TELEVISI DAN PROGRAM ACARA FIKSI

TELEVISI DAN PROGRAM ACARA FIKSI

Oleh : Teguh Imanto

teguhs blog logo fin

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini secara tidak langsung terkontiminasi dari eksperimentasi pemikiran manusia tentang peran teknologi dalam menciptakan peradaban dunia, dimana kemunculan berawal dari sejak meletusnya revolusi industri. Berperannya teknologi dalam kehidupan manusia, ternyata membawa dampak yang cukup besar bagi perkembangan pergolakan pemikiran manusia hingga melahirkan pradigma baru dan sekaligus menciptakan peradaban yang lebih tinggi bagi masa depan kehidupan   masyarakat dunia. Suadah tak dapat dihitung lagi, berapa banyak hasil penemuan teknologi yang dapat dirasakan oleh masyarakat termasuk diri kita walaupun tanpa sadar kita tak peduli memikirkannya. Apapun teknologi yang tercipta adalah hasil dari eksperimentasi pergolakan pemikiran hingga menghasilkan suatu teori untuk kemudian dilakukan pengimplementasian dilapangan sampai akhirnya dapat menghasilkan suatu teknologi terapan, dimana nantinya akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dari berbagai belahan dunia. Dampak dari hal ini, bisa dirasakan melalui berkembangnya berbagai macam perangkat teknologi dalam kehidupan di masyarakat dewasa ini dan salah satunya adalah teknologi dari media komunikasi. Sejak dicanangkaknya revolusi informasi selama dua dekade, manusia semakin dimudahkan untuk mendapatkan  informasi secara aktual dan faktual dari berbagai media, baik berupa media cetak maupun media elektronik. Televisi sebagai salah satu contoh media komuniakasi massa yang berbasis elektronik, ternyata mendapatkan dampak yang paling besar dari perkembangan teknologi informasi. Keberadaan televisi telah mendapatkan tempat di hati masyarakat sebagai salah satu media komunikasi yang memberikan informasi aktual dan faktual serta hiburan dimana proses penyebaran informasi tersebut merupakan penyebaran paling cepat daripada media sebelumnya yaitu media cetak. Keberadaan televisi hingga kini dianggap sebagai salah satu media komunikasi elektronik yang paling banyak digemari oleh masyarakat, hal ini dikarenakan bahwa karakter televisi dianggap satu-satunya media informasi yang menyajikan suatu peristiwa dalam deretan dinamisasi frame hingga pemirsanya bisa terbius dan terprovokasi terhadap isi tayangan yang divisualisasikan. Tidak dapat dibohongi, bahwa si kotak kecil berintelijen tinggi ini telah menjadi suatu kebutuhan hidup masyarakat, mulai dari perkotaan hingga sampai ke pedesaan semua merasa membutuhkannya.

Dewasa ini keberadaan televisi sebagai satu-satunya penyebar informasi tercepat itu telah menjangkau hampir keseluruh belahan dunia. Kecepatan informasi yang disampaikan itu berkat adanya teknologi canggih berupa “satelit komunikasi”. Teknologi inilah yang dipakai oleh dunia penyiaran televisi untuk menyampaikan suatu pestiwa penting kepada masyarakat dengan hitungan detik. Inilah yang pernah dicanangkan oleh Marshal Mac Luhan pada pertengahan abad modern, tentang konsep Global Village  telah menjadi suatu kenyataan. Konsep tersebut mengisyaratkan bahwa dunia ini terlihat dekat seperti dalam suatu genggaman tangan, dimana segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini dapat berkomunikasi “tanpa batas”, pandangan ini didasarkan pada kenyataan  bahwa teknologi yang terlahir membawa arus informasi dan komunikasi dunia melanda ke semua Negara tanpa bisa dibendung lewat jaringan-jaringan Cyber virtual. Teori tentang Global Village  akan mematahkan konsep sebelumnya, dimana sejakawalnya televisimerupakan barang yang langkah dan mahal, oleh karena itu sasarannyapun terbatas pada kalangan tertentu saja. Namun keberadaan televisi sasat ini dapat dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa ada batasan usianya. Melihat antusiasnya masyarakat menikmati siaran televisi, maka para pengelolah penyiaran televisipun ikut berbenah untuk merebut pangsa pasarnya dengan penyajikan acara-acara yang dapat mempengaruhi pemirsanya, hingga terlahirnya siaran-siaran televisi akan selalu memanjakan bagi semua orang. Jam penayangannyapun sudah tidak ada batasan, bahkan ada beberapa stasiun televisi yang mengudara sampai 24 jam siaran. Oleh karena itu siaran-siaran televisi bisa ditonton kapan saja, pada saat-saat luang seperti saat liburan atau saat sehabis bekerja, bahkan dalam suasana bekerjapun terkadang orang-orang masih menyempatkan  diri untuk menonton program-program televisi, hal tersebut dikarenakan selain memberikan informasi secara aktual dan faktual, televisi juga menyajikan acara yang menghibur sehingga masyarakat selalu merindukannya.

Sebuah lembaga penyiaran televisi, tentunya mempunyai program-program siaran yang akan dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Tujuan diproduksinya sebuah program acara televisi antara lain sebagai materi acara dalam melangsungkan terselenggaranya siaran televisi, dimana keberadaanya merupakan sebuah media ruang publik yang berfungsi menyebarkan informasi secara aktual dan faktual serta sebagai sarana  hiburan yang murah dan meriah bagi  masyarakat luas.  Secara umum, lembga penyiaran televisi mempunyai klasifikasi program acaranya yaitu dibagi menjadi tiga jenis diantaranya  program acara fiksi, program acara non fiksi dan program acara berita. Dari ketiga jenis tersebut, masing-masing jenis mempunyai bentuk atau format sendiri-sendiri beserta karakteristiknya. Misalkan Produk dari program acara fiksi sendiri antara lain terdiri dari film serial, film televisi (FTV), film pendidikan, film dokumenter dan Sinetron seri. Untuk program acara non fiksi sendiri menggarap variety show, kuis, talkshow, reality show, musik dan lawak. Sedangkan untuk program berita terdiri dari paket berita, dialog, diskusi, investigasi dan feature.

Suguhan berbagai macam program acara televisi dengan kekarakteristikannya itu, akan membuat orang merasa terhibur dan mau untuk meluangkan waktunya duduk didepan televisi menikmati tayangan sambil minum kopi disertai dengan hisapan cigaret kretek “Gudang Gram Surya 16″, setelah bergelut dengan rutinitas seharian penuh. Namun perlu diwaspahi, bahwa apa yang telahdisajikan oleh lembaga penyiaran televisi pada masyarakat dan dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh, merubah pola hidup seseorng baik yang positif maupun negatif dalam kehidupan masyarakat, siapapun sasarannya entah anak-anak atuupun orang dewasa. Dampak tayangan negatif yang membahayakan bagi psikologi manusia, perlu dicermati dan diapresiasi oleh kalangan orangtua ataupu remaja. Betapa tidak kalau kita amati dan cermati,  mutu program acara dari beberapa stasiun televisi, belakangan ini konsep program acara yang dibuatnya kurang mendidik, sehingga menimbulkan pengaruh yang cukup besar terutama pada kalangan remaja dan anak-anak. Suatu fakta yang terjadi dewasa ini adalah banyak perubahan pola hidup konsumtif, glamour, intanis di lingkungan remaja baik perkotaan maupun pedesaan dan kesemuanya itu hasil dari peniruan mereka terhadap suatu cerita yang ditayangkan oleh televisi. Fakta lain menggambarkan, suatu tindak kekerasan yang dilakukan anak kecil kepada temannya, hal itu terjadi dikarenakan meniru adegan film dalam televisi. Dari beberapa fakta tersebut, banyak kalangan yang mengkhawatirkan  akan perkembangan mutu acara program televisi yang tidak memperhatikan rambu-rambu “kode etik” dan diluar kontol oleh pihak KPI,  sehingga hasil tayangannya akan berdampak negatif bagi kalangan pemirsa. Dampak dari hal itu, maka perlu diupayakan adanya suatu apresiasi atau diskusi yang membahas tentang program acara televisi dari berbagai macam profesi, sehingga nantinya akan terlahir suatu program acara terobosan baru yang mensinergikan berbagai macam profesi dalam suatu program acara yang baik, baik dikaji dari aspek pengemasannya maupun dari aspek isinya yang mencerminkan pesan positif dan akan menjadi magnit pencerahan berpikir dalam kehidupan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Ketiga jenis program acara televisi terdiri dari program acara kategori berita, kategori non fiksi dan kategori fiksi dengan berbagai macam format pengemasannya dari masing-masing stasiun televisi akan bertempur memperebutkan hati pemirsanya. Apapun bentuk yang ditampilkan kesemuanya itu akan memanjakan hati para pemirsa, pada kenyataanya acara tersebut memberikan suatu informasi penting dan sarana hiburan bagi masyarakat. *

 

Berikut ini akan penulis berikan penjelasan dari klasifikasi 3 jenis program acara televisi diantaranya terperinci sebagai berikut :

 

1 Program Acara Fiksi

Diantara sekian banyak program-progran tayangan televisi yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi secara meluas itu, program acara fiksilah yang menduduki peringkat tertinggi di hati penonton. Dengan segudang cerita dalam kemasan beragam genre cerita sinetron, masyarakat dimanjakan dengan pengadegan beraktingnya para artis didepan kamera hingga penonton terprovokasi dan terpengaruh terharu, marah, menangis, mencekam dan mengerikan lewat alur cerita yang ditontonnya. Cerita-cerita dalam kemasan sinetron dari siaran televisi sedikit banyak telah mempengaruhi sugesti pemirsa lewat pengadegan dari para artis idolanyaitu, sehingga tanpa disadari masyarakat menjadi ketagihan akan cerita-cerita selanjutnya. Bahkan beberapa pengadegan yang ada dalam cerita tersebut telah dicontoh sebagaian orang hingga mengepidemi dalam lingkungan masyarakat serta apa yang mereka lakukan terkadang menimbulkan pertikaian opini masyarakat hingga pada akhirnya melahirkan suatu polemik berkepanjangan. Dalam perjalanannya cerita-cerita sinetron sajian beberapa stasiun televisi telah mengalami pergeseran kualitas, hal ini disebabkan mutu cerita berputar-putar dan dialognya bertele-tele serta pengeksekusiannya secara kejar tayang hingga mengabaikan kualitasnya, menyebabkan beberapa penonton mulai jenuh melihatnya. Dampak yang terjadi adalah target sasaran terbelah menjadi dua, ada kelompok yang membutuhkan daya nalar tinggi dalam mencerna cerita dan ada pula sekedar sebagai hiburan iseng belaka. Terbelahnya pemirsah televisi terhadap tayangan cerita sinetron tersebut, sedikit banyak mempengaruhi tingkat rating yang menjadi andalan stasiun televisi dalam menacari pasokan iklan.

Istilah program acara Fisik itu sendiri sebelumnya dipopulerkan oleh TVRI melalui beberapa program acaranya yang mengupas tentang romantika kehidupan yang sering disebut dengan istilah “Drama”, karena drama tersebut disiarkan dan menjadi sebagai salah satu mata acara televisi, maka kalangan TVRI menyebutnya dengan istilah “Drama Televisi”. Program ini mengalami kesuksesan besar dalam penayangannya dan sangat digandrungi oleh masyarakat Indonesia pada waktu itu sekitar tahun 80-an. Kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap tayangan drama televisi ini, dikarenakan televisi pada waktu itu merupakan sarana hiburan yang dilihat secara gratis dan TVRI merupakan satu-satunya media elektronik yang berbasis pada gambar bergerak itu telah menjadi raja dan menguasai target audiennya tanap ada persaingan. Tentu saja kondisi peradaban budaya Indonesia pada ira ini, belum begitu terkontiminasi dengan gencarnya arus globalisasi seperti sekarang ini, sehingga konsep pembuatan alur ceritanya masih seputar masalah kesederhanaan hidup yang menjadi ciri budaya Indonesia waktu itu.  Contoh dari program acara drma televisi hasil pengemasan dari TVRI itu dapat dilihat dalam beberapa serial diantaranya “Keluarga Marliah Hardi” yang dibintangi oleh Awaludin sebagai Ayah dan Marlia Hardi sebagai Ibunya. Serial lain seperti ACI kepanjangan dari “Aku Cinta Indonesia” yang berceritakan tentang petualangan 3 orang anak SMP yang mempertahankan budaya Indonesia terhadap mulainya budaya barat masuk ke Indonesia dan waktu itu masyarakat Indonesia terutama anak muda mulai demam dengan lagu-lagu barat seperti disco, breakdances, rock dan sejenisnya, sehingga pola hidup kebarat-baratan mulai meracuni masyarakat. Kesuksesan acara drma televisi yang ditayangkan oleh televisi ini, dilirik oleh Asrul Sani untuk mengangkat novel Siti Nurbaya ke layar kaca dengan dibintangi Novia kolopaking dan HIM Damsyik yang terkenal sebagai ikonnya Datuk Maringgi itu. Program drama televisi makin berkibar ketika Ali Shahap menggarap serial i “Rumah Masa Depan” yang dibintangi oleh Hamid Arif (Kakek), Woly Sutinah atau terkenal dengan sebutan Mak Wok (Nenek), Dedy Sutomo (Bapak Sukri), Aminah Cendrakasih (Ibu Sukri) serta kedua anaknya yaitu Saptian Dwi Cahyo (Bayu) dan Andi Ansi (Gerhana). Sinetron ini sempat mengalami kesuksesan besar hingga masyarakat selalu mengikutinya yang ditayangkan tiap hari minggu pagi, termasuk penulis menyenanginya ketika itu. Akibat animo masyarakat yang cukup besar dalam menyaksikan acara drama televisi, maka TVRI selalu memproduksi serial-serial baru berikutnya hingga muncul “Dokter Sartika”, “Keluarga Cemarah”, “Cendela Rumah Kita”, “Sengsara Membawa Nikmat” dan “Losmen”. TVRI pula yang mempopulerkan nama  Sinetron kepada masyarakat berdasarkan pengembangan istlah dari Drama. Kata Sinetron sendiri berarti (sinema elektronik) adalah istilah yang mulai diperkenalkan pada era TVRI masi jaya-jayanya sebagai media massa televisi sekitar akhir tahun 80-an dan sebagai pengganti istilah untuk serial televisi atau film yang dibuat dengan tujuan untuk keperluan program tayangan acara televisi serta  bahan baku yang digunakan adalah non pita film siloloid tetapi dengan mengunakan kamera video.  Program acara ini dikemas oleh TVRI dalam acaranya “Sepekan Sinetron“ yang ditayangkan pada moment-moment tertentu misalnya memperngati hari ulang tahun TVRI atau perayaan Tahun Baru. TVRI juga banyak menghasilkan sinetron-sinetron seri yang bermutu dan banyak digemari masyarakat, yang waktu itu masih disebut “ Drama Serial “, dan harap maklum mengapa masyarakat menyukai TVRI , dikarenakan TVRI merupakan satu satunya hiburan gratis serta tanpa ada persaingan berarti seperti sekarang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kesukses TVRI dalam mengemas acara serial Sinetron seperti “Keluarga Marlia Hardi”, “Aku Cinta Indonesia”, “Siti Nurbaya”, “Rumah Masa Depan”, “Dokter Sartika” dan “Losmen”, merupakan upaya TVRI memberikan hiburan pada masyarakat dan memberikan suatu pencerahan hidup dengan menampilkan pesan moral lewat beberapa tayangannya. Program ini sebagai sarana bentuk apresiasi budaya bangsa lewat media masa televisi untuk menghadapi masuknya serangan budaya asing masa itu. *

 

Pada Era masuknya Modernisasi dan meletusnya Reformasi Pemerintahan dan sekaligus merubah pola hidup bangsa, maka dalam penyiaran televisi tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah saja, akan tetapi sudah mengalami perubaha kultur hingga penyiaran televisi diserahkan pada publik dengan mengacu pada aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan dengan undang-undang penyiaran. Berdasarkan Undang-undang penyiaran itulah, maka memasuki tahun 90-an muncul bermacam-macam kelompok penyiaran televisi swasta diawali dengan RCTI kemudian satu tahun berikutnya muncul SCTV dan berkembnglah penyiaran penyiaran televisi berikutnya seperti TPI (sekarang MNC), Indosiar, ANTV, Metro TV, Global TV, Lativi (sekarang TV ONE) serta televisi swasta lainnya tersebar di seluruh Indonesia yang mengudara secara lokal berdasarkan jangkauan tingkat propinsi. Berkaitan dengan keberhasilan dari TVRI menayangkan cerita Sinetron sebelumnya itu, maka Televisi swasta ramai-ramai memperbaruhi konsep cerita dari yang pertama kali cerita sinetron dipopulerkan oleh TVRI itu. Perbaruan diarahkan pada konsep alur cerita yang tidak lagi menonjolkan “kesederhanaan hidup” namun sebaliknya dengan menyodorkan tema-tema yang mengumbar tentang “kegalmouran hidup remaja”, hal itu didasarkan dengan masuknya arus globalisasi yang intensitasnya tak terbendung lagi sehingga secara tidak langsung mempengruhi pradigma masyarakat . Tidak heran lagi dewasa ini sinetron yang berkembang mengupas tentang suatu permasalahan hidup pada zaman reformasi yang serba kebablasan ini hingga terkadang cerita-cerita yang disodorkan melawan arus dari norma-norma kehidupan bangsa yang menjunjung tinggi nila-nilai adat ketimuran itu. Pengembngan sinetron tersebut seperti sinetron yang berkonsepkan tentang keglamouran hidup ditayangkan oleh RCTI dan SCTV sementara TPI atau MNC mengejar dengan tema agama dan komedi betawi dan Indosiar mengacu pada kisah lama atau legenda dengan mengonstruksi cerita seenaknya saja dengan mengatas namakan kreatifitas tanpa ada kuatnya argumentasi mengenai konsep penciptaannya secara benar dalam dunia cinematografi. Segala macam tayangan cerita tersebutpada dasarnyaadalah berupaya menghibur pemirsa lewat versinya masing-masing, hingga penonton puas dan fanatik dengan acara tersebut, dimana nantinya akan menguntungkan dari pihak stasiun televisi akibat dibanjiri dengan kontrak iklan yang memasangnya pada program acara tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Stasiun RCTI dan SCTV menyuguhkan dengan tema masalah keglamouran hidup sementara TPI kala itu dab MNC sekarang asyik menyuguhkan cerita-cerita masalah kehidupan berorientasi pada masalah keagamaan dan komedi budaya ala betawi sedangkan Indosiarmemancing pemirsa dengan tema-tema legendah rakyat. *

 

Beberapa stasiun televisi mengakali situasi ini dengan menyodorkan sebuah cerita lepas yang jalan ceritanya habis sekali tayang. Diluar dugaan program ini mengalami kesuksesan dalam merebut hati pemirsa, hingga SCTV mengangkatnya ”FTV sebagai Branding Program Cerita Fiksi” dalam program siarannya. Kehadiran Film Telvisi sebagai salah satu program unggulannya itu, merupakan solusi dari keresahan pemirsa atas bertele-telenya alur cerita sinetron seri hingga membuat jengkel para pemirsa terhadap mutu tayangan cerita tersebut. Apa yang dirintis oleh SCTV tentang FTV itu, tidak begitu saja menyodorkan tayangan pengganti sinetron seri atau serial, namun perlu waktu panjang mempopulerkan cerita lepas dalam program siaranya seperti melaui program Gala Sinema yang telah diputar sebelumnya. Kini ”FTV” telah menjadi sebuah ”Branding Program Cerita Fiksi” SCTV yang mengalami kesukses besar dalam menyajikan sebuah tayangan hiburan di hati masyarakat hampir setiap hari FTV ditayangkan oleh SCTV dari jam 10.00. WIB, 13.00.WIB dan 22.00.WIB. Dalam rangka ulang tahunnyapun SCTV menyelenggarakan pentas sinema dengan judul ”20 Sinema Wajah Indonesia” sebagai wujud pengapresiasian masalah sinema di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* FTV yang dipopulerkan oleh SCTV sebagai penganti kejenuhan sinetron seri dan serial itu, telah mengalami sukses besar dan mendapat respon dari masyarakat luas hingga SCTV memberikan penghargaan tersendiri terhadap artisnya melalui FTV Awards dan pengapresiasian sinema melalui program Sinema Wajah Indonesia. *

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

* Beberapa foto di share dari situs-situs terkait sesuai topik permasalahan semata-mata untuk “Kepentingan Misi Sosial” dalam bentuk pembelajaran maya berbagi pengetahuan pada sesama, Bukan untuk  “Kepentingan Bisnis” *

 

1.   Ben Sawyer, Dave Greely. 2004. Online Broadcasting Power. Muska & Lipman

2.   Jones, Frederic. 2002. Digital Video : Haw to do Everything with. Ma  Graw Hill. Osbone

3.   Dale, Edgarv. 1991. How to film appreciated Motion Pictures. New York, : Arno Press Fourt edition

4.  Monaco, James. 1981. How to Read a Film. New York : Oxford University Press. revised edition

5.   Wurtzel, Alan & Stephen R. Acker.1989. Teleision production. Trird Edition. Mc Grawhill. Inc

6.   Yuri, Gabriel.1973. Thinking About Television, London : Oxford University Press

7.   Fred Wibowo. 2007. Teknik Produksi program Televisi. Yogyakarta : Pinus Book Publisher

8.   Dennis, Fitryan G. 2008. Bekerja Sebagai News Presenter, Jakarta : Penerbir Erlangga

9.   E.B. Surbakti. 2008. Awas Tayangan Televisi. Jakarta : PT. Elek Media Komputindo

10. Suprapto.MS, Tommy. 2006. Berkarier di Bidang Broadcasting. Yogyakarta : Media Pressindo

11. Labib, Muh. 2002. Potret Sinetron Indonesia : Antara Realita Virtual dan Realitas Sosial. Jakarta : MU3

12. Riswandi. 2009. Dasar-Dasar Penyiaran. Jakarta : Graha Ilmu

13. Mulyana, Dedy, Idi Subandi Ibrahim. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung : Remaja Rosda Karya

14. Arifin, Eva. 2010. Broadcasting Tobe Broadcaster. Yogyakarta : Graha ilmu

 

Posted in TV BROADCASTING | Tagged , , | 4 Comments

Leave a Reply