Comment

Leave a Reply